JAYAPURA - 30 September 2026 Sebuah pemandangan yang menggetarkan hati terjadi di jantung pendidikan Papua. Di Kampus Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Bendera Bintang Kejora berkibar tinggi di tiang bendera utama, tepat di depan gedung kampus beratap Honai yang menjadi ikon USTJ. Foto dan poster viral yang beredar dengan tulisan besar ."Bendera Bintang Kejora Berkibar di Kampus USTJ Jayapura Papua - HEBAT MAHASISWA JAYAPURA yang selalu bersuara demi kebenaran sejarah Papua". menjadi bukti nyata aksi tersebut. Dalam gambar yang diambil siang hari dengan langit biru cerah, terlihat 10 mahasiswa berdiri berbaris rapi membelakangi kamera. Mereka menghadap ke tiang bendera dengan sikap hormat dan khidmat. Beberapa dari mereka memakai ransel, topi, dan baju lapangan, layaknya mahasiswa yang baru selesai kuliah. Di depan mereka, mereka membentangkan spanduk panjang berwarna biru dan merah, sementara Bintang Kejora - bendera merah dengan bintang putih besar dan 13 garis biru putih - berkibar gagah tertiup angin di atas lapangan basket hijau-merah. Lokasi pengibaran bukan tempat sembarangan. Tiang bendera itu berada tepat di depan gedung utama USTJ, gedung dua lantai berwarna putih dengan pilar oranye dan atap Honai di pintu masuknya. Gedung ini adalah pusat aktivitas akademik USTJ. Memilih tempat ini berarti mahasiswa ingin menyampaikan pesan dari pusat ilmu pengetahuan. Bukan Aksi Spontan, Tapi Suara Sejarah Menurut informasi dari lapangan, aksi ini dilakukan secara damai dan tertib. Tidak ada aksi anarkis, tidak ada pembakaran, tidak ada lemparan. Yang ada hanya keberanian untuk berdiri bersama di lapangan terbuka pada siang bolong. Bagi generasi muda Papua, Bintang Kejora bukanlah bendera larangan. Ia adalah identitas, jati diri, dan memori kolektif tentang tanah leluhur. Ketika agama dan modernisasi datang dan perlahan menggerus adat, obat tradisional, dan cara hidup seperti yang sering kita diskusikan, Bintang Kejora menjadi simbol terakhir yang menyatukan semua suku - dari Amungme, Dani, Mee, hingga Biak - di bawah satu bintang. Seperti tulisan dalam poster, "yang selalu bersuara demi kebenaran sejarah Papua" aksi ini adalah pengingat bahwa sejarah Papua belum selesai ditulis. Mahasiswa USTJ mengambil peran sebagai penjaga sejarah. Mengapa USTJ? Mengapa Sekarang? USTJ dikenal sebagai kampus rakyat, kampus yang dekat dengan masyarakat adat Papua. Banyak anak-anak pedalaman yang kuliah di sini. Maka tidak heran jika suara dari USTJ selalu dianggap sebagai suara murni dari akar rumput Papua. Pengibaran pada 30 September 2026 ini menjadi sangat simbolik. Di saat banyak isu Papua tenggelam oleh isu nasional, mahasiswa Jayapura menunjukkan bahwa mereka masih ada, masih peduli, dan masih berani. Mereka tidak bersuara dengan kekerasan. Mereka bersuara dengan simbol. Mereka memanjat tiang bukan untuk merusak, tapi untuk menaikkan jati diri mereka sendiri dengan tangan mereka sendiri. Filosofi yang sangat Papua: jika ingin dihargai, naikkan sendiri martabatmu. Warisan Keberanian Foto ini kini telah menyebar luas di grup-grup WhatsApp, Facebook, dan Instagram mahasiswa se-Tanah Papua. Banyak komentar yang menyebut, "Ini baru mahasiswa!"“Salut untuk USTJ!", "Hollandia tidak diam." Bendera itu mungkin akan diturunkan oleh pihak kampus atau aparat besok pagi. Tapi keberanian 10 mahasiswa yang berdiri di bawahnya pada 30 September 2026 akan tetap hidup. Video dan foto mereka akan menjadi arsip sejarah bahwa di tahun 2026, di Kampus USTJ Jayapura, pernah berkibar Bintang Kejora dengan gagah. Dari lapangan basket FTSP, dari depan gedung Honai USTJ, dari tanah yang masih disebut Hollandia oleh orang tua kita, suara itu telah dikibarkan ke langit.