JAKARTA - Dinamika berorganisasi di kampus menguji individu-individu tangguh yang memilih jalan untuk kemudian berorganisasi meski pada saat yang sama juga harus fokus menyelesaikan studi. Bersyukurlah mahasiswa yang memilih jalan berorganisasi yang penuh tantangan, karena menyatukan pikiran-pikiran berbeda anak muda bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi bukan mustahil. Dari 30an pengurus yang tercantum di dalam, lalu hanya belasan yang hadir rapat, tidak sampai 20 orang, seperti itu contoh dinamika yang terjadi. Berbagai macam alasan tidak hadir rapat mulai dari alasan pribadi sampai alasan studi menghiasi permohonan izin tidak hadir rapat, bahkan tidak sedikit yang tidak meminta izin! Melanjutkan cerita, pada saat itu, dengan sisa-sisa semangat yang ada kami terus bergerak menjalankan program kerja dan terus saling mengingatkan dalam kebaikan. Bahwa di MPM bukan sekedar Program kerja biasa yang akan meluluhlantahkan sum-sum tulang belakangmu, bahwa program kerja di MPM tidak harus di evaluasi dengan idealisme yang begitu tinggi sampai melupakan kemanusiaan. Bukankah agama Islam adalah agama yang paling menghargai nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah Dakwah ini mengajarkan kita tentang menjadi teladan sebelum menyampaikan? Bukankah Dakwah ini membimbing kita tentang menyentuh hati sebelum menyampaikan? Masih melanjutkan kisah tentang menuju kampus madani, pada saat itu tak serius seperti rapat biasanya, kami mencoba berdinamisasi agar suasana rapat menjadi enjoy. Agar beban dakwah yang memang sangat berat ini kami bagi ke pundak-pundak seluruh pengurus MPM, minimal agar ia terasa ringan. Dan agar amanah tersebut terasa menjadi semakin ringan, kami menikmati setiap amanah yang dibebankan kepada kami. Bahkan tak jarang di periode kepengurusan ini kader-kader maupun penguruslah yang kemudian meminta amanah. Mungkin ada kesadaran implisit yang memahami bahwa kami bukan sekedar The Agent Of Change lebih dari itu, kami adalah The Agent Of Allah. Terkadang kami begitu bingung ketika idealisme kami bertentangan dengan realitas yang ada. Di satu sisi kami ingin mematuhi setiap kesepakatan rapat, serta isi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Tetapi pada akhirnya pun kami semakin menyadari bahwa ada kondisi dimana Dakwah sejatinya memang berlandaskan Syariat Islam di atas segala-galanya. Bahwa Al-Quran dan As-Sunnah adalah pedoman hidup dan tindakan. Ini hanya sekadar goresan kecil dari tinta nurani penulis yang semoga semakin menginspirasi dan memotivasi kita semua sebagai orang yang sangat dibangga-banggakan oleh Allah dan juga orang yang namanya disebut-sebut oleh para malaikat karena banyak berkumpul dalam rangka mengingat Allah. Berkumpul dalam rangka menuntut ilmu, berhimpun dalam rangka melanjutkan tugas para Nabi dan Rasul yang mana tidak semua orang menyadari bahwa tugas ini adalah kewajiban setiap insan manusia. Maka tugas kami adalah menyadarkan mereka tentang kemuliaan tugas ini. Beda zaman, beda pula masalah yang di hadapi. Tetapi hal ini jangan sampai menjadi argumen utama kita untuk menolak masukan dari para senior dan para pendahulu. Karena terkadang kita harus membuka kembali lembar sejarah Rasulullah SAW dan para sahabat, generasi setelah sahabat, orang-orang shalih serta sejarah dari para pendahulu. Agar kita dapat mengambil hikmah dari setiap kisah. Agar kita dapat mengambil ibrah dari sejarah tersebut, sehingga ke depan kita tidak akan terjatuh dalam lubang kesalahan yang sama dan bertindak dengan lebih waspada. JAS MERAH Kata Bung Karno!! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!!Karena visi tidak dibangun dalam waktu yang singkat, karena dakwah adalah pekerjaan membangun sebuah peradaban, karena dakwah kampus adalah tentang pewarisan visi dan misi, perlahan tapi pasti menuju kejayaan dan kemenangan, Ini masih tentang menuju kampus yang madani.