WASHINGTON - Hubungan yang lebih stabil antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dinilai tidak hanya penting bagi kedua negara, tetapi juga berpengaruh terhadap perekonomian global dan tata kelola internasional. Penilaian tersebut disampaikan pakar hubungan Tiongkok-AS, Denis Simon. Dalam wawancara tertulis dengan Xinhua, Simon yang pernah menjabat penasihat senior urusan Tiongkok bagi presiden Universitas Duke mengatakan bahwa kedua negara memiliki keterkaitan yang sangat besar dengan ekonomi dunia serta memainkan peran penting dalam berbagai lembaga internasional. Ia menyinggung pernyataan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. Dalam kesempatan tersebut, Xi menyampaikan bahwa peremajaan besar bangsa Tiongkok dan upaya menjadikan Amerika kembali hebat dapat berjalan bersamaan, saling melengkapi, serta memberikan manfaat bagi dunia. "Saya memandang hal ini sebagai upaya untuk membingkai hubungan tersebut berdasarkan kepentingan nasional bersama, alih-alih sebagai persaingan bermentalitas menang-kalah (zero-sum). Baik Tiongkok maupun AS memiliki ambisi nasional dan prioritas dalam negeri masing-masing, tetapi tujuan-tujuan tersebut tidak serta-merta mengharuskan negara lain mengalami kegagalan," kata Simon. Mantan executive vice chancellor Universitas Duke Kunshan periode 2015–2020 itu menilai pesan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Tiongkok dan kemakmuran AS tidak harus saling bertentangan. "Alih-alih meminta salah satu pihak untuk meninggalkan tujuan nasionalnya sendiri, pesannya adalah bahwa pembangunan Tiongkok dan kemakmuran Amerika dapat berjalan berdampingan dan, dalam kondisi yang tepat, saling memperkuat," ujarnya. Simon juga menyoroti konsep hubungan Tiongkok-AS yang menekankan stabilitas strategis konstruktif, kerja sama sebagai fondasi utama, persaingan yang moderat, perbedaan yang dapat dikelola, serta komitmen terhadap perdamaian. Menurutnya, konsep tersebut merupakan "upaya untuk menyediakan kerangka kerja praktis guna mengelola hubungan yang di dalamnya persaingan tidak dapat dihindari, tetapi konflik bukanlah sesuatu yang tak terelakkan." Ia menilai unsur terpenting dalam kerangka tersebut adalah gagasan mengenai persaingan yang tetap berada dalam batas tertentu. "Bagi saya, frasa kuncinya adalah 'persaingan dalam batas-batas tertentu'. Hal ini mengakui bahwa Tiongkok dan AS akan bersaing dalam bidang-bidang seperti teknologi, perdagangan, dan pengaruh strategis. Tujuannya bukan untuk menghilangkan persaingan itu, melainkan menetapkan batas-batas agar persaingan tidak berubah menjadi konfrontasi," tuturnya. Terkait perbedaan yang masih ada di antara kedua negara, Simon menilai tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Karena itu, stabilitas hubungan tidak seharusnya bergantung pada penyelesaian seluruh perbedaan tersebut. "Hubungan tersebut membutuhkan mekanisme yang memungkinkan kedua belah pihak berbeda pendapat tanpa membiarkan perselisihan tertentu mengganggu stabilitas hubungan secara keseluruhan," katanya. Ia menambahkan, "Jika diterapkan secara konsisten, kerangka kerja tersebut dapat menggeser fokus dari upaya menghilangkan persaingan menjadi upaya menjadikan persaingan dapat diprediksi dan dikelola, sembari memperluas kerja sama di bidang-bidang yang memang memiliki kepentingan yang sama." Dalam pandangannya, sektor ekonomi dan perdagangan menjadi area yang paling berpeluang menghasilkan kemajuan nyata dan dampak langsung. Namun, isu teknologi serta rantai pasokan dinilai lebih kompleks karena berkaitan dengan aspek ekonomi sekaligus keamanan nasional. "Namun, justru karena alasan tersebut, mereka memerlukan dialog yang berkelanjutan dan komunikasi yang lebih jelas," tuturnya. Selain isu bilateral, Simon menilai kerja sama pada bidang perubahan iklim, energi, kesehatan masyarakat, serta berbagai tantangan lintas negara lainnya dapat menjadi bukti bahwa persaingan tidak harus menghalangi kolaborasi yang bersifat praktis.