KOTA MALANG - Ada benang merah yang samar namun terasa kian tebal ketika kita mengamati bagaimana ajang-ajang talenta nasional kita diselenggarakan belakangan ini. Ketika saya sempat menumpahkan kritik terhadap penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Jatimlines beberapa waktu lalu, sorotan utamanya bermula dari satu muara: betapa presisi akademik tingkat tinggi dan kerja keras tak terhingga dari para siswa sering kali berbenturan dengan dinding dingin minimnya apresiasi dari penyelenggara. Sayangnya, pola menyedihkan itu kini terulang kembali secara telanjang di panggung Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. Melalui Siaran Pers No. 16205 dan 16236, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan nada optimistis memamerkan rekor partisipasi luar biasa: sebanyak 39.300 murid terdaftar dari seluruh pelosok negeri hingga Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN). Angka yang melonjak drastis dari tahun sebelumnya ini dijajakan ke publik sebagai piala keberhasilan atas "penguatan budaya riset dan inovasi berkelanjutan." Namun, di balik pameran angka statistik itu, tersimpan derita murni dari anak-anak didik kita di lapangan. Di arena itu, ketika pengumuman selesai dibacakan dan lampu panggung penganugerahan dipadamkan, kata "pelit" terucap dari bibir murid-murid kami yang menangis menahan kecewa. Kata itu bukan lahir dari prasangka, melainkan dari suara hati yang paling jujur atas rasa sakit yang mereka tanggung. Kekecewaan itu bukan hanya milik anak didik kami di MAN 2 Kota Malang, melainkan jeritan kolektif yang sangat mungkin dirasakan oleh hampir seluruh peserta OPSI tahun ini. Rasa sakit itu sangat beralasan jika kita menarik komparasi secara jujur antara OPSI 2025 dan OPSI 2026. Pada OPSI 2025, ruang penganugerahan dan ketersediaan medali terasa jauh lebih terbuka, fleksibel, dan proporsional dalam merangkul karya-karya terbaik anak bangsa. Sekolah dan siswa merasa perjuangan panjang mereka dihargai secara layak. Sebaliknya, pada OPSI 2026, di tengah euforia lonjakan puluhan ribu pendaftar hulu, kuota medali di panggung puncak justru dipangkas habis-habisan hingga ke titik yang sangat irasional. Dari 39.300 pendaftar awal, Kemendikdasmen menyeleksinya hingga hanya menyisakan 125 tim finalis nasional (250 murid). Menembus babak final saja sudah merupakan keajaiban statistik di angka kelolosan 0,6%. Namun, begitu para finalis tiba di Universitas Muhammadiyah Jakarta, pintu apresiasi justru ditutup rapat-rapat. Di kategori Matematika, Sains, dan Teknologi (MST) tingkat SMA misalnya, dari 29 tim finalis nasional yang bertanding, penyelenggara hanya menyediakan 6 medali, yakni 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Meski panitia menyelipkan 2 Penghargaan Khusus (Special Award) untuk setiap jenjang, jumlah yang sangat minim itu jelas tak sanggup menutup jurang apresiasi. Praktis, sekitar 80% dari tim-tim terbaik se-Indonesia yang telah menyisihkan puluhan ribu proposal awal dipaksa pulang tanpa memboyong bentuk rekognisi resmi sama sekali. Di sinilah letak kontradiksi paling tajam yang perlu kita gugat bersama. Karya ilmiah siswa di tingkat SMP dan SMA hari ini tidak lagi berada di level kliping sederhana atau replikasi eksperimen ala kadarnya. Para siswa menyajikan riset kompleks yang menyentuh ranah bioteknologi lanjut, formulasi obat kanker, green neurotherapeutic, hingga rekayasa teknologi terapan yang membutuhkan uji laboratorium berulang kali dan investasi biaya mandiri yang tak sedikit. Mereka melewati tahapan penilaian yang sangat melelahkan, yaitu mulai dari pameran booth, wawancara mendalam, hingga tantangan Research Idea Challenge (RICh). Sangat ironis ketika beban presisi riset sedemikian masif ini direspons oleh pemerintah pusat dengan panggung awarding yang kaku, tanpa adanya variasi penghargaan sekunder yang memadai seperti Honorable Mention, Best Poster, atau Best Innovation. Pemerintah memang gencar mengobral janji manis mengenai kemudahan jalur SNBP, porsi Manajemen Talenta Nasional (MTN), pendampingan BRIN, hingga akses Beasiswa Talenta Indonesia dari LPDP. Namun, janji-janji di hilir itu menjadi slogan abstrak ketika ekosistem pembinaan di hulu justru dibuat layu. Air mata dan kekecewaan anak-anak yang gugur di panggung final akibat kebijakan pemangkasan kuota memicu efek jera (demotivating effect) yang berbahaya. Ini berisiko mematikan minat mereka untuk terus berinovasi di jenjang perguruan tinggi. Lebih jauh lagi, bagi para pembina riset di daerah, sama halnya dengan perjuangan para pembina OSN, minimnya rekognisi resmi dari pusat menyulitkan mereka untuk memperjuangkan alokasi anggaran, fasilitas laboratorium, dan dukungan kebijakan dari manajemen sekolah maupun pemerintah daerah. Menumbuhkan budaya riset nasional tidak akan pernah tercapai hanya dengan membanggakan rekor jumlah pendaftar di atas kertas sembari membiarkan anak-anak terbaik bangsa pulang dengan air mata kecewa akibat apresiasi yang minim. Rekor partisipasi tanpa rasio penghargaan yang adil hanyalah bentuk eksploitasi antusiasme siswa dan sekolah. Jika kita mengukur komitmen Kemendikdasmen dan Puspresnas dari ketersediaan ruang apresiasi di OPSI 2026, nilainya jelas masih jauh dari kata memadai. Sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh: mengembalikan rasio medali yang proporsional seperti pada OPSI 2025, memperluas kategori penghargaan non-medali secara nyata, serta menjamin transparansi kebijakan sejak awal pendaftaran. Kita tidak boleh membiarkan panggung kompetisi ilmiah nasional kita, baik OSN maupun OPSI, terus-menerus menjadi arena yang menuntut presisi dan kerja keras setinggi langit, namun hanya sanggup memberikan apresiasi sesempit lubang jarum. Penulis: M. Ronaldi Adji Saputra (Koordinator Riset MAN 2 Kota Malang)