JAKARTA - Di tengah derasnya arus berita, perhatian kita tersita oleh berbagai kasus korupsi di dalam negeri yang terus mengusik rasa keadilan masyarakat. Pada saat yang sama, perkembangan geopolitik dunia juga tidak kalah mengkhawatirkan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu kawasan paling strategis dan paling rawan di dunia, dengan dampak yang dapat dirasakan jauh melampaui kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Kasus-kasus korupsi dengan nilai yang fantastis terus mengusik rasa keadilan masyarakat, sementara perkembangan global menghadirkan ketidakpastian baru terhadap stabilitas ekonomi, keamanan, dan perdamaian dunia. Namun, di balik semua dinamika tersebut, kehidupan tetap berjalan. Persahabatan tetap harus dipelihara, pengabdian tetap harus dikenang, dan rasa syukur atas kesempatan untuk terus berkarya tidak boleh padam. Kamis, 16 Juli, menjadi hari yang mengingatkan saya akan semua itu. Pagi hari itu, saya menghadiri reuni lulusan AKABRI Udara Angkatan 1971 di Halim. Rasanya sulit menggambarkan perasaan ketika kembali bertemu teman-teman sekelas setelah 55 tahun berlalu. Waktu benar-benar telah menjalankan tugasnya. Dari jumlah kami dahulu, kini kurang lebih separuh telah lebih dulu berpulang. Mereka yang hadir pun tampil sebagai para orang tua yang telah ditempa oleh usia. Ada yang datang dengan kursi roda, ada yang bertumpu pada tongkat, dan ada pula yang harus dibantu berjalan oleh keluarga. Pemandangan itu sungguh mengharukan. Bahkan, satu dua orang sempat sulit saya kenali karena wajah yang telah banyak berubah dimakan usia. Namun, begitu senyum mengembang dan sapaan pertama terucap, seakan kami kembali menjadi para taruna muda yang penuh mimpi pada awal tahun 1970-an. Tawa kembali pecah, cerita lama bermunculan tanpa habisnya, makan siang bersama terasa begitu akrab, diselingi nyanyian dan tarian yang membangkitkan nostalgia. Kami pun menutup kebersamaan dengan berfoto bersama, lengkap dengan isteri masing-masing yang selama puluhan tahun telah begitu setia mendampingi perjalanan hidup kami masing masing. Belum sempat larut dalam nostalgia, siang harinya saya melanjutkan perjalanan menuju Museum Rekor Dunia MURI. Kunjungan ini untuk menghadiri penyerahan Rekor Dunia MURI kepada sahabat lama saya, Mas Tok, Guntur Soekarnoputra, yang menerima penghargaan langsung dari pendiri MURI, Jaya Suprana. Di usia 82 tahun, beliau hadir bersama isterinya Mbak Henny dan Puti anaknya. Melihat wajah beliau yang tetap dan tampak ceria menerima penghargaan merupakan kebahagiaan tersendiri. Persahabatan yang telah terjalin begitu lama kembali dipertemukan dalam suasana yang penuh penghormatan dan kegembiraan. Malam harinya, agenda masih berlanjut di Wisma Angkasa, Kebayoran Baru, dalam acara silaturahmi para mantan Kepala Staf Angkatan Udara. Kesempatan seperti ini selalu bernilai istimewa. Saya berbincang hangat dengan dua senior dan sekitar sepuluh junior, saling bertukar pengalaman, mengenang masa-masa pengabdian, sekaligus mendengarkan paparan KSAU mengenai perkembangan mutakhir TNI Angkatan Udara. Informasi tentang penambahan alutsista, penguatan sistem pertahanan udara, hingga penyesuaian organisasi menghadapi tantangan zaman memberikan optimisme bahwa Angkatan Udara terus bergerak mengikuti dinamika lingkungan strategis yang semakin kompleks dan penuh tantangan. Menjelang malam berakhir, barulah saya benar-benar merasakan lelah. Tiga kegiatan dalam satu hari tentu menguras tenaga. Namun, kelelahan itu terasa ringan karena hati dipenuhi rasa syukur. Hari itu seolah menjadi perjalanan menembus lorong waktu untuk bertemu sahabat seperjuangan, menyaksikan sahabat lama menerima penghargaan, dan kembali berkumpul dengan keluarga besar Angkatan Udara. Sebelum hari kamis 16 Juli 2026 itu benar-benar berakhir, ada satu hal kecil yang memberi kepuasan batin tersendiri. Saya menyempatkan membawa dan membagikan beberapa buku karya saya kepada teman-teman seangkatan AKABRI Udara 1971 dan juga kepada para mantan Kepala Staf Angkatan Udara yang hadir pada acara silaturahmi malam harinya. Bagi saya, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan jejak pemikiran dan pengalaman yang ingin diwariskan kepada sahabat-sahabat seperjuangan. Semoga lembar demi lembar yang mereka baca dapat menjadi bahan renungan, membuka ruang diskusi, atau sekadar menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada bangsa tidak berhenti ketika masa dinas berakhir. Selama masih diberi kesempatan untuk berpikir, menulis, dan berbagi, saya merasa masih memiliki cara untuk terus berbagi dan mengabdi kepada negeri. Usia memang tidak bisa ditawar. Rambut memutih, langkah melambat, bahkan sebagian harus dibantu tongkat atau kursi roda. Namun saya semakin percaya bahwa yang membuat seseorang tetap hidup bukanlah sekadar bertambahnya umur, melainkan kemauan untuk terus bergerak, terus berkarya, dan terus menjaga silaturahmi. Perjalanan hidup yang menuntut untuk berdamai dengan usia serta realita. Saya menyadari, perjalanan hidup bukan hanya diukur dari seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga dari seberapa banyak persahabatan yang tetap terjaga, seberapa besar manfaat yang masih dapat kita berikan, dan seberapa tulus kita mensyukuri setiap kesempatan yang masih dianugerahkan Tuhan. Hari ini telah menjadi kenangan, sementara esok telah menyiapkan tantangan dan tugas-tugas baru. Selama kesehatan dan kesempatan masih diberikan, saya ingin tetap mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat, sekecil apa pun kontribusi yang dapat diberikan. Saya percaya, usia memang akan terus bertambah, sedangkan semangat harus tetap terpelihara. Karena itu, saya ingin terus melangkah, terus belajar, terus berbagi, dan terus berkarya. Sebab, seperti ungkapan yang selalu saya yakini, life is motion. Maka selama hayat masih dikandung badan, keep moving. Jakarta, 17 Juli 2026 Penulis: Chappy Hakim