PAMULANG - Pagi hari, secangkir kopi menemani banyak orang memulai aktivitas. Tapi tahukah kamu, biji kopi yang diseduh itu mungkin punya perjalanan panjang sebelum tiba di cangkirmu, bahkan sempat melintasi benua? Kisah kopi Indonesia di pasar dunia ternyata punya cerita yang layak disimak, apalagi tanpa drama yang bikin pusing. Rekor di tengah tantangan Sepanjang 2025, ekspor kopi Indonesia mencatat volume 508.800 ton, meningkat 62,61 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai 2,50 miliar dolar AS. Angka ini menjadikan 2025 sebagai salah satu tahun terbaik dalam sejarah ekspor kopi nasional dari sisi nilai. Menariknya, cerita ini punya sisi yang agak paradoks. Nilai ekspor kopi Indonesia melonjak dari 258,8 juta dolar AS pada 2003 menjadi 1,64 miliar dolar AS pada 2024, padahal volume ekspornya justru sedikit menyusut dari 323.520 ton menjadi 316.721 ton pada periode yang sama. Artinya, kenaikan harga kopi di pasar global menjadi pendorong utama membengkaknya nilai ekspor, bukan semata-mata karena produksi yang bertambah banyak. Pada kuartal pertama 2026, ekspor kopi Indonesia tercatat senilai 344,38 juta dolar AS dari 1.903 pengiriman ke berbagai negara. Namun Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) memproyeksikan target volume ekspor sepanjang 2026 hanya berkisar 330.000 hingga 360.000 ton, lebih rendah dibanding capaian 2025. Meski begitu, asosiasi ini tetap optimistis karena karakter rasa kopi Indonesia dianggap sulit digantikan oleh negara produsen lain. Ke mana saja kopi kita pergi? Amerika Serikat masih menjadi pelanggan setia kopi Indonesia, dengan pangsa sekitar 18,77 persen dari total nilai ekspor. Di belakangnya ada Mesir, Malaysia, Belgia, dan Jerman yang juga rutin menjadi tujuan ekspor sejak beberapa tahun terakhir. Pada periode Januari hingga Oktober 2025, ekspor kopi justru paling besar mengalir ke Filipina dengan pangsa 11,7 persen, menunjukkan bahwa peta pasar kopi Indonesia terus bergeser dan meluas. Yang menarik, Indonesia juga mulai menyapa pasar yang sebelumnya kurang dilirik. Ekspor kopi ke Federasi Rusia tercatat tumbuh 280,5 persen, sementara ke Vietnam, yang notabene juga produsen kopi besar dunia, naik 214,7 persen. Fakta ini cukup menggelitik: negara penghasil kopi besar pun tertarik membeli kopi dari Indonesia. Ini jadi bukti bahwa karakter rasa kopi Nusantara, dari Gayo, Toraja, hingga Kintamani, punya daya tarik unik yang sulit ditiru. Peluang yang belum tergarap. Berdasarkan estimasi ITC Export Potential Map 2025, Indonesia diperkirakan punya potensi ekspor kopi dan produk turunannya senilai 1,08 miliar dolar AS, namun 650 juta dolar AS di antaranya belum terealisasi ke sepuluh negara tujuan ekspor terbesar. Jerman disebut sebagai pasar dengan potensi terbesar yang belum tergarap maksimal, senilai 280 juta dolar AS, disusul Jepang, Vietnam, dan Italia. Angka-angka ini menggambarkan bahwa masih ada ruang besar bagi petani dan pelaku usaha kopi Indonesia untuk memperluas pasar. Permintaan terhadap kopi specialty dan single origin juga terus meningkat seiring semakin pedulinya konsumen global terhadap asal-usul dan kualitas biji kopi yang mereka minum. Mengapa harga bisa naik meski produksi turun? Fenomena produksi turun tetapi nilai ekspor naik sebenarnya cukup umum terjadi pada komoditas pertanian yang dipengaruhi harga pasar global. Ketika pasokan dunia terbatas, sementara permintaan tetap tinggi, harga otomatis naik. Produsen kopi Indonesia pun ikut menikmati kenaikan harga ini meski jumlah karung yang dikirim tidak bertambah banyak. Kondisi ini mengajarkan satu hal penting dalam perdagangan internasional: nilai tidak selalu berbanding lurus dengan volume. Sebuah negara bisa tetap meraih devisa besar dari komoditas unggulannya, asalkan kualitas produknya dijaga dan posisi di pasar global tetap kuat, meski kuantitas produksi sedang tidak dalam kondisi terbaik. Pelajaran santai dari secangkir kopi Dari cerita kopi ini, ada beberapa hal yang bisa dipetik dengan santai. Pertama, kualitas sering kali lebih berharga daripada kuantitas, terutama untuk produk dengan ciri khas seperti kopi Nusantara. Kedua, diversifikasi pasar ekspor, seperti menyasar Rusia dan Vietnam yang sebelumnya kurang dilirik, bisa membuka peluang baru yang tidak terduga. Ketiga, menjaga standar mutu sejak dari kebun hingga pengemasan adalah kunci agar kopi Indonesia tetap dipercaya pembeli dunia. Bagi generasi muda yang gemar nongkrong di kedai kopi, cerita ini bisa jadi pengingat menarik. Kopi yang diseduh di meja kafe langganan ternyata adalah bagian dari rantai perdagangan internasional yang melibatkan petani di pegunungan, eksportir, hingga pembeli di berbagai belahan dunia. Kisah kopi Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional tidak selalu identik dengan isu berat dan rumit. Kadang, ceritanya bisa semanis dan sehangat secangkir kopi pagi ini, lengkap dengan tantangan yang dihadapi dengan kepala dingin, bukan dengan drama. Yang pasti, di balik setiap tegukan kopi, ada perjalanan panjang yang layak kita apresiasi. Tim Penulis: Tasya Apriliana Sihombing, Zefanya Fioletta, Novia Susanti SE,MM. Ekonomi Internasional— Universitas Pamulang