Naskah ini pada mulanya dipersiapkan sebagai bagian dari sebuah buku yang ditulis bersama sejumlah penulis lainnya. Namun, tanpa penjelasan mengenai alasan yang mendasarinya, naskah ini tidak dimuat dalam penerbitan tersebut. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mempublikasikannya sendiri. JAKARTA. NETRALNEWS.COM - Kabar duka menyelimuti bangsa Indonesia. Salah satu intelektual dan birokrat terbaik yang pernah dimiliki negeri ini, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, M.A., Ph.D., telah berpulang ke rahmatullah pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Beliau wafat pada usia 84 tahun. Bagi saya pribadi, almarhum bukan sekadar seorang negarawan dan cendekiawan, melainkan juga seorang senior sekaligus mentor yang banyak memberikan bimbingan, arahan, dan dorongan positif dalam perjalanan intelektual saya. Bersama almarhum Prof. Priyatna Abdurrasjid, beliau menaruh perhatian yang sangat besar terhadap berbagai tulisan, buku, serta pemikiran saya mengenai kedaulatan negara di ruang udara. Kedua almarhum secara konsisten mendorong saya agar seluruh gagasan dan pemikiran tersebut tidak hanya berhenti dalam bentuk artikel atau buku, tetapi disusun secara lebih sistematis dan akademis dalam format sebuah disertasi. Dorongan, kepercayaan, dan keyakinan mereka menjadi salah satu sumber motivasi yang kuat dan akhirnya mengantarkan saya terus berusaha untuk menempuh dan menyelesaikan pendidikan doktoral. Bagi mereka yang pernah bekerja sama atau sekadar berinteraksi dengannya, kepergian Juwono Sudarsono pasti akan meninggalkan duka yang mendalam. Sosoknya dikenal bukan hanya karena kecerdasan akademisnya yang luar biasa, tetapi terutama karena kerendahan hatinya. Di tengah hiruk-pikuk kekuasaan, ia tetap tampil sebagai pejabat yang santun, mendengar, dan tidak pernah kehilangan sentuhan kemanusiaan. Ia adalah bukti bahwa seorang pemimpin bisa menjadi kuat tanpa harus kehilangan kerendahan hati. Beliau rendah hati tetapi sangat kuat memegang prinsip. Salah satu sikapnya yang sampai sekarang masih teringat segar dikepala saya adalah saat beliau merespon “panggilan” dari DPR yang tersiar di berbagai media. Pak Juwono pernah berkata tegas bila saya di panggil DPR saya tidak akan datang. Bila di undang sebagai Menteri Pertahanan, maka dengan senang hati saya akan memenuhinya. Itulah Pak Juwono Sudarsono. Salah satu kenangan yang paling berkesan dari sekian banyak kesempatan saya berinteraksi dengan almarhum adalah ketika beliau berkenan meluangkan waktu untuk menghadiri acara peluncuran buku saya yang berjudul Pertahanan Indonesia – Angkatan Perang Negara Kepulauan. Buku yang diterbitkan oleh Red & White Publishing tersebut mengupas konsep pertahanan Indonesia sebagai negara kepulauan serta pembangunan angkatan perang yang sesuai dengan karakteristik geografis dan kepentingan strategis nasional. Buku tersebut juga pernah menjadi bahan diskusi pada bedah buku di USINDO (United States–Indonesia Society) Washington, D.C., Amerika Serikat. Bedah buku tersebut dipimpin langsung oleh Ambassador David Merrill. Kegiatan itu berlangsung pada tahun 2012, bertepatan dengan kunjungan saya ke Amerika Serikat. Forum USINDO menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memperkenalkan pemikiran mengenai pertahanan Indonesia kepada kalangan akademisi, diplomat, pejabat pemerintahan, serta pemerhati hubungan Indonesia–Amerika Serikat. Diskusi yang berlangsung secara terbuka dan konstruktif menunjukkan bahwa konsep pertahanan negara kepulauan Indonesia mendapat perhatian dan apresiasi dari berbagai kalangan internasional. Disisi lain, kembali tentang Juwono Sudarsono, Almarhum menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap berbagai buku yang saya tulis, terutama yang membahas isu-isu pertahanan, strategi militer, dan pembangunan angkatan perang Indonesia. Beliau tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi juga kerap berdiskusi, menyampaikan pandangan, memberikan masukan, serta mendorong agar gagasan-gagasan tersebut terus dikembangkan sebagai kontribusi intelektual bagi kemajuan bangsa. Yang paling saya kagumi, meskipun berlatar belakang akademisi dan sipil, almarhum Prof. Dr. Juwono Sudarsono memiliki perhatian dan kepedulian yang luar biasa terhadap persoalan pertahanan negara. Keluasan wawasan strategis, kedalaman pemahaman, serta konsistensi pemikiran beliau mengenai pertahanan nasional, menurut hemat saya, bahkan melampaui perhatian yang ditunjukkan oleh tidak sedikit tokoh militer yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Beliau memandang pertahanan negara sebagai bagian integral dari kepentingan nasional yang harus dibangun melalui pemikiran strategis, penguasaan ilmu pengetahuan, dan kebijakan yang berorientasi jangka panjang. Dukungan, perhatian, dan kepercayaan yang beliau berikan terhadap karya-karya saya merupakan kenangan yang akan selalu saya hargai dan saya kenang dengan penuh rasa hormat. Akademisi yang Mengukir Sejarah Lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 5 Maret 1942, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, M.A., Ph.D. merupakan putra Sudarsono, Menteri Dalam Negeri pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Jiwa kepemimpinan telah mengalir dalam dirinya sejak kecil. Namun, jalan yang dipilihnya bukanlah semata jalur politik atau birokrasi, melainkan dunia akademik sebagai landasan pengabdian kepada bangsa. Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Indonesia, Juwono melanjutkan studi di sejumlah perguruan tinggi bergengsi dunia, antara lain The Institute of Social Studies di Den Haag, University of California, Berkeley, dan meraih gelar doktor (Ph.D.) dari London School of Economics and Political Science (LSE). Kiprahnya sebagai akademisi mengantarkannya menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Ia juga pernah menjadi dosen tamu di Columbia University, New York. Bagi Juwono, kekuatan gagasan dan pemikiran merupakan modal utama dalam membangun bangsa dan memperkuat negara. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Juwono mencatatkan namanya sebagai Menteri Pertahanan sipil pertama setelah puluhan tahun jabatan tersebut selalu diemban oleh perwira tinggi militer. Kepercayaan yang diberikan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 1999, dan kemudian kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2004–2009, dijawabnya dengan kepemimpinan yang visioner, profesional, dan berintegritas. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan sipil di sektor pertahanan dapat berjalan efektif tanpa mengurangi profesionalisme institusi pertahanan negara. Pengabdian Juwono kepada bangsa tidak hanya terbatas pada bidang pertahanan. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup pada penghujung pemerintahan Presiden Soeharto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, serta Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris pada era Presiden Megawati Soekarnoputri. Rangkaian pengabdian tersebut mencerminkan keluasan wawasan, kedalaman pemikiran, dan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengemban berbagai amanah strategis negara. Dengan perpaduan antara kapasitas akademik, pengalaman birokrasi, dan integritas pribadi, Prof. Juwono Sudarsono dikenang sebagai salah satu negarawan sekaligus intelektual publik terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Jejak pemikiran dan pengabdiannya akan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun Indonesia yang berdaulat, berwawasan, dan bermartabat. Warisan Pemikiran yang Abadi Warisan terbesar Prof. Juwono Sudarsono tidak semata-mata terletak pada berbagai jabatan strategis yang pernah diembannya, melainkan pada gagasan dan pemikiran yang terus relevan melampaui zamannya. Sebagai seorang akademisi sekaligus negarawan, ia meyakini bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militernya, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tata kelola pemerintahan yang baik, serta terwujudnya keadilan sosial. Seluruh aspek tersebut dipandangnya sebagai fondasi utama bagi ketahanan dan pertahanan nasional yang berkelanjutan. Dalam setiap pengabdiannya, Prof. Juwono selalu berupaya menjembatani dunia akademik dengan praktik penyelenggaraan pemerintahan. Baginya, kebijakan publik harus lahir dari kajian ilmiah yang mendalam, sementara pemikiran akademik harus mampu menjawab kebutuhan nyata bangsa. Pendekatan inilah yang menjadikannya sebagai salah satu arsitek penting reformasi sektor pertahanan Indonesia pada era Reformasi, dengan menempatkan supremasi sipil, tata kelola yang demokratis, transparansi, dan profesionalisme sebagai prinsip-prinsip utama dalam pembangunan pertahanan negara. Pemikiran-pemikirannya terus menjadi rujukan bagi kalangan akademisi, birokrat, maupun para pengambil kebijakan. Warisan intelektual tersebut tidak hanya memperkaya khazanah studi pertahanan di Indonesia, tetapi juga meninggalkan teladan tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat diimplementasikan secara nyata untuk memperkuat negara dan melayani kepentingan bangsa. Dengan demikian, nama Prof. Juwono Sudarsono akan selalu dikenang sebagai seorang cendekiawan, negarawan, dan guru bangsa yang dedikasi serta pemikirannya akan terus hidup dan menginspirasi generasi-generasi penerus. Penghormatan Terakhir Keluarga, para sahabat, dan segenap bangsa Indonesia memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Prof. Dr. Juwono Sudarsono, M.A., Ph.D. Jenazah disemayamkan di Gedung Urip Sumoharjo, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, pada Minggu, 29 Maret 2026. Selanjutnya, beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, sebagai penghormatan negara atas pengabdian, dedikasi, dan jasa-jasanya sepanjang hayat kepada bangsa dan negara. Kepergian Prof. Juwono Sudarsono meninggalkan duka yang mendalam sekaligus kehilangan besar bagi Indonesia. Negara menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana dan Bintang Jasa Utama sebagai pengakuan atas jasa dan pengabdiannya. Bagi mereka yang pernah mengenal dan bekerja bersama beliau, warisan yang paling berharga bukanlah tanda kehormatan tersebut, melainkan keteladanan pribadi, keluasan wawasan, integritas, kerendahan hati, dan komitmennya yang tak pernah surut terhadap ilmu pengetahuan dan kepentingan bangsa. Bagi saya pribadi, beliau bukan hanya seorang mantan menteri, guru besar, atau negarawan. Beliau adalah seorang mentor yang dengan tulus membimbing, memberi inspirasi, dan menanamkan keyakinan bahwa gagasan yang baik harus diperjuangkan melalui karya ilmiah yang bermanfaat bagi negara. Bersama almarhum Prof. Priyatna Abdurrasjid, beliau menjadi sosok yang terus mendorong saya untuk mengembangkan pemikiran mengenai kedaulatan negara di ruang udara hingga akhirnya dituangkan dalam sebuah disertasi. Dorongan dan kepercayaan beliau akan selalu saya kenang sebagai bagian penting dalam perjalanan akademik saya. Selamat jalan, Prof. Juwono Sudarsono. Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, dan warisan pemikiran yang telah Bapak tinggalkan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, mengampuni segala khilaf, melapangkan alam kubur, serta menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisi-Nya. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Jakarta, 16 Juli 2026 Chappy Hakim Pusat Studi Air Power Indonesia