JAKARTA - Beberapa hari terakhir, satu demi satu kabar datang dan rasanya seperti pukulan yang tidak berhenti. Semua kisah ini punya benang merah yang sama, tentang orang-orang yang cuma ingin melihat anak dan istri mereka bahagia. Sayangnya, untuk sampai ke kebahagiaan sesederhana itu, mereka harus membayar dengan sesuatu yang sama sekali tidak sepadan. Di Bali, seorang ayah meninggal setelah dikeroyok warga karena dicurigai mencuri seekor ayam aduan. Video kejadian itu cepat tersebar di media sosial, memperlihatkan anak bungsunya, yang baru duduk di kelas satu SD, menangis meraung-raung di tengah orang-orang yang melayat, terus memanggil nama ayahnya yang sudah tidak mungkin lagi menjawab. Boleh saja kita menganggap mencuri itu salah. Tapi bisa jadi, malam itu yang ia perjuangkan hanyalah cara agar keluarga kecilnya tetap bisa makan esok hari. Belum sempat duka itu reda, kabar lain muncul dari Purwakarta. Seorang petugas keamanan ditemukan sudah tidak bernyawa, mengambang di Waduk Jatiluhur dengan kedua tangannya terborgol di belakang punggung. Sebelumnya, rekan-rekan kerjanya sempat kebingungan mencari karena ia tidak bisa dihubungi sejak dini hari selepas jaga malam. Hingga sekarang, penyebab kematiannya belum jelas dan masih ditelusuri pihak kepolisian. Namun yang jelas, malam itu ia berangkat kerja dengan harapan yang sama seperti ayah-ayah lain di luar sana, pulang dengan membawa rezeki untuk keluarganya. Ia justru tidak pernah kembali. Seolah memperlihatkan betapa timpangnya nasib para pekerja kecil, di Jakarta seorang petugas keamanan lain mengalami hal yang tak kalah pahit, meskipun ia masih hidup. Saat itu ia menegur pengemudi mobil mewah yang diduga melanggar aturan di jalur penyeberangan, sesuai dengan SOP yang memang jadi tugasnya. Rekaman CCTV bahkan disebut-sebut mendukung bahwa tindakannya benar. Tapi anehnya, justru dia yang akhirnya harus bersujud dan meminta maaf kepada si pengemudi. Ketiga peristiwa ini terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, dan semuanya memunculkan pertanyaan yang sama. Inikah wajah keadilan yang selama ini kita elu-elukan? Sekadar mencari nafkah saja harus mempertaruhkan nyawa. Sudah benar menjalankan tugas pun, ujungnya masih bisa berakhir dengan menunduk dan mempermalukan diri sendiri. Kita kerap membanggakan negeri ini sebagai negeri yang kaya, kaya sumber daya alamnya, kaya lautnya, kaya segala yang tumbuh di tanahnya. Namun dari rentetan kejadian ini, kita justru disadarkan bahwa kekayaan semacam itu tidak cukup untuk menutupi kemiskinan lain yang kita alami, kemiskinan moral, kemiskinan rasa empati, serta kegagalan kita sendiri dalam memanusiakan sesama manusia. Bagi laki-laki yang suatu hari nanti akan menjadi ayah, inilah pelajaran yang patut direnungkan dari hari-hari berat ini. Menghidupi sebuah keluarga tidak pernah sesederhana yang dibayangkan. Ada waktu, pikiran, bahkan kewarasan yang harus terus dijaga di tengah dunia yang kadang begitu tidak ramah. Namun tanggung jawab seorang ayah tidak selesai di situ saja. Masih ada pertanggungjawaban lain yang menunggu, di hadapan Tuhan, atas segala yang telah kita perjuangkan dan berikan untuk anak dan istri kita. Menjadi ayah bukan sekadar soal mampu mencari nafkah. Itu juga soal keberanian untuk tetap berdiri tegak di tengah dunia yang keras, tanpa kehilangan sisi kemanusiaan di saat yang bersamaan.