BANJARNEGARA, NETRALNEWS.COM - Pembakaran ban bekas dalam setiap aksi, banyak masyarakat yang beranggapan jika itu adalah salah satu bentuk simbol rupuh. Padahal hal itu dilakukan atas dasar ketidakpuasan massa terhadap kebijakan-kebijakan yang dianggap belum menyentuh masyarakat. Salah satunya aksi dan audensi yang dilakukan Aliansi Wargo Hutomo (AWH) Banjarnegara, yang terjadi pada, Kamis, (1/10/2026) kemarin. Akibat tidak diperbolehkannya massa masuk ke halaman gedung DPRD, melakukan orasi dan membakar larangan ditengah jalan, hal itu dilakukan sebagai bentuk protes keras karena gedung Dewan yang selama ini dianggap rumah rakyat, tetapi saat ingin masuk dihalangi oleh pagar pembatas. Dalam aksi dan audensi yang dilakukan AWH di gedung DPRD Banjarnegara dengan dihadiri Bupati, Wakil Bupati, Ketua Dewan, Sekda dan beberapa Kepala OPD tersebut, meskipun berhasil merobohkan pagar, namun dengan pengamanan ketat yang dilakukan Kepolisian, ratusan massa tetap tertahan di luar pintu gerbang. Aksi Aliansi Wargo Hutomo adalah sebagai bukti nyata, bagaimana mukanya rakyat dengan janji manis yang diberikan oleh Pemerintah Daerah maupun Dewan, karena banyak permalasahan di Banjarnegara seperti sampah, kemiskinan, dugaan jual jabatan hingga oknum dewan jual Pokir tidak satupun yang belum terselesaikan, hanya dibahas tanpa eksekusi nyata, tegas Ketua AWH, Kurnia Dwi, Jumat, (20/2/2026). Audensi yang dilakukan oleh AWH, juga bukan semata-mata hanya mencari popularitas maupun tendensi kepentingan pribadi maupun politik. “ Pergerakan atau audensi yang kita lakukan sebagai bentuk integrasi aspirasi masyarakat secara murni, karena Aliansi Wargo Hutomo dibentuk sebagai sebuah wadah atau rumah aspirasi, siapa pun tanpa membedakan dari golongan apapun dan manapun yang ingin menyampaikan aspirasinya melalui kami, kami siap mengawal, selama itu untuk kepentingan Banjarnegara yang lebih baik lagi, karena selama ini banyak persoalan yang terjadi namun banyak masyarakat yang takut menyuarakannya,” ujar Dwi. Di sisi lain, Dwi juga menegaskan, jika pergerakan Aliansi Wargo Hutomo pada Kamis kemarin, adalah sebuah awal menuju perubahan untuk Kabupaten Banjarnegara yang maju dan abadi. “Kami bersama masyarakat yang menginginkan Banjarnegara lebih maju lagi seperti Daerah lainnya, kami ingin agar para pejabat tidak hanya mementingkan dirinya sendiri dan kelompoknya, jangan hanya duduk manis di belakang meja, tapi mereka dibayar menggunakan uang rakyat untuk bekerja, untuk bukan dilayani, makanya saya bilang kemarin adalah pergerakan awal, kalau sampai apa yang sudah kita teken bersama tidak cepatnya di tindak lanjuti, maka kami akan turun lagu ke jalan untuk melayani janji Pemkab dan Ketua Dewan,” pungkas Dwi. Awal terbentuknya Aliansi Wargo Hutomo Banjarnegara, yang beranggotakan dari berbagai lembaga, seperti aktivis, LSM, Ormas, komunitas tersebut karena melihat situasi dan persoalan yang banyak tidak disentuh oleh Pemerintah Daerah. Sehingga lahirnya AWH dianggap menjadi sebuah awal pergerakan dalam menyatukan visi dan misi dengan semboyan 'Meskipun Beda Seragam Tapi Seragam'.