Indonesia mempunyai berjuta-juta keragaman budaya sepeninggal warisan nenek moyang kita yang masih tetap dilestarikan dan dibudidayakan. Tulisan ini menguak beberapa fakta tentang isi dari salah satu budaya dan kesenian yang ada di negara zamrud khatulistiwa. Wayang kulit salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang menunjukkan adanya nilai-nilai tauhid dan Islamiyah, sejak abad ke-15 wayang sudah memperkenalkan diri sebelum islam meluas di Nusantara. Nama Walisongo sudah sering atau pernah kita dengar di telinga, Sunan Kalijaga salah satu anggota Walisongo sekaligus yang menciptakan kesenian wayang kulit untuk sarana penyebaran Islam. Sunan Kalijaga sangat piawai dalam mengembangkan Islam di Nusantara, wayang yang memiliki bentuk persis dengan manusia ini sempat ditentang oleh Sunan Giri yang memang saat itu beliau menjadi pemimpin Walisongo, tidak setuju adanya kesenambungan antara wayang kulit yang kental budaya Hindu-Budha dengan ajaran Islam. Selain itu, ia membuat bentuk atau gambar yang persis dengan manusia dan hal itu diharamkan oleh Islam. Tetapi, adanya elakan dari Sunan Kalijaga yang bisa meredakan perselisihan mereka yaitu wayang yang dibuatnya bukan hanya sebuah bentuk atau gambar persis seperti manusia melainkan terdapat unsur islamiyah. Dimana bila kita pahami terdapat huruf “Mim-Ha’-Mim-Dal” atau jika digabungkan bertuliskan Muhammad atau rasul Allah. Sehingga Sunan Giri pun menerima konsep tersebut dikarenakan bukan unsur gambar manusia melainkan bentuk huruf Arab, Coba deh kita perhatiin gambar yang ada dibawah ini. Dan tahukah kalian generasi muda bangsa tentang rahasia dibalik bayangan yang selalu kita nantikan dan nikmati pertunjukannya? Saya santri sebagai penerus bangsa akan mengulik bagaimanakah alur dakwah Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama yang dibawanya. Ia membaurkan pertunjukan wayang dengan doktrin Islam melalui bahasa yang lebih Islamiyah yang pastinya mengandung ajaran tauhid sehingga lantunan alurnya pun dapat diresapi masyarakat dengan mudah. Dalam mendalang, ia juga tidak menantikan upah. Namun, penonton pertunjukan diperlukan menyebut kalimosodo atau dua kalimat syahadat yang dimana disimbolkan sebagai tiket masuk agama Islam. Walaupun Sunan Kalijaga memilih wayang yang menjadi jalur dakwahnya tetapi ia tidak menggunakan teologi Hindu-Budha, melainkan dikonstruk dengan teologi Islam dan hanya mengadopsi instrumennya saja. Sampai saat ini pakem cerita klasik dalam bayangan epik ini masih merupakan cerita dari kitab Ramayana atau Mahabarata yang diadaptasikan dengan ajaran Jawa. Cerita itu disajikan dengan menyiratkan penjelasan tentang silsilah nabi dan para dewa yang katanya nama yang ada di dalam cerita tersebut adalah keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa. Walisongo terutama Sunan Kalijaga menciptakan jimat kalimosodo dengan memasukkan nilai-nilai tauhid. Bahwasannya, dalam cerita Mahabaratha putra pertama dari Pandu Dewa dan Dewi Kunti alias Yudistira mempunyai pusaka yang bernama jamus kalimosodo diterjemahkan sebagai kalimat syahadat termasuk rukun islam pertama yang berbunyi, “asyhadu alaa illaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah” menyatakan keteguhan hati seseorang dalam mempercayai bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, keyakinan ini membawa simbol spirit hidup bagi setiap manusia. Kedua, Werkudoro dilambangkan rukun islam yang kedua yakni sholat lima waktu. Dimana sholat itu bersifat merata tidak memilih dimana atau siapa yang mengerjakan sholat dan hal tersebut sama dengan sifat yang diperankan Werkudoro yakni tidak membeda-bedakan. Ketiga, Arjuna dilambangkan rukun islam yang ketiga yakni zakat. Zakat mempunyai ketentuan bagi yang mampu saja atau yang mempunyai harta lebih sedangkan setiap manusia pasti mendambakan harta yang melimpah sama dengan sosok arjuna yang selalu didambakan penonton dan dijuluki lanang ing jagad. Keempat, si kembar Nakula Sadewa dilambangkan dengan bagian rukun Islam yang keempat dan kelima. Melaksanakan puasa dan ibadah haji tidak mewajibkan seseorang untuk dilakukan setiap saat seperti kewajiban sholat lima waktu, puasa sendiri hanya diwajibkan setahun sekali sama dengan ibadah haji dan diibaratkan dua hal yang serupa seperti kembar Nakula Sadewa. Selain itu, Sunan Kalijaga membangun visi agar kemasyarakatan Islam di Indonesia lebih meluas jangkauannya. Untuk mencapai visi tersebut, Sunan Kalijaga memunculkan beberapa tokoh figur baru dalam cerita klasik wayang yang memang tidak tercantum dalam kisah asli Ramayana ataupun Mahabaratha. Melalui plot cerita yang dibangun salah satu tokoh figur Punakawan yang sudah dikenal luar oleh khalayak mengandung arti mentor yang bijak bagi para Pandawa. Nama Punakawan itu disimbolkan sebagai kesatuan yang menggambarkan kepribadian seorang Muslim dengan segala macam kedudukannya. Sunan Kalijaga sangat berhasil dalam mengadopsi kesenian wayang dalam berdakwah. Ia membuat “Pakem Pewayangan Baru” yang bernafas islam dan mengajarkan aqidah, syari’ah, dan akhlak. Dalam hal tersebut, khalayak yang menonton bayangan epik ini dapat menerima ajaran Islam dengan sukarela dan mudah. Dengan itu, kita bisa menengok di balik lantunan gamelan dan gerakan wayang yaitu bukan hanya sekedar kesenian tradisional yang ada di ranah khatulistiwa melainkan terdapat unsur islamiyah di dalam cerita yang selalu menarik hati masyarakat ketika dimulainya dalang dalam mengayunkan bayangan-bayangan itu. Demikianlah ulasan yang digali lewat cerita wayang dengan bayangan epiknya dengan jejak dakwah walisongo terutama Sunan Kalijaga yang memberikan pengaruh yang begitu pesat di kehidupan kita sekarang. Dalam ulasan ini kita diajarkan untuk tetap melestarikan budaya dan menjalin toleransi antar kepercayaan. Lalu, apakah hal ini bisa membangkitkan diri kita agar tetap melestarikan budaya kesenian yang dimiliki oleh Indonesia dan tetap meneguhkan hati dengan ikatan ajaran Islam yang sudah disebarkan Sunan Kalijaga lewat adopsian seni wayang? Kalau bukan generasi muda Indonesia siapa lagi? DAFTAR PUSTAKA Putrisalmaida, Shazsa. “Sejarah Singkat Wayang Kulit dan Perkembanganya di Indonesia Konten ini telah tayang Sejarah Singkat Wayang Kulit dan Perkembanganya di Indonesia.” 2021. Accessed senin september 2023. Praharani, Ruli. “WAYANG KULIT SEBAGAI MEDIA PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI DEMAK PADA ABAD KE XV.” 2007, p. 6. Accessed senin september 2023. khasanah, Annisa Nurul. “Rukun Islam Dalam Tokoh Wayang Kulit Pandawa Lima.” Accessed senin september 2023. Priyadi, Denmas. “khazanah : pandawa lima, gambaran 5 (lima) rukun islam.” 2011. Accessed selasa september 2023.