JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Psikologi humanistik muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai bentuk perlawanan terhadap dua arus besar dalam dunia psikologi sebelumnya: psikoanalisis yang pesimistis terhadap sifat manusia, dan behaviorisme yang terlalu mekanistik. Tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers mengusung pandangan baru bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang baik, memiliki kebebasan, serta potensi untuk berkembang menuju aktualisasi diri. Gerakan ini menawarkan optimisme baru: bahwa manusia bukan sekadar korban masa lalu atau produk lingkungan, melainkan agen aktif yang mampu membentuk kehidupannya sendiri. Menariknya, kelahiran psikologi humanistik ini bertepatan dengan masa kejayaan kapitalisme liberal di Amerika Serikat. Kedua gagasan ini – psikologi humanistik dan kapitalisme – tumbuh di tanah yang sama, yakni budaya yang sangat menjunjung tinggi individualisme dan kebebasan pribadi. Kapitalisme, dalam pandangan klasiknya, menganggap manusia sebagai individu rasional yang bebas menentukan pilihan ekonomi untuk mencapai kesejahteraan pribadi. Dengan cara yang serupa, psikologi humanistik menegaskan bahwa manusia bebas memilih jalannya sendiri untuk berkembang dan menemukan makna hidupnya. Dalam konteks ini, keduanya tampak memiliki “jiwa” yang sama: keyakinan terhadap kemampuan individu untuk mengatur nasibnya sendiri. Dalam praktik sosial dan ekonomi, nilai-nilai humanistik banyak diadopsi oleh perusahaan dan institusi dalam sistem kapitalis. Prinsip-prinsip seperti self-actualization, personal growth, dan human potential diterjemahkan ke dalam dunia kerja sebagai semangat produktivitas dan motivasi individu. Program pelatihan motivasi, self-development, dan manajemen berbasis human relations lahir dari semangat ini. Seolah-olah, keberhasilan seseorang dalam karier dan ekonomi merupakan bukti konkret dari pencapaian aktualisasi diri. Dengan demikian, psikologi humanistik turut membentuk wajah baru kapitalisme yang lebih “manusiawi”, atau paling tidak tampak demikian di permukaan. Namun, keterkaitan ini tidak luput dari kritik. Pemikir kritis seperti Herbert Marcuse menilai bahwa semangat humanistik telah diserap oleh kapitalisme dan dijadikan alat ideologis untuk melanggengkan sistem yang ada. Dalam kerangka ini, gagasan tentang “kebebasan” dan “pengembangan diri” justru dapat berubah menjadi bentuk penyesuaian psikologis terhadap tuntutan pasar. Aktualisasi diri tidak lagi bermakna spiritual atau eksistensial, tetapi diukur dari prestasi material, karier, dan konsumsi. Manusia tidak benar-benar bebas, melainkan diarahkan untuk menjadi individu yang produktif, efisien, dan kompetitif—sesuai kebutuhan ekonomi kapitalis. Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan yang sejati berisiko tergantikan oleh nilai-nilai instrumental. Meski demikian, tidak adil jika psikologi humanistik semata-mata dianggap sebagai pendukung kapitalisme. Pada hakikatnya, gerakan ini berangkat dari semangat pembebasan manusia dari dehumanisasi — baik yang berasal dari sistem psikologis, politik, maupun ekonomi. Prinsip empati, keaslian (kongruensi), dan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) dari Carl Rogers, misalnya, justru mendorong hubungan sosial yang lebih tulus dan beretika. Dalam dunia kerja, penerapan prinsip-prinsip ini dapat mengembalikan martabat manusia sebagai subjek, bukan sekadar alat produksi. Dengan demikian, psikologi humanistik dapat berperan sebagai kekuatan korektif terhadap kapitalisme, mengingatkan agar efisiensi ekonomi tidak mengorbankan kesejahteraan dan makna hidup manusia. Pada akhirnya, hubungan antara psikologi humanistik dan kapitalisme bersifat ambivalen. Keduanya sama-sama mengagungkan kebebasan individu dan kemampuan manusia untuk berkembang, namun keduanya juga berpotensi menjerumuskan individu ke dalam ilusi kebebasan yang dikendalikan oleh logika pasar. Tantangan terbesar bagi psikologi humanistik di era modern adalah bagaimana tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaannya tanpa larut dalam arus kapitalisme yang menilai segalanya berdasarkan produktivitas dan keuntungan. Dengan kesadaran kritis, psikologi humanistik masih dapat menjadi fondasi etis dan filosofis bagi sistem sosial dan ekonomi yang lebih manusiawi—sistem yang tidak hanya menghargai kebebasan dan pencapaian individu, tetapi juga memelihara solidaritas, empati, dan kesejahteraan bersama.