YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) fraksi Partai NasDem Roberth Rouw membongkar alasan tak terduga dalam meninjau kesiapan Jalan Tol Solo-Yogyakarta jelang Lebaran 2026. Sebagai Ketua Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi V DPR RI ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Roberth Rouw menegaskan salah satu fokus peninjauan kali ini adalah progres pembangunan Ruas Tol Solo–Yogyakarta, khususnya di Gerbang Tol (GT) Purwomartani yang berada di kawasan Cupuwatu, Purwomartani, Kalasan, Sleman, DIY. GT Purwomartani dirancang sebagai akses utama keluar-masuk Jalan Tol Solo–Yogyakarta menuju kawasan Kalasan dan Ring Road Utara Yogyakarta. Infrastruktur ini ditargetkan dapat beroperasi secara fungsional pada momen arus mudik dan balik Lebaran 2026. “Nanti rencananya saat arus mudik tol ini difungsikan satu arah dari Solo ke Yogyakarta, begitupun sebaliknya bila arus balik satu arah dari Yogyakarta ke Solo. Hal ini untuk meminimalisir kemacetan saat beroperasi fungsional,” ungkap Roberth dalam rilis yang diterima, Sabtu (21/2/2026). Sebagaimana diketahui, proyek strategis nasional ini memiliki total panjang lintasan mencapai 96,57 kilometer dengan nilai investasi sekitar Rp26,6 triliun. Pengelolaan proyek dilakukan oleh PT Jasamarga Jogja Solo. Struktur pembangunan jalan tol ini dibagi menjadi tiga seksi utama yang masing-masing memiliki tingkat kompleksitas medan dan tantangan teknis berbeda, mulai dari kepadatan kawasan perkotaan hingga karakteristik geografis yang rawan bencana. Minta Bina Marga Tingkatkan Pengawasan Komisi V DPR pun meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk meningkatkan pengawasan dan evaluasi dalam pelaksanaan konstruksi jalan tol tersebut. “Komisi V DPR RI meminta Ditjen Bina Marga Kementerian PU untuk meningkatkan pengawasan dan evaluasi dalam pelaksanaan konstruksi Pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo untuk memenuhi standar dan kualitas konstruksi jalan, baik pada tahap perencanaan atau desain, pelaksanaan konstruksi, dan pemeliharaan rutin jalan tol termasuk ketahanan konstruksi terhadap banjir dan gempa bumi,” terang Roberth. Legislator asal Daerah Pemilihan Papua Pegunungan itu menambahkan, Jalan Tol Solo–Yogyakarta diproyeksikan mampu memangkas waktu tempuh perjalanan secara signifikan. Jika sebelumnya perjalanan melalui jalan nasional memakan waktu 1,5 hingga 2 jam, ke depan diperkirakan hanya membutuhkan 30 hingga 50 menit. “Saya berharap pembangunan Tol Yogyakarta–YIA Kulon Progo juga menjadi prioritas untuk segera diselesaikan agar konektivitas ini akan menumbuhkan ekonomi sekitarnya,” pungkas Roberth. Secara bertahap, pembangunan tol sepanjang 96,57 kilometer ini akan menghubungkan Solo, Klaten, hingga kawasan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo. Saat ini, sebagian seksi telah beroperasi dan sisanya terus dikebut untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat serta pertumbuhan ekonomi kawasan.