MEDAN - Hampir semua orang kini memegang gawai, tetapi tidak semuanya paham cara memanfaatkannya. Memiliki perangkat belum tentu berarti mampu memilah informasi atau menggunakan teknologi untuk keperluan sehari-hari. Di titik inilah lembaga pendidikan nonformal seperti Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Karya Prima punya peran. Tulisan ini berdasarkan observasi dan wawancara yang saya lakukan di LKP Karya Prima, di Jl. Gurilla No.2, Sidorejo, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20222. Lembaga ini menyelenggarakan kursus komputer, akuntansi, Bahasa Inggris, dan TOEFL. Karena bertolak dari satu lembaga, mencakup pengamatan saya tentu terbatas. Di kelas komputer, peserta tidak hanya menerima teori. Mereka langsung berlatih menggunakan Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint, mengetik dengan sepuluh jari, menjelajahi internet, serta mencetak dokumen. Keterampilan itu diterapkan di banyak hal, mulai dari mengerjakan tugas, mengolah data, dan menyusun bahan presentasi, hingga mencari informasi dan membantu pekerjaan. Manfaatnya bisa langsung dirasakan. Meski begitu, menurut saya literasi digital tidak berhenti pada bisa mengoperasikan komputer. Teknologi baru terasa manfaatnya ketika dipakai untuk menambah pengetahuan. Contohnya tampak di kelas Bahasa Inggris. Peserta menggunakan komputer dan internet untuk mencari arti kata, membaca materi, menonton video pembelajaran, mendengarkan audio, dan mengerjakan latihan secara digital. Di sini komputer menjadi pintu masuk menuju informasi yang lebih luas. Peserta belajar memanfaatkan internet untuk belajar, bukan hanya mengoperasikan perangkat. Peran tutor tetap penting. Peserta membutuhkan Arah saat berlatih. Dengan bimbingan, mereka berani mencoba, bertanya, dan memperbaiki kesalahan. Pendidikan nonformal seperti ini juga dapat menumbuhkan kebiasaan belajar di masyarakat. Lingkungan yang mendukung menambah minat belajar dan membuka akses terhadap informasi. Hal ini penting karena teknologi terus berubah, sehingga kemauan belajar harus terus dijaga. Tentu ada catatan. Temuan di satu lembaga belum tentu berlaku di tempat lain. Manfaat sebuah kursus juga mempengaruhi banyak hal, misalnya ketersediaan perangkat, kualitas jaringan internet, biaya, dan latar belakang peserta yang beragam. Pendidikan formal, keluarga, dan pemerintah pun memegang peran yang sama pentingnya. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan satu aplikasi hari ini tentu saja belum cukup untuk kebutuhan mendatang. Literasi digital sebaiknya dipahami sebagai kemampuan yang terus diasah, yakni mengikuti perkembangan teknologi, memahami informasi yang diperoleh, dan menggunakannya secara tepat. Menurut saya, pelatihan komputer memberi bekal praktis, sedangkan pemanfaatan teknologi di kelas Bahasa Inggris melatih peserta menjadikan perangkat digital sebagai sumber belajar. Keduanya saling melengkapi. Keberhasilan literasi digital tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang memiliki perangkat. Ukuran yang lebih tepat adalah kemampuan menggunakan teknologi untuk belajar, bekerja, mencari informasi, dan mengembangkan diri. Masyarakat membutuhkan lebih dari sekedar perangkat. Mereka perlu kesempatan belajar, praktik langsung, bimbingan pengajar, dan lingkungan yang mendorong mereka terus mengembangkan kemampuan digitalnya.