JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sebanyak 49,66 juta siswa di Indonesia telah menerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 2026. Data tersebut disampaikan dalam studi yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait dampak dan efektivitas kebijakan pemenuhan gizi bagi peserta didik di berbagai jenjang pendidikan. Program MBG yang dijalankan pemerintah selama satu tahun terakhir itu menyasar siswa dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah atas, termasuk lembaga pendidikan keagamaan dan nonformal. Penyaluran dilakukan secara bertahap di berbagai daerah dengan tujuan meningkatkan asupan gizi harian peserta didik. Berdasarkan hasil kajian BRIN, kelompok penerima terbesar berada di jenjang sekolah dasar. Rinciannya, siswa SD kelas 1–3 tercatat sebanyak 105.235 orang dan SD kelas 4–6 sebanyak 105.458 orang. Di madrasah ibtidaiyah (MI), penerima kelas 1–3 mencapai 20.449 siswa dan kelas 4–6 sebanyak 20.095 siswa. Untuk jenjang pendidikan anak usia dini, tercatat 59.705 siswa PAUD dan 71.021 siswa taman kanak-kanak menerima manfaat MBG. Sementara di tingkat menengah pertama, terdapat 29.429 siswa SMP dan 15.073 siswa MTs yang terdaftar sebagai penerima. Pada jenjang menengah atas, jumlah penerima terdiri dari 11.072 siswa SMA, 11.312 siswa SMK, serta 7.885 siswa MA. Program ini juga menjangkau 5.956 santri pesantren, 824 peserta didik PKBM, 24 peserta seminari, dan 162 siswa Sekolah Rakyat. Secara keseluruhan, BRIN mencatat total penerima mencapai 49,66 juta siswa. Angka tersebut menunjukkan cakupan program yang luas sejak pertama kali diimplementasikan secara nasional. Program MBG sendiri diluncurkan untuk meningkatkan kualitas gizi siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Informasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) menyebutkan bahwa menu makanan disusun berdasarkan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian. Porsi makan pagi dirancang memenuhi 20–25 persen kebutuhan gizi harian, sedangkan makan siang menyumbang 30–35 persen. Komposisi menu umumnya terdiri atas nasi atau sumber karbohidrat lain, lauk sebagai sumber protein, sayur, dan buah. Susu diberikan di daerah yang dekat dengan sentra peternakan sapi perah sebanyak dua hingga tiga kali per pekan. Untuk wilayah lain, kebutuhan kalsium digantikan dengan bahan pangan alternatif yang memiliki kandungan setara. Dalam studi tersebut, BRIN juga menelaah dampak program terhadap aspek sosial dan ekonomi, termasuk potensi peningkatan kualitas sumber daya manusia jangka panjang. Penelitian dilakukan melalui pengumpulan data lapangan dan analisis distribusi penerima di berbagai wilayah. Pelaksanaan MBG hingga 2026 menunjukkan perluasan sasaran yang tidak hanya terbatas pada sekolah formal, tetapi juga lembaga pendidikan berbasis masyarakat dan keagamaan. Pemerintah menyatakan distribusi akan terus dievaluasi agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan gizi masing-masing kelompok usia. Dengan capaian puluhan juta penerima, program ini menjadi salah satu intervensi gizi terbesar yang pernah dilakukan secara nasional di sektor pendidikan.