KEBUMEN, NETRALNEWS.COM - Alih-alih mendapatkan dukungan masyarakat Kebumen dan netizen, 500 Warga Kebumen yang akan berangkat ke Jakarta pada 27 Agustus dalam rangka mendukung Program Prabowo, termasuk MBG dan Swasembada Pangan, serta Tolak Aksi yang Berpotensi Memicu Provokasi, malah mendapatkan kecaman keras. Dari informasi yang didapatkan, dari 500 warga Kabupaten Kebumen, yang datang dari berbagai kalangan seperti petani, pedagang, sopir, buruh, nelayan, tukang becak, dan relawan Prabowo. Keberangkatan yang digagas DPD Tani Merdeka bersama kelompok yang mengatasnamakan Aliansi Kebumen Bersatu tersebut, seolah menjadi sebuah perlawanan kubu yang menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset bagi koruptor yang juga akan melakukan demo besar-besaran di hari dan tanggal yang sama. Dilansir dari kompas.com, Parjono selaku Ketua DPD Tani Merdeka Kebumen yang beberapa waktu lalu mengatakan kedatangan mereka ke Jakarta beralasan menjaga persatuan dan menghindari aksi yang berpotensi memicu provokasi dan dirinya menganggap sejumlah program pemerintah dinilai bermanfaat bagi masyarakat, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun langkah 500 warga Kebumen tersebut di media sosial malah mendapatkan komentar pedas dari netizen yang rata-rata masyarakat Kebumen. Akun bernama @Mansur misalnya, dirinya didalam komentarnya mengakatan, dari 500 orang yang berangkat dianggap gerombolan penjilat. Kecaman juga diutarakan akun Tri Agus Santoso, secara tegas dirinya mengutarakan jika demo tandingan sebagai langkah Pemerintah ingin mengadu domba anak bangsa. "Sebuah strategi politik adu domba penjajahan Belanda yang sangat manjur, untuk melemahkan bangsa ini, kini diterapkan lagi entah dari penjajah bantu atau bangsa sendiri," tegas Tri dalam komentarnya. menegaskan keberangkatan ke Jakarta akan dilakukan dalam bentuk aksi damai. Mereka juga menyatakan dukungan terhadap swasembada pangan dan perbaikan distribusi pupuk bersubsidi. "Jaga Jakarta, jaga Indonesia. Kami ingin menjaga persatuan bangsa dan menolak aksi yang berpotensi memicu provokasi," kata Parjono. Sementara itu, warga bernama Rahmatun menilai MBG tetap dibutuhkan sehingga persoalan dalam pelaksanaannya seharusnya diselesaikan melalui peningkatan pengawasan. "Jadi, bukan program MBG-nya yang harus dihentikan, tetapi pengawasan SPPG harus lebih ditingkatkan karena program MBG sangat dibutuhkan anak-anak kami," kata Rahmatun. Komentar pedas juga di katakan oleh akun bernama Supri Singowitirto, dirinya menganggap 500 warga Kebumen yang akan ke Jakarta kebanyakan di isi oleh para pekerja MBG. "Karyawan MBG itu, masak petani nelayan kok bersih-bersih badannya," jelas Supri sambil disertai imoge tertawa. Dalam aksi 27 Agustus 2026 mendatang, dari Kepolisian sendiri menurut informasi sudah menyiapkan 9000 personil guna mengantisipasi kerusuhan yang akan terjadi saat aksi.