SOLO, NETRALNEWS.COM – Ada sebuah magnet besar yang setiap tahun terasa di Kota Solo. Magnet itu memang tidak terlihat oleh mata, tetapi dapat dirasakan oleh hati. Perayaan Maulid dan Haul ke-115 Habib Ali bin Muhammad Husein Al-Habsyi yang digelar pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 kembali menghadirkan ratusan ribu jemaah dari berbagai penjuru negeri, bahkan dari sejumlah negara. Setiap tahun, puluhan ribu hingga ratusan ribu peziarah tumpah ruah memadati Kota Solo. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari pelosok desa di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Jemaah juga datang dari berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, hingga Yaman yang merupakan negeri asal para habaib. Mereka datang bukan untuk berlibur ataupun berdagang. Mereka hadir dengan satu tujuan, yakni mengikuti Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, pengarang Maulid Simtudduror, serta rangkaian Maulid Akbar di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo. Magnet Haul Solo tidak terlepas dari sebuah ruangan di sebelah selatan Masjid Riyadh. Rasanya kurang lengkap bagi sebagian peserta haul jika belum berziarah ke tempat tersebut. Di ruangan itu terdapat tiga makam keturunan Habib Ali Al-Habsyi. Makam Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi diapit oleh makam Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi dan Habib Ahmad bin Alwi Al-Habsyi. Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi merupakan putra kandung Habib Ali Al-Habsyi. Habib Alwi berdakwah ke Indonesia dan kemudian mendirikan Masjid Riyadh di Solo pada 1355 Hijriah atau 1933 Masehi. Nama masjid tersebut sama dengan masjid yang didirikan ayahnya di Hadramaut, yakni Masjid Riyadh. Sementara itu, Habib Ahmad bin Alwi Al-Habsyi dan Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi merupakan putra Habib Alwi atau cucu Habib Ali Al-Habsyi. Habib Ahmad lahir ketika ayahnya masih berada di Hadramaut, sedangkan adiknya, Habib Anis, lahir di Indonesia. Keduanya kemudian meneruskan perjuangan para leluhurnya sebagai dai. Masjid Ar-Riyadh beralamat di Jalan Kapten Mulyadi, Sudiroprajan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo. Masjid tersebut berada di tenggara Keraton Solo dengan jarak sekitar satu kilometer. Bagi jemaah yang datang dari arah Simpang Empat Gladak atau Monumen Patung Slamet Riyadi di Jalan Slamet Riyadi, perjalanan dapat dilanjutkan ke arah timur. Setibanya di Simpang Empat Sangkrah, perjalanan dilanjutkan dengan mengambil arah kanan atau ke selatan menuju Jalan Kapten Mulyadi. Dari sana, perjalanan cukup dilanjutkan lurus ke arah selatan sekitar satu kilometer. Setelah melewati RS Umum Islam Kustati di sisi kiri jalan, lokasi kompleks Masjid Ar-Riyadh sudah tidak jauh. Dari RS Kustati, perjalanan dilanjutkan beberapa meter, kemudian mengambil jalur kanan. Masjid Ar-Riyadh berada di sisi kanan Jalan Kapten Mulyadi. Sohibul haul, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, merupakan ulama besar dan wali Allah yang lahir di Hadramaut, Yaman. Lisan beliau dikenal dekat dengan shalawat hingga melahirkan karya yang begitu dikenal di berbagai penjuru dunia Islam, yakni Maulid Simtudduror. Karya tersebut berisi untaian kisah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang hingga kini dibaca di berbagai majelis, masjid, dan musala, dari Hadramaut hingga Nusantara. Salah satu putra beliau, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, mendapat isyarat untuk hijrah dan menetap di Kota Solo. Dari tangan beliau kemudian berdiri Masjid Riyadh. Dari masjid tersebut, pembacaan Simtudduror dan tradisi kecintaan kepada Rasulullah SAW terus berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru Nusantara. Hingga kini, jasad Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi bersemayam di kompleks Masjid Riyadh dan menjadi salah satu tujuan ziarah para pecinta Rasulullah SAW. Lantas, apa yang membuat puluhan ribu manusia rela menempuh perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer? Mengapa mereka rela berpanas-panasan di bawah terik matahari Solo, berdesak-desakan, bahkan tidur beralaskan tikar di pelataran masjid? Bagi para jemaah, jawabannya adalah keinginan mendapatkan keberkahan dari sohibul haul. Mereka meyakini bahwa mencintai kekasih Allah merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan kecintaan Allah. Mencintai keluarga Rasulullah SAW juga menjadi bagian dari kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kesetiaan para jemaah terlihat dari kehadiran mereka yang terus berulang dari tahun ke tahun. Yang memanggil mereka bukan sekadar panitia atau sebuah agenda tahunan, melainkan panggilan cinta yang tumbuh dari dalam hati. Inilah magnet yang sesungguhnya, magnet mahabbah, magnet kerinduan kepada Rasulullah SAW melalui para pewaris dan keturunannya. Ketika hati telah terpaut kepada Rasulullah SAW, jarak tidak lagi menjadi penghalang. Rasa lelah pun seolah tidak lagi terasa. Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.