JAKARTA - Di media sosial, kritik terhadap kebijakan pemerintah mengalir deras. Ada yang menulis utas panjang, ada yang membuat meme, dan semuanya terasa wajar. Namun, orang yang sama bisa berhari-hari menatap layar ponsel hanya untuk mengirim satu pesan berisi perasaan kepada orang yang ia sukai. Lantas, mengapa menyatakan perasaan terasa lebih menakutkan daripada mengkritik pemerintah? Tulisan ini mencoba menjawabnya dari sisi psikologi sosial. Perlu ditegaskan sejak awal, tulisan ini murni kajian ilmu dan tidak dimaksudkan menilai kebijakan, tokoh, maupun pihak mana pun. Dua Hak yang Sama Berharga Mengkritik pemerintah dilindungi hukum. Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 menjamin hak setiap orang untuk mengeluarkan pendapat (UUD 1945, Pasal 28E ayat 3). Hak itu dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 (UU No. 9 Tahun 1998), dan Indonesia juga terikat Pasal 19 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 (UU No. 12 Tahun 2005). Menyatakan perasaan memang bukan urusan pasal, melainkan urusan kesehatan jiwa. Studi pada mahasiswa menemukan bahwa kemampuan mengelola emosi berpengaruh nyata terhadap kesejahteraan psikologis, meski sumbangannya kecil (Ahmad, 2025). Penelitian di Taiwan dan Amerika Serikat menemukan bahwa hanya penekanan emosi positif, bukan emosi negatif, yang berkaitan dengan kesejahteraan lebih rendah (Yu dkk., 2023). Rasa suka adalah emosi positif, sehingga menahannya terus-menerus ternyata punya harga. Pada pasangan suami istri di Portugal, menahan emosi berkaitan dengan kesejahteraan yang lebih rendah, sedangkan keterbukaan berkaitan dengan kesejahteraan diri yang lebih baik meski dampaknya bagi pasangan lebih rumit (Brandão dkk., 2020). Perasaan Tak Terbalas itu Lazim Perasaan yang tidak berbalas ternyata sangat umum. Dalam rentang dua tahun, cinta tak berbalas muncul sekitar empat kali lebih sering daripada cinta yang setara (Bringle dkk., 2013). Beban emosinya nyata dimana orang yang pernah mengalaminya cenderung memiliki harga diri dan kepuasan hidup lebih rendah, sementara humor dan kemampuan memandang masalah dari sudut lain dapat meredamnya (Greve dkk., 2021). Justru, hal yang paling ditakutkan adalah kejadian yang terjadi setelahnya. Penelitian kualitatif terhadap lima orang yang pernah mengalami friendzone mendapati bahwa persahabatan mereka semuanya memudar setelah perasaan terungkap dan tak berbalas, karena salah satu pihak menjauh (Lidyawati & Lestari, 2018). Diterima berarti naik dari teman menjadi pacar. Ditolak berarti berisiko kehilangan teman sekaligus. Hasilnya memang tidak seragam. Pada lima pasang Generasi Z di Bogor, hubungan tetap terjaga melalui komunikasi terbuka dan penyelesaian konflik yang sama-sama menguntungkan (Ramadhantya, 2023). Mengapa Kita Membeku? Pertama, terkait siapa yang menanggung risiko. Dalam studi pada komunitas politik daring di Amerika Serikat, sekitar tujuh dari sepuluh orang yang merasa pendapatnya minoritas memilih diam dan peluang mereka bersuara hanya separuh dibandingkan yang merasa sejalan dengan mayoritas (Zhao dkk., 2026). Kritik kepada pemerintah biasanya ramai, sehingga pengkritik merasa punya kawan sedangkan perasaan pribadi tidak punya kawan. Ini pembacaan penulis, bukan temuan langsung penelitian tersebut. Kedua, terkait jarak. Teori disinhibisi daring yang dipelopori Suler menyatakan bahwa hambatan yang muncul saat bertatap muka cenderung melemah di dunia maya, antara lain karena anonimitas dan komunikasi yang tidak serentak (Wen & Miura, 2023). Orang yang peka terhadap penolakan pun lebih nyaman menunjukkan diri yang sebenarnya secara daring dan kenyamanan itu berkaitan dengan keterbukaan diri (Blackhart dkk., 2021). Masalahnya, pesan perasaan dikirim kepada satu orang yang jelas identitasnya dan pesan yang terbaca tanpa balasan dapat memicu rasa cemas (Wen & Miura, 2023). Ketiga, terkait harga diri. Kerangka risk regulation menjelaskan bahwa orang berani membuka diri jika menilai situasi aman dan pasangan responsif, tetapi memilih melindungi diri jika ragu (Richter dkk., 2024). Pada penelitian yang dilakukan pada mahasiswa di Padang, harga diri yang lebih tinggi berkaitan dengan kepekaan penolakan yang lebih rendah (Hannanisa & Rinaldi, 2026). Ketakutan ini pun tidak sepihak, sebab orang yang menyatakan ketertarikan cenderung meremehkan betapa sulitnya menolak (Bohns & DeVincent, 2019). Studi itu dilakukan di lingkungan kerja akademik, sehingga penerapannya perlu hati-hati. Taruhan Ganda Menyatakan perasaan kepada teman mempertaruhkan dua hal sekaligus, yaitu harga diri dan hubungan yang sudah ada. Upaya mengejar cinta dirangkum sebagai pertaruhan berisiko tinggi, dengan ancaman kegagalan, rasa malu, dan turunnya harga diri (Bringle dkk., 2013). Kritik kepada pemerintah hampir tidak memiliki taruhan kedua itu. Seburuk-buruknya tanggapan, kita tidak kehilangan sahabat, walau tentu kritik punya risiko lain. Risikonya pun tersebar karena banyak orang bersuara bersama, sedangkan perasaan pribadi ditanggung seorang diri. Dekat dengan Kita Persoalan ini dekat dengan keseharian kita. Kajian di Semarang, Bogor, Padang, dan Makassar menunjukkan bahwa persahabatan lawan jenis, kepekaan terhadap penolakan, dan pengelolaan emosi memang bagian dari hidup anak muda Indonesia (Ahmad, 2025; Hannanisa & Rinaldi, 2026; Lidyawati & Lestari, 2018; Ramadhantya, 2023). Pola menahan emosi positif juga muncul di dua wilayah yang budayanya berbeda, sehingga tidak bisa begitu saja dianggap urusan budaya tertentu (Yu dkk., 2023). Namun, penelitian itu belum menguji Indonesia secara langsung. Dalam pembacaan penulis, media sosial ramah bagi suara yang ramai-ramai, tetapi belum tentu ramah bagi kerentanan pribadi. Sebelum Terlambat Keberanian ternyata bergantung pada seberapa banyak orang yang berdiri di sebelah kita. Kritik publik punya barisan, sedangkan perasaan pribadi seringkali tidak. Karena itu, kita perlu membangun ruang aman untuk menyatakan perasaan, bukan hanya ruang untuk berpendapat. Menyatakan perasaan juga bukan tugas satu jenis kelamin. Tidak ada aturan ilmiah yang mengharuskan laki-laki selalu memulai. Kebiasaan mengungkap atau menahan emosi dibentuk antara lain oleh cara laki-laki dan perempuan disosialisasikan (Brandão dkk., 2020). Kesetaraan ini berlaku dua arah sebab siapa pun boleh menyatakan, siapa pun boleh menolak, dan penolakan perlu diterima dengan lapang dada (Bohns & DeVincent, 2019). Lalu, mengapa tidak segera? Peluang diterima memang tidak selalu separuh-separuh, tetapi selama perasaan dipendam, jawabannya tidak akan pernah kita ketahui. Kalaupun ditolak, kita masih punya cara bertahan, termasuk humor dan kemampuan memandang dari sudut lain (Greve dkk., 2021). Gengsi dan ego sering terasa seperti pelindung. Padahal, menahan perasaan positif terus-menerus berkaitan dengan kesejahteraan yang lebih rendah (Yu dkk., 2023). Sekali lagi, itu hubungan dan bukan jaminan, tetapi cukup menjadi alasan agar gengsi tidak jadi penentu. Kritik kepada pemerintah punya pasal yang melindunginya. Perasaan kita tidak punya pasal, hanya punya satu pemilik. Nyatakanlah perasaan kepada orang yang kamu sukai sebelum terlambat dengan hormat dan hati yang lapang dada. Karena sejatinya hidup itu akan terus berjalan bagaimanapun keadaannya. Bumi tidak akan berhenti hanya karena dirimu bersedih. Referensi: Ahmad, A. T. (2025). Pengaruh regulasi emosi terhadap kesejahteraan psikologis pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa, 5(1). Blackhart, G. C., Hernandez, D. K., Wilson, E., & Hance, M. A. (2021). The impact of rejection sensitivity on self-disclosure within the context of online dating. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 24(10), 690–694. https://doi.org/10.1089/cyber.2020.0257 Bohns, V. K., & DeVincent, L. A. (2019). Rejecting unwanted romantic advances is more difficult than suitors realize. Social Psychological and Personality Science, 10(8), 1102–1110. https://doi.org/10.1177/1948550618769880 Brandão, T., Matias, M., Ferreira, T., Vieira, J., Schulz, M. S., & Matos, P. M. (2020). Attachment, emotion regulation, and well-being in couples: Intrapersonal and interpersonal associations. Journal of Personality, 88(4), 748–761. https://doi.org/10.1111/jopy.12523 Bringle, R. G., Winnick, T., & Rydell, R. J. (2013). The prevalence and nature of unrequited love. SAGE Open, 3(2). https://doi.org/10.1177/2158244013492160 Greve, W., Hauser, J., & Rühs, F. (2021). Humorous coping with unrequited love: Is perspective change important? Frontiers in Psychology, 12, Article 653900. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.653900 Hannanisa, P., & Rinaldi. (2026). The influence of adult attachment on rejection sensitivity with self-esteem as a mediator in college students. Indonesian Counseling and Psychology, 6(2), 49–59. Lidyawati, K., & Lestari, S. B. (2018). Disolusi hubungan persahabatan lawan jenis ketika friendzone. Interaksi Online. Ramadhantya, A. P. (2023). Strategi manajemen konflik dan komunikasi interpersonal dalam mengatasi permasalahan hubungan friendzone. Comserva, 3(6), 2199–2220. Richter, M., Kouri, G., Meuwly, N., & Schoebi, D. (2024). Rejection in romantic relationships: Does rejection sensitivity modulate emotional responses to perceptions of negative interactions? BMC Psychology, 12, Article 365. https://doi.org/10.1186/s40359-024-01864-w Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28E ayat (3). Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik). Wen, R., & Miura, A. (2023). Online disinhibition: Reconsideration of the construct and proposal of a new model. Osaka Human Sciences, 9, 63–81. https://doi.org/10.18910/90710 Yu, C.-W. F., Haase, C. M., & Chang, J.-H. (2023). Habitual expressive suppression of positive, but not negative, emotions consistently predicts lower well-being across two culturally distinct regions. Affective Science, 4(4), 684–701. https://doi.org/10.1007/s42761-023-00221-1 Zhao, D., Yang, D., & Bernstein, M. S. (2026). Mapping the spiral of silence: Surveying unspoken opinions in online communities. Dalam Proceedings of the 2026 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI '26). ACM. https://doi.org/10.1145/3772318.3790361