BANJARNEGARA, NETRALNEWS.COM – Tim Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto melakukan pengamatan lapangan terkait kerusakan rumah warga di Dusun Tempuran, Desa Karekan, Kecamatan Pagentan. Hasil kajian menyebutkan, kerusakan bangunan dipicu oleh pergerakan tanah lambat (creeping) yang terjadi secara bertahap akibat faktor alam dan kondisi geologi wilayah. Temuan tersebut dipaparkan oleh Dr. Asmoro Widagdo, dosen dan peneliti Teknik Geologi Unsoed, saat audiensi warga Desa Karekan dengan Pj Sekretaris Daerah Banjarnegara Tursiman, bersama Asisten Sekda dan kepala OPD, di Ruang Rapat Sekda Banjarnegara, Rabu (4/2/2026). Dr. Asmoro menjelaskan, pola kerusakan berupa retakan pada dinding dan lantai rumah terjadi secara perlahan dan akumulatif, bukan akibat longsor besar yang terjadi tiba-tiba. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergerakan tanah lambat yang masih terus berlangsung. Dari hasil pengamatan, terdapat beberapa faktor dominan penyebab fenomena tersebut. Faktor utama adalah erosi vertikal dan lateral Sungai Merawu yang menggerus sisi tebing dan melemahkan kaki lereng, sehingga alur sungai bergeser dari kondisi alaminya. Selain itu, faktor geologi turut berperan. Wilayah Desa Karekan berada di atas lapisan batulempung Formasi Rambatan yang memiliki sifat mudah mengalami deformasi, terutama saat jenuh air. Tata guna lahan juga menjadi perhatian, mengingat sejumlah bangunan berdiri sangat dekat dengan tebing sungai tanpa dilengkapi struktur pengaman seperti talud atau bronjong. Faktor air semakin memperparah kondisi, mulai dari tingginya curah hujan, resapan kolam ikan, limbah rumah tangga, hingga meningkatnya debit sungai akibat deforestasi di wilayah hulu. Menjawab kekhawatiran warga terkait aktivitas pengerukan sedimen di Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Karekan, tim geologi menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak berkaitan langsung dengan kerusakan rumah warga. Pengerukan dilakukan secara lokal di area intake PLTM yang berjarak sekitar 1,1 kilometer dari lokasi permukiman terdampak. “Pengerukan berada di atas bendungan eksisting dan bersifat lokal, sehingga pengaruhnya terhadap perubahan aliran sungai di lokasi longsor sangat terbatas,” jelas Dr. Asmoro. Dalam kesempatan tersebut, Pj Sekda Banjarnegara Tursiman mengingatkan bahwa sekitar 70 persen wilayah Banjarnegara tergolong rawan bencana. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang adaptif dan selaras dengan kondisi alam agar keberlanjutan sosial dan ekonomi masyarakat tetap terjaga.