JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Gerhana bulan menurut kepercayaan Jawa memiliki makna yang berbeda dari penjelasan ilmiah modern. Jika sains menjelaskan gerhana sebagai peristiwa astronomi akibat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar, masyarakat Jawa kuno memaknainya sebagai peristiwa kosmis yang sarat simbol. Dalam tradisi lisan yang berkembang turun-temurun, gerhana bulan sering disebut sebagai “Bulan dipangan Buto” atau bulan dimakan raksasa. Mitos Batara Kala dalam Gerhana Bulan Dalam mitologi Jawa, sosok yang dikaitkan dengan gerhana bulan adalah Batara Kala. Ia digambarkan sebagai makhluk raksasa yang mencoba menelan bulan. Menurut cerita, Batara Kala menaruh dendam dan berusaha memakan benda-benda langit. Saat bulan tampak gelap atau memerah, masyarakat dahulu percaya itulah momen ketika Batara Kala sedang “memangsanya”. Namun gerhana tidak berlangsung lama karena bulan diyakini berhasil lepas kembali. Tradisi Pukul Lesung dan Kentongan Gerhana bulan menurut kepercayaan Jawa juga melahirkan tradisi unik di masyarakat desa. Saat gerhana terjadi, warga biasanya: • Memukul lesung (alat penumbuk padi) • Membunyikan kentongan • Menabuh alat-alat rumah tangga Tujuannya adalah mengusir Batara Kala agar berhenti memakan bulan. Ritual ini dilakukan bersama-sama, sehingga selain bernilai simbolis juga mempererat kebersamaan warga. Tafsir dalam Primbon Jawa Dalam primbon Jawa, gerhana bulan kadang dikaitkan dengan pertanda tertentu. Beberapa tafsir menyebut gerhana sebagai: • Isyarat perubahan besar • Tanda kewaspadaan • Simbol gangguan keseimbangan alam Namun tafsir ini sangat bergantung pada hari pasaran, weton, dan posisi bulan dalam penanggalan Jawa. Tidak semua orang Jawa mempercayainya secara mutlak. Warna Merah dan Makna Simbolik Saat gerhana total, bulan dapat tampak merah. Dalam simbolisme Jawa, warna merah sering dikaitkan dengan energi besar, kekuatan, dan kewaspadaan. Karena itu, fenomena ini dulu dipandang sebagai peristiwa penting yang patut disikapi dengan hati-hati dan doa. Perpaduan Budaya dan Sains Seiring perkembangan zaman, masyarakat Jawa kini umumnya memahami gerhana bulan sebagai fenomena ilmiah. Penjelasan modern menyebut gerhana terjadi ketika bayangan Bumi menutupi bulan. Meski demikian, kisah Batara Kala dan tradisi pukul lesung tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang memperkaya khazanah Nusantara. Gerhana bulan menurut kepercayaan Jawa menunjukkan bagaimana nenek moyang mencoba memahami alam dengan simbol dan cerita. Hari ini, mitos tersebut tetap dikenang sebagai bagian dari identitas budaya, sementara sains memberikan penjelasan rasionalnya.