JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Presiden ke-7 RI, Jokowi, dipastikan menghadiri undangan Presiden RI Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Selasa (3/3/2026) malam. Agenda tersebut disebut sebagai forum silaturahmi sekaligus diskusi strategis mengenai perkembangan geopolitik global. Kehadiran Jokowi menjadi sorotan karena pertemuan ini digelar di tengah meningkatnya tensi internasional, khususnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pemerintah dinilai perlu menjaga komunikasi lintas kepemimpinan untuk memastikan kebijakan luar negeri Indonesia tetap solid dan terukur. Selain sebagai ajang mempererat hubungan antar-pemimpin, forum ini juga menjadi ruang bertukar pandangan terkait dampak global terhadap kondisi nasional, mulai dari stabilitas ekonomi hingga keamanan kawasan. Lantas, apa saja yang dibahas dan siapa saja yang terlibat? Jokowi Konfirmasi Hadir ke Istana Malam Ini Kepastian kehadiran Jokowi disampaikan oleh ajudannya, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah. Ia menyebut pertemuan dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB. “Ya betul (hadir), (nanti malam pukul) 19.30 (WIB),” ujar Syarif melalui pesan singkat kepada wartawan. Meski demikian, pihak Jokowi tidak merinci secara detail agenda pembahasan maupun daftar tamu lain yang akan hadir. Ia hanya menegaskan bahwa pertemuan tersebut bersifat silaturahmi dan diskusi. Forum Silaturahmi dan Diskusi Strategis Pertemuan antara presiden aktif dan presiden terdahulu bukan hal baru dalam tradisi demokrasi Indonesia. Forum seperti ini kerap dimanfaatkan sebagai wadah bertukar gagasan dan pengalaman, terutama dalam menghadapi situasi global yang dinamis. Sebagai mantan kepala negara dua periode (2014–2024), Jokowi dinilai memiliki pengalaman diplomasi dan pengambilan keputusan strategis yang relevan untuk didiskusikan bersama pemerintahan saat ini. Prabowo Ingin Beri Update Situasi Geopolitik Sebelumnya, Presiden Prabowo mengundang para presiden dan wakil presiden terdahulu ke Istana Kepresidenan Jakarta untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi geopolitik terkini. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut bertujuan menyampaikan perkembangan terbaru pascakunjungan luar negeri Presiden Prabowo. “Pak Presiden ingin memberikan update kepada Presiden terdahulu mengenai situasi geopolitik terbaru pasca-Presiden Prabowo kembali dari kunjungan luar negeri,” kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Fokus pada Konflik Iran–AS–Israel Salah satu isu utama yang dibahas adalah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang kembali memanas. Ketegangan tersebut dinilai memiliki dampak luas terhadap stabilitas global, termasuk potensi gangguan rantai pasok energi dan volatilitas harga minyak dunia. Bagi Indonesia, dinamika ini bisa berimbas pada: - Stabilitas nilai tukar rupiah - Harga energi dan BBM - Inflasi nasional - Arus investasi asing Karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai skenario kebijakan agar dampak eksternal bisa diminimalkan. Mencari Masukan dari Presiden Terdahulu Menurut Dasco, Presiden Prabowo juga ingin mendengar masukan dan saran dari para mantan presiden sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan. “Tentunya Pak Prabowo ingin mendengar masukan dan saran-saran dari presiden terdahulu untuk dijadikan pertimbangan-pertimbangan,” ujarnya. Langkah ini dinilai sebagai pendekatan inklusif dalam tata kelola pemerintahan, di mana pengalaman pemimpin sebelumnya tetap dihargai dan dimanfaatkan untuk kepentingan nasional. Tradisi Konsultatif dalam Demokrasi Secara politik, komunikasi lintas kepemimpinan memperlihatkan kesinambungan pemerintahan. Dalam konteks global yang tidak menentu, stabilitas politik domestik menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mitra internasional. Pengamat hubungan internasional dari berbagai universitas sebelumnya menilai bahwa Indonesia perlu menjaga posisi bebas aktif, terutama ketika konflik melibatkan kekuatan besar dunia. Pendekatan diplomasi yang berhati-hati namun tegas dinilai menjadi kunci. Dampak Geopolitik terhadap Indonesia Ketegangan di Timur Tengah berpotensi memengaruhi ekonomi global. Indonesia sebagai negara berkembang dengan ketergantungan pada impor energi tentu perlu mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah. Jika harga energi meningkat signifikan, maka: - Beban subsidi energi bisa bertambah - Defisit anggaran berpotensi melebar - Harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik Dalam situasi seperti ini, masukan dari pemimpin terdahulu yang pernah menghadapi krisis global—seperti pandemi COVID-19 maupun gejolak ekonomi dunia—menjadi relevan. Simbol Stabilitas Politik Nasional Pertemuan Jokowi dan Prabowo juga memiliki makna simbolis. Publik melihat adanya kesinambungan dan komunikasi yang terjaga antara pemimpin lama dan baru. Di tengah dinamika politik nasional pasca-transisi pemerintahan, soliditas elite menjadi sinyal positif bagi masyarakat dan pelaku pasar. Secara historis, hubungan baik antar-presiden membantu menjaga suhu politik tetap kondusif. Hal ini penting untuk memastikan agenda pembangunan tetap berjalan tanpa gangguan signifikan. Kehadiran Jokowi memenuhi undangan Presiden Prabowo di Istana Merdeka bukan sekadar agenda seremonial. Pertemuan tersebut membawa pesan penting mengenai stabilitas politik dan koordinasi strategis dalam menghadapi situasi geopolitik global yang kompleks. Dengan fokus pada konflik Iran–AS–Israel dan dampaknya terhadap Indonesia, forum ini diharapkan menghasilkan pandangan konstruktif untuk menjaga kepentingan nasional. Langkah Presiden Prabowo yang membuka ruang diskusi dengan presiden terdahulu juga memperkuat citra pemerintahan yang inklusif dan responsif terhadap dinamika global.