HAIKOU - Upaya Hainan, provinsi paling selatan Tiongkok, menuju pembangunan rendah karbon dilakukan melalui berbagai sektor, mulai dari pengolahan sampah menjadi energi, pengurangan plastik sekali pakai, hingga renovasi kawasan perkotaan dan pemanfaatan kredit karbon. Salah satu penerapannya terlihat di sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Dengan menggerakkan tuas secara perlahan, operator mengendalikan capit berukuran besar untuk mengambil lebih dari lima ton sampah dalam sekali angkat. Volume tersebut cukup untuk menghasilkan listrik yang digunakan sebuah rumah tangga pada umumnya selama satu tahun. Sampah yang terkumpul kemudian dibawa menuju insinerator untuk dibakar pada suhu lebih dari 850 derajat Celsius. Fasilitas di Hainan itu setiap hari mengolah sekitar 4.200 ton sampah rumah tangga dan menghasilkan sekitar 1,7 juta kilowatt-jam listrik. Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan kebutuhan listrik lebih dari 200.000 rumah tangga dalam satu hari. Pengolahan sampah menjadi energi merupakan salah satu bagian dari eksperimen pembangunan rendah karbon di Hainan, wilayah yang dikenal memiliki laut biru, hutan tropis, dan paparan sinar matahari yang melimpah. Sejak 2021, sebanyak 16 tempat pembuangan akhir sampah rumah tangga telah ditutup di provinsi tersebut. Dengan delapan PLTSa yang kini beroperasi, Hainan berhasil mencapai kondisi tanpa penimbunan sampah rumah tangga yang belum diolah. Kebijakan itu sekaligus menghemat lahan dan mengurangi emisi metana, salah satu gas rumah kaca yang dihasilkan dari tempat pembuangan akhir. Selain mengolah sampah setelah dihasilkan, pemerintah Hainan juga mendorong pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Salah satu fokusnya adalah penggunaan kantong plastik. Penerapan kebijakan tersebut dapat dilihat di sebuah pasar hasil pertanian di Haikou. Lebih dari 300 kios di pasar itu dilengkapi catatan digital yang merekam lokasi pembelian kantong belanja. Sistem tersebut kemudian memberikan kode berwarna hijau, kuning, atau merah setiap hari untuk menunjukkan apakah kantong yang digunakan memenuhi ketentuan lingkungan. Hasilnya, sejak sistem digital mulai diterapkan pada April lalu, proporsi penggunaan kantong yang sepenuhnya dapat terurai secara hayati (biodegradable) meningkat tajam, dari 18 persen menjadi 81 persen. Pada awal penerapan, kebijakan penggunaan kantong biodegradable tersebut sempat diragukan oleh para pedagang. Bahkan, beberapa pedagang dilaporkan menyembunyikan kantong yang tidak memenuhi ketentuan ketika pemeriksa datang. Salah seorang pedagang daging bermarga Wu, yang telah bekerja di pasar tersebut selama tujuh tahun, juga sempat memiliki keraguan serupa. Dia awalnya beranggapan bahwa kantong yang lebih ramah lingkungan akan membuat biaya menjadi lebih tinggi. "Baru setelah membandingkannya, saya menyadari bahwa kantong biodegradable di sini lebih murah daripada yang dijual di tempat lain atau secara daring, dan juga lebih tahan lama," kata Wu. Langkah di pasar tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang diterapkan dalam skala provinsi. Hainan menjadi daerah setingkat provinsi pertama di Tiongkok yang melalui peraturan perundang-undangan memberlakukan larangan di seluruh wilayah terhadap produk plastik sekali pakai yang tidak dapat terurai secara hayati. Hingga akhir 2025, produk alternatif untuk menggantikan barang-barang plastik yang dilarang telah mencapai rata-rata 80,2 persen di sejumlah lokasi utama. Tempat-tempat tersebut meliputi sekolah, rumah sakit, pasar swalayan, dan pasar hasil pertanian. "Sebuah 'pulau tanpa sampah' bukan sekadar tentang pengelolaan sampah, melainkan merupakan transisi hijau yang mencakup seluruh operasional sebuah kota," kata Wang Chenye, wakil kepala Akademi Ilmu Lingkungan Hainan. Eksperimen rendah karbon lainnya berlangsung sekitar 100 kilometer dari Haikou, tepatnya di Boao. Di kawasan tersebut terdapat Zona Percontohan Nol Karbon Boao, proyek pertama di Tiongkok yang mencapai operasi nol karbon melalui pembaruan kawasan perkotaan yang sudah ada, bukan dengan membangun kawasan baru dari awal. Perubahan tersebut salah satunya terlihat di dapur sebuah hotel di Pulau Dongyu, Boao. Para koki tetap memasak dengan wajan di atas tungku, tetapi tidak tampak nyala api karena dapur hotel di seluruh pulau itu telah sepenuhnya beralih menggunakan listrik. "Dapur yang sepenuhnya menggunakan listrik saja dapat memangkas emisi karbon dioksida sebesar 7,5 ton per hari," kata Luo Hu, seorang insinyur di COSCO SHIPPING Boao Co., Ltd., perusahaan yang terlibat dalam proyek zona percontohan nol karbon tersebut. Dia menambahkan bahwa pelacakan karbon telah diterapkan pada seperlima hidangan untuk membantu para pelanggan memahami jejak karbon dengan lebih baik. Tidak hanya dapur, berbagai fasilitas di Pulau Dongyu juga mengalami perubahan. Hotel dan tempat konferensi menjalani renovasi hijau, sedangkan kendaraan serta kapal beralih menggunakan energi baru. Menurut Luo, keseluruhan transformasi tersebut terdiri atas 18 proyek yang mencakup bangunan ramah lingkungan, energi terbarukan, dan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Penerapan konsep nol karbon di kawasan tersebut menghadapi tantangan tersendiri. Kepala Insinyur Cabang Hainan Akademi Perencanaan dan Desain Perkotaan Tiongkok (China Academy of Urban Planning and Design), Zeng Youwen, mengatakan kondisi iklim setempat membuat proyek tersebut tidak dapat sekadar mengikuti model yang sudah ada. "Melaksanakan retrofit nol karbon di tengah panas tinggi, kelembapan tinggi, dan topan yang sering terjadi berarti tidak ada model siap pakai yang dapat dijadikan acuan," kata Zeng Youwen, kepala insinyur cabang Hainan dari Akademi Perencanaan dan Desain Perkotaan Tiongkok (China Academy of Urban Planning and Design). Hasil transformasi itu mulai terlihat. Zona tersebut kini menghasilkan listrik hijau dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan konsumsinya dan telah memasuki tahap operasi nol karbon yang berkelanjutan. Emisi karbon dioksida yang berkaitan dengan energi dari bangunan dan infrastruktur kota di zona itu turun drastis, dari sekitar 11.350 ton pada 2019 menjadi hanya 14,6 ton pada 2025. Penurunan tersebut mencapai 99,9 persen. Dalam rencana pembangunan pulau rendah karbon, Hainan menargetkan pembangunan pulau rendah karbon selesai sebelum 2045. Provinsi tersebut juga menargetkan pengurangan emisi CO2 tahunan sebesar 70 persen dibandingkan tingkat puncaknya. Rencana itu mencakup perubahan pada sektor energi, industri, transportasi, dan bangunan. Pada saat yang sama, Hainan juga berupaya memperkuat kemampuan pulau tersebut dalam menyerap karbon. Manfaat pendekatan tersebut turut dirasakan di Desa Hegui, wilayah Lingao. Sekitar 48 hektare hutan mangrove di desa itu, yang selama ini memiliki peran penting dalam melindungi pesisir dari gelombang, diperkirakan mampu menyerap 3.236,05 ton karbon dalam kurun tujuh tahun. Potensi tersebut diperkirakan dapat memberikan pemasukan lebih dari 320.000 yuan dengan nilai tukar 1 yuan sebesar Rp2.675 kepada kas desa melalui kredit karbon. "Hutan mangrove ini tidak hanya melindungi kami dari gelombang, tetapi juga menghasilkan uang melalui kredit karbon," kata Chen Hongwei, seorang pejabat desa tersebut. "Hal tersebut memberi kami alasan yang lebih kuat untuk melindunginya."