JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di tengah konflik, pengungsian, ketakutan, dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, rakyat Papua tetap menunjukkan penghormatan terhadap Merah Putih. Upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia tetap dilaksanakan di berbagai daerah, termasuk wilayah yang masih menghadapi persoalan keamanan. Hal tersebut disampaikan Agustinus R. Kambuaya, Anggota DPD RI sekaligus Wakil Ketua DPP Desa Bersatu, kepada awak media, Rabu (19/8/2026). Menurut Kambuaya, situasi tersebut menjadi catatan penting untuk melihat kembali makna nasionalisme masyarakat Papua terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Jangan pernah mempertanyakan kecintaan orang Papua kepada negeri ini. Lihatlah bagaimana mereka tetap berdiri ketika sedang terluka,” kata Kambuaya. Ia menilai, rakyat Papua telah berulang kali menunjukkan kesetiaan kepada Republik Indonesia melalui penghormatan terhadap Merah Putih dan partisipasi dalam peringatan kemerdekaan, meskipun sebagian masyarakat masih menghadapi persoalan keamanan, pengungsian, serta persoalan tanah dan sumber daya alam. “Rakyat Papua telah menunjukkan apa yang mereka berikan kepada negara: kesetiaan, penghormatan kepada Merah Putih, dan komitmen untuk tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia, bahkan dalam keadaan terluka,” ujarnya. Kambuaya kemudian menyinggung kondisi masyarakat Nduga yang mengalami pengungsian serta situasi di Maybrat yang menurutnya masih menyisakan pertanyaan terkait dugaan kekerasan terhadap warga. Ia mempertanyakan sejauh mana negara memberikan perlindungan dan memastikan penegakan hukum terhadap masyarakat yang menjadi korban kekerasan. “Apakah negara juga hadir dengan kesungguhan yang sama untuk melindungi mereka?” katanya. Ia juga mendorong adanya respons cepat dan investigasi yang transparan terhadap berbagai dugaan kekerasan terhadap masyarakat sipil di Papua, termasuk kasus yang disebutnya menimpa Ibu Melkiana Duwitau di Puncak serta dugaan penembakan warga sipil di Maybrat menjelang HUT ke-81 RI. Menurut Kambuaya, nasionalisme masyarakat Papua tidak semestinya hanya diukur melalui pernyataan politik atau simbol-simbol formal. “Jangan pernah mengukur nasionalisme orang Papua hanya dari kata-kata. Ukurlah dari keteguhan mereka menjaga Merah Putih dalam keadaan sulit,” ujarnya. Ia mengatakan, yang dibutuhkan masyarakat Papua bukan hanya slogan persatuan dan nasionalisme, melainkan keadilan, perlindungan, kepastian hukum, penghormatan terhadap hak masyarakat, serta kehadiran negara yang nyata. “NKRI harus hadir bukan hanya ketika membutuhkan kesetiaan rakyat, tetapi terutama ketika rakyat membutuhkan perlindungan negara,” tegasnya. Bagi Kambuaya, peringatan 81 tahun NKRI seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Ketika masyarakat tetap menghormati Republik Indonesia dalam keadaan sulit, negara juga dinilai perlu menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak berjalan satu arah. “Jika rakyat Papua tetap berusaha mencintai NKRI dalam keadaan lemah, terhina, tersayat dan terluka, maka negara juga harus membuktikan bahwa kecintaan itu tidak bertepuk sebelah tangan,” pungkasnya. (*)