JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Denny Januar Ali, atau yang lebih dikenal sebagai Denny JA, secara resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar awal pekan ini. Penunjukan tokoh politik dan konsultan komunikasi ini menuai sorotan, mengingat latar belakang Denny yang lebih dikenal di bidang survei politik, opini publik, dan literasi digital, bukan di sektor energi dan migas. PHE merupakan anak usaha strategis Pertamina yang fokus pada eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, serta memainkan peran penting dalam ketahanan energi nasional. Karena itu, posisi Komisaris Utama PHE dianggap krusial dalam mengawal arah bisnis dan kebijakan di sektor hulu migas. Juru bicara Pertamina menyatakan bahwa penunjukan Denny telah melalui proses pertimbangan dan disetujui oleh Kementerian BUMN. “Pak Denny dikenal luas dalam dunia komunikasi dan strategi kebijakan publik. Kami percaya kompetensinya dapat memperkuat tata kelola PHE secara menyeluruh,” ujar pihak Pertamina. Namun, sejumlah pengamat mempertanyakan keputusan ini. Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Mamit Setiawan, menyebut bahwa penunjukan figur politis dalam jajaran komisaris BUMN menguatkan kesan bahwa posisi tersebut kerap dijadikan sebagai “tempat parkir” kekuasaan pasca-politik. "Kita butuh orang yang paham betul soal lifting minyak, eksplorasi, risiko geologi, bukan hanya soal opini publik,” kata Mamit. Sementara itu, di media sosial, publik terbelah. Ada yang menilai wajar jika jabatan komisaris diisi oleh orang yang memiliki pengalaman manajerial atau kebijakan strategis, namun tak sedikit pula yang melihat hal ini sebagai bentuk politisasi BUMN yang terus berulang. Penunjukan Denny JA menambah daftar tokoh non-energi yang duduk di kursi komisaris perusahaan migas. Sebelumnya, Pertamina juga menunjuk tokoh-tokoh dari latar belakang media dan politik ke berbagai anak usahanya. Hingga saat ini, Denny JA belum memberikan pernyataan resmi terkait penunjukannya. Namun dari berbagai pernyataannya sebelumnya, ia sering menekankan pentingnya pendekatan komunikasi publik dalam kebijakan negara, termasuk di sektor energi. Apakah kehadiran Denny JA akan memberi warna baru atau justru memperkuat kesan patronase politik dalam tubuh Pertamina? Publik menunggu jawabannya dalam kinerja.