TEHERAN - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya untuk memperluas dan memperdalam hubungan bilateral dengan Uzbekistan serta Azerbaijan pada Selasa (29/9). Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat melakukan percakapan melalui telepon dengan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev dan ketika menerima Wakil Perdana Menteri Azerbaijan Shahin Mustafayev di Teheran. Informasi itu disampaikan melalui pernyataan yang dirilis kantor kepresidenan Iran. Dalam pembicaraan tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa perluasan hubungan dengan negara-negara tetangga dan kawasan menjadi salah satu fokus kebijakan luar negeri Iran. Ia juga menyebut penguatan hubungan dengan berbagai negara, khususnya negara-negara yang "bersahabat dan sepaham", sebagai salah satu prioritas utama Teheran. Pezeshkian menambahkan bahwa Iran berkomitmen meningkatkan kerja sama dan hubungan dengan Tashkent. Mirziyoyev, di sisi lain, menyoroti perkembangan positif dalam hubungan kedua negara. Dia mengatakan hubungan bilateral beserta kerja sama di berbagai sektor antara Uzbekistan dan Iran terus mengalami perkembangan. Dalam pertemuannya dengan Mustafayev, Pezeshkian juga mendapat penegasan mengenai keinginan Azerbaijan untuk meningkatkan hubungan dengan Iran. Wakil Perdana Menteri Azerbaijan itu menekankan pentingnya menindaklanjuti sekaligus merealisasikan berbagai perjanjian dan kesepahaman yang sebelumnya telah dicapai kedua negara. Pada hari yang sama, Mustafayev bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei. Dalam pertemuan tersebut, Rezaei mengatakan Teheran telah menyampaikan kepada Washington sejumlah persyaratan untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Menurut kantor berita semiresmi Iran, Fars, Rezaei menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak mampu mengambil keputusan terkait persyaratan tersebut.