JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT), mendalami berbagai praktik pembangunan perdesaan Tiongkok sebagai bahan penguatan strategi percepatan pembangunan daerah tertinggal di Indonesia. Pembelajaran tersebut mencakup pengentasan kemiskinan, modernisasi pertanian, digitalisasi ekonomi, penguatan rantai nilai, hingga pengembangan desa berbasis potensi lokal. Melalui Program Pelatihan Kader Desa Indonesia Tahap II yang berlangsung pada 1–21 September 2026, Dimposma Sihombing, Direktur Penyerasian Pembangunan Sosial Budaya dan Kelembagaan Daerah Tertinggal, mengikuti rangkaian pembelajaran dan studi lapangan di Beijing, Provinsi Yunnan, serta Chengdu, Provinsi Sichuan. Salah satu pembelajaran penting di Beijing adalah bagaimana pengentasan kemiskinan diintegrasikan dengan pembangunan infrastruktur, penguatan layanan dasar, serta pemanfaatan teknologi digital. Pendekatan yang lebih terarah pada kebutuhan rumah tangga dan masyarakat tersebut dilengkapi dengan pengembangan e-commerce perdesaan, live-streaming commerce, serta sistem distribusi digital yang membuka akses pasar lebih luas bagi produk masyarakat desa. Pembelajaran berlanjut pada sektor pertanian dengan melihat bagaimana Tiongkok membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir. Di Yunnan, Dimposma dan peserta pelatihan meninjau pengembangan hortikultura, kopi, dan teh melalui penerapan teknologi budidaya, pengelolaan pascapanen, pengolahan lanjutan, penguatan branding, hingga integrasi dengan ekowisata. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat desa tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan meningkatkan nilai tambah dan memperluas akses pasar. Di Chengdu, perhatian diarahkan pada pengembangan desa modern yang mengintegrasikan pertanian presisi, konservasi lingkungan, pariwisata ekologis, ekonomi kreatif, dan teknologi digital. Dimposma dan peserta juga mempelajari pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), Big Data, serta pertanian pintar untuk meningkatkan efisiensi produksi dan pemasaran. Salah satu pendekatan yang menarik adalah prinsip produksi berdasarkan permintaan pasar, sehingga produksi pertanian lebih terhubung dengan kebutuhan konsumen dan dapat mengurangi risiko fluktuasi harga. Selain teknologi, penguatan kelembagaan dan kolaborasi menjadi bagian penting dari pembelajaran. Berbagai model yang diamati memperlihatkan keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi desa. Pendekatan tersebut diperkuat dengan pemanfaatan potensi lokal, termasuk seni budaya, kerajinan, agrowisata, dan ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan baru di perdesaan. Rangkaian pelatihan yang dibuka dan ditutup oleh Xiao Min, Wakil Kepala Divisi Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok, berakhir pada 21 September 2026 dengan penyerahan sertifikat kepada para peserta. Selama 21 hari, program ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus pembelajaran langsung mengenai transformasi perdesaan Tiongkok. Ditjen PPDT akan menindaklanjuti berbagai lessons learned tersebut melalui kajian terhadap praktik yang relevan dengan konteks Indonesia. Pembelajaran mengenai modernisasi pertanian, digitalisasi, penguatan rantai nilai, inovasi kelembagaan, dan pemberdayaan berbasis potensi lokal diharapkan dapat memperkaya pendekatan kebijakan dalam mendorong kemandirian ekonomi dan mempercepat pembangunan daerah tertinggal secara berkelanjutan.