JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pernahkah Anda melihat undangan pernikahan yang nama pengantinnya penuh deretan gelar? Mulai dari gelar sarjana, magister, haji, hingga gelar ningrat bangsawan semua dicantumkan. Fenomena "Gila Gelar" ini sangat kental dalam budaya feodal masyarakat kita. Bagi sebagian orang, gelar adalah bukti kesuksesan dan status sosial yang wajib dipamerkan. Mereka tersinggung berat jika orang lain memanggil nama tanpa embel-embel gelar tersebut. "Panggil saya Pak Haji," atau "Saya ini Doktor lho," adalah kalimat penegas kasta. Obsesi berlebihan ini seringkali menutupi substansi dari gelar itu sendiri. Gelar haji harusnya tanda kemabruran akhlak, bukan alat pamer kesalehan. Gelar akademik harusnya tanda keilmuan, bukan sekadar hiasan kartu nama. 1. Feodalisme Modern Kita masih mewarisi mentalitas penjajah yang gila hormat dan membeda-bedakan kasta. Gelar dijadikan tembok pemisah antara "kaum elit" dan "rakyat jelata". Kita merasa lebih tinggi derajatnya jika nama kita lebih panjang dari orang lain. Sikap ini menunjukkan ketidakpercayaan diri (insecurity) yang mendalam pada diri seseorang. Mereka butuh tempelan gelar untuk merasa berharga di mata masyarakat. Orang yang benar-benar hebat justru biasanya tampil sederhana dan rendah hati. Lihatlah padi, semakin berisi semakin merunduk, bukan semakin mendongak sombong. Kehormatan sejati didapat dari manfaat yang kita berikan, bukan dari titel yang kita sandang. Jangan jadi tong kosong yang nyaring bunyinya. 2. Gelar Haji Bukan Gelar Indonesia adalah satu-satunya negara yang menyematkan "H." atau "Hj." sebagai gelar di KTP. Padahal, haji adalah ibadah ritual sama seperti salat dan puasa. Lucu jika kita juga minta gelar "S." (Salat) atau "P." (Puasa) di depan nama. Tujuan berhaji adalah menyempurnakan rukun Islam dan membersihkan hati di Tanah Suci. Jika pulang haji malah minta dihormati, berarti tujuan ibadahnya sudah melenceng. Ibadah kok dijadikan status sosial? Biarlah gelar haji itu tercermin dari perilaku yang makin santun dan dermawan. Masyarakat akan otomatis menghormati tanpa perlu diminta atau dipaksa. Kesalehan tidak butuh pengakuan administratif. 3. Esensi Ilmu Banyak orang mengejar gelar S2 atau S3 hanya demi kenaikan pangkat atau gengsi semata. Mereka beli ijazah atau kuliah asal-asalan yang penting dapat gelar di belakang nama. Akibatnya, banyak orang bergelar tinggi tapi wawasannya sempit. Ilmu itu untuk diamalkan dan memecahkan masalah umat, bukan untuk dipajang di undangan. Gelar akademik membawa tanggung jawab moral untuk mencerahkan masyarakat. Jangan kotori dunia pendidikan dengan ambisi gila hormat. Bangga boleh, tapi jangan sampai gelar itu memperbudak jiwa kita menjadi sombong. Pada akhirnya, di batu nisan nanti hanya nama asli kita yang tertulis. Gelar duniawi tidak akan dibawa mati. Nama yang baik lebih berharga daripada minyak yang mahal. Ukirlah prestasimu di hati orang, bukan cuma di kartu nama.