JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Penulis tertarik dengan pendapat Tantan Hermansyah dalam tulisannya "Generasi Tanpa Cita-cita" di Kompas.com, 27/09/2024. Secara tersirat Tantan menyebut bahwa Generasi Z dan Alpha dianggapnya sebagai "generasi tanpa cita-cita". Ia mengatakan bahwa Generasi Z dan Alpha menjalani hidup tanpa tujuan jelas dan hanya fokus pada kebutuhan jangka pendek. Bagi penulis, anggapan ini tidak sepenuhnya tepat dan ada kecenderungan menyesatkan. Generasi muda saat ini sebenarnya penuh dengan mimpi, cita-cita, dan harapan. Barangkali, ia hanya mendefinisikan cita-cita dengan cara berbeda. Menurut teori psikologi dari Abraham Maslow, cita-cita adalah bagian dari kebutuhan aktualisasi diri. Cita-cita bukan sekadar impian, melainkan tujuan yang ingin dicapai melalui usaha dan kerja keras. Generasi muda saat ini tidak kehilangan cita-cita, mereka hanya mengejarnya dengan cara yang lebih fleksibel dan realistis. Mereka tidak lagi terjebak dalam definisi cita-cita yang kaku, seperti menjadi dokter atau insinyur, tetapi meluaskan pandangan mereka ke berbagai bidang, termasuk teknologi, kreativitas, dan inovasi sosial. Sebuah survei dari World Economic Forum pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa 78% anak muda di Indonesia memiliki tujuan jangka panjang yang jelas, seperti membangun bisnis sendiri, mengembangkan teknologi baru, atau menjadi pemimpin dalam bidang sosial. Survei ini juga menunjukkan bahwa mereka sangat optimis akan masa depan, dengan 65% di antaranya merasa yakin akan mencapai cita-cita mereka. Generasi muda saat ini tumbuh di era digital yang penuh dengan informasi dan kesempatan. Mereka melihat dunia dengan sudut pandang global. Memanfaatkan teknologi untuk mengejar impian yang mungkin tak terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Cita-cita tidak lagi terbatas pada profesi tradisional, tetapi juga mencakup pekerjaan-pekerjaan yang baru muncul seperti content creator, startup founder, dan ahli AI. Cita-cita ini memang tetap memiliki dasar yang kuat: kerja keras, inovasi, dan dedikasi. Meremehkan atau mengatakan bahwa generasi muda tidak punya cita-cita adalah kesalahan besar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sikap meremehkan ini bisa berdampak negatif pada perkembangan mental. Menurut teori motivasi Abraham Maslow, manusia memiliki kebutuhan akan pengakuan dan penghargaan. Ketika generasi muda merasa tidak dihargai atau dianggap tidak mampu memiliki cita-cita, kebutuhan ini tidak terpenuhi. Hal ini dapat menghambat mereka dalam meraih aktualisasi diri, yakni tahap tertinggi dalam hierarki kebutuhan Maslow. Selain teori Maslow, studi dari American Psychological Association (APA) menemukan bahwa ketika anak muda merasa orang dewasa tidak percaya pada kemampuan mereka mencapai tujuan, mereka cenderung kehilangan motivasi. Rasa tidak percaya ini menciptakan tekanan sosial yang negatif, yang berdampak pada kesehatan mental dan emosional. Anak muda yang merasa tertekan karena ekspektasi rendah dari orang dewasa sering mengalami kecemasan, bahkan depresi. Di Indonesia, sebuah survei dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa banyak siswa SMA merasa kurang didukung dalam merencanakan masa depan mereka. Oleh karena itu, menganggap generasi muda sebagai "generasi tanpa cita-cita" dapat merusak semangat mereka. Padahal, dukungan dari orang dewasa sangat penting dalam membangun optimisme dan kepercayaan diri. Generasi muda yang merasa didukung secara emosional dan mental akan lebih berani bermimpi dan berusaha. Jika terus diberi tekanan negatif, dampaknya bisa meluas pada kegagalan dalam meraih potensi penuh. Sebaliknya, dukungan konstruktif dapat membangkitkan semangat untuk mencapai cita-cita mereka. Daripada meremehkan cita-cita generasi muda, orang dewasa harus lebih mendukung. Dukungan bisa diberikan melalui pendidikan, bimbingan karier, dan kesempatan untuk mengeksplorasi minat mereka. Studi dari Harvard University menunjukkan bahwa generasi muda yang mendapatkan dukungan dari orang tua, guru, atau mentor memiliki peluang 60% lebih besar untuk sukses dalam mengejar cita-citanya. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran orang dewasa dalam membantu anak muda mencapai potensi maksimal mereka. Salah satu cara efektif untuk mendukung generasi muda adalah dengan menyediakan ruang bagi mereka untuk berekspresi dan mengembangkan kreativitas. Orang dewasa bisa membantu dengan menjadi mentor atau memberi mereka kesempatan untuk belajar keterampilan baru. Program-program beasiswa, pelatihan, dan magang juga dapat membuka jalan bagi mereka untuk mengembangkan potensi dan mewujudkan cita-citanya. Generasi muda membutuhkan akses terhadap informasi dan sumber daya untuk mengembangkan cita-cita, bukan hanya penilaian sinis. Pola pikir generasi muda saat ini mungkin berbeda, tetapi itu tidak berarti mereka tidak memiliki tujuan atau cita-cita. Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat dan terus berubah, sehingga mereka harus fleksibel dalam menetapkan tujuan. Fleksibilitas ini bukan tanda bahwa mereka kurang ambisi. Justru, ini menunjukkan kemampuan mereka untuk beradaptasi dan bertahan di tengah perubahan zaman. Generasi muda menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya, seperti perubahan iklim, krisis ekonomi, dan ketidakpastian politik global. Mereka menyadari bahwa untuk mencapai cita-citanya, mereka harus berjuang lebih keras dan lebih cerdas. Banyak di antara mereka yang bercita-cita menjadi aktivis lingkungan, inovator teknologi hijau, atau pemimpin sosial yang dapat memberikan solusi bagi masalah-masalah global ini. Terlepas dari tantangan yang mereka hadapi, generasi muda tetap optimis tentang masa depan. Mereka tidak hanya mengejar cita-cita pribadi, tetapi juga ingin memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan dunia. Mereka sadar bahwa dengan kerja keras dan tekad yang kuat, mereka bisa mencapai apa pun yang mereka inginkan. Generasi muda Indonesia, khususnya, memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di tingkat global. Maka, generasi muda bukanlah generasi tanpa cita-cita. Mereka adalah generasi yang penuh dengan mimpi, harapan, dan tujuan besar. Mereka hanya membutuhkan dukungan dan kesempatan untuk berkembang. Daripada meremehkan, orang dewasa hendaknya mendukung dan memotivasi kami untuk terus maju!