NEW YORK - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengajak masyarakat internasional membuka jalur baru menuju terwujudnya dunia tanpa senjata nuklir pada Selasa (29/9). Seruan tersebut disampaikan Guterres dalam pertemuan tingkat tinggi untuk memperingati Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir. Ia menegaskan bahwa pelucutan senjata nuklir merupakan kewajiban hukum yang mengikat berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi, bukan bentuk kemurahan hati. "Seiring dengan peringatan hari penting ini, tibalah waktunya untuk merintis jalan baru," ujarnya. Guterres mendorong negara-negara pemilik senjata nuklir untuk kembali membuka ruang dialog guna mencegah penggunaan senjata nuklir dalam bentuk apa pun. Menurutnya, mempertahankan tren pengurangan persenjataan global yang telah berlangsung selama beberapa dekade diperlukan untuk menghindari munculnya kembali perlombaan senjata nuklir. Ia juga menyerukan Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk merundingkan kerangka kerja baru yang dapat menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New Strategic Arms Reduction Treaty) yang masa berlakunya telah berakhir. Selain itu, seluruh negara pemilik senjata nuklir diminta mengurangi ketergantungan terhadap senjata tersebut dalam kebijakan keamanan masing-masing. "Perangkat kematian tersebut tidak boleh menentukan nasib umat manusia. Dunia yang terbelah tidak dapat dijadikan dalih untuk tidak bertindak. Kita mengetahui bahayanya dan kita menyadari konsekuensinya. Kita tahu bahwa kita harus mengerahkan segala upaya untuk mengubah haluan: menggantikan ancaman dengan dialog, menggantikan perlombaan senjata dengan pengendalian senjata, menggantikan kemandekan dengan tindakan nyata," tutur Guterres. Menurut Guterres, kondisi persenjataan nuklir dunia saat ini menunjukkan sejumlah perkembangan yang mengkhawatirkan. Persenjataan nuklir sedang diperluas dan dimodernisasi, sementara pernyataan mengenai kekuatan nuklir semakin sering terdengar. Kemajuan teknologi, lanjutnya, juga meningkatkan risiko kesalahan maupun salah perhitungan. Pada saat yang sama, sistem pengamanan yang selama puluhan tahun dibangun untuk mengurangi berbagai ancaman tersebut justru menghadapi kemunduran. "Umat manusia telah hidup di bawah bayang-bayang nuklir selama lebih dari delapan dekade. Kita harus memastikan generasi mendatang tidak mengalami hal itu. Mari kita memilih masa depan yang bebas dari senjata nuklir," ujar Guterres.