SEOUL, NETRALNEWS.COM - Korea Utara (Korut) menembakkan lebih dari sepuluh roket peluncur ganda (MRL) ke arah Laut Barat pada Senin 3 November 2025. Insiden ini terjadi beberapa menit sebelum pertemuan antara Menteri Pertahanan Korea Selatan, Ahn Kyu-baek, dan Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, di Area Keamanan Gabungan (JSA), Panmunjom. Kepala Staf Gabungan (JCS) Angkatan Bersenjata Korea Selatan (ROK Armed Forces) melaporkan pada Selasa 4 November 2025, bahwa peluncuran terjadi sekitar pukul 16.00 waktu setempat, atau sekitar 30 menit sebelum pertemuan kedua pejabat pertahanan tersebut. Menurut laporan yang dikutip dari Asia Today, JCS mengungkap proyektil yang ditembakkan diyakini merupakan roket kaliber 240 milimeter, dengan jangkauan hingga 60 kilometer. Jika diluncurkan dari wilayah wilayah Kaesong, roket jenis ini dapat mencapai area metropolitan Seoul. Militer Korea Selatan menilai aksi tersebut sebagai provokasi yang direncanakan, bertepatan dengan kunjungan pejabat tinggi pertahanan Amerika Serikat (AS) ke zona perbatasan antar-Korea. Dua hari sebelumnya, tepatnya pada 1 November, Korut juga menembakkan sekitar sepuluh roket serupa ke perairan barat, sekitar sepuluh menit setelah Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae-myung, memulai pertemuan puncaknya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Serangkaian peluncuran itu dinilai sebagai upaya Pyongyang untuk menunjukkan kekuatan militernya di tengah agenda diplomatik penting Korea Selatan. Pada 22 Oktober, Korea Utara juga meluncurkan beberapa Rudal Balistik Jarak Pendek (SRBM) dari wilayah Chunghwa, Provinsi Hwanghae Utara, yang diyakini merupakan seri Hwasong-11Da. Kemudian pada 28 Oktober, sehari sebelum kedatangan Presiden AS Donald Trump di Seoul, Pyongyang menguji coba rudal jelajah strategis dari kapal ke darat di atas Laut Barat.