DOGIYAI, NETRALNEWS.COM - Pemerataan akses pendidikan yang berkualitas di pelosok Papua masih menjadi pekerjaan rumah besar di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Potret nyata itu terlihat di Desa Iyaro Distrik Sukikai Selatan, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, di mana proses belajar-mengajar harus bertahan di tengah isolasi geografi ekstrem, gedung sekolah yang hampir roboh, dan hanya ditopang satu tenaga pengajar. Berdasarkan laporan lapangan dari guru kontrak Program MAPEGA 3T, ada empat persoalan krusial yang dapat melumpuhkan layanan pendidikan di SD YPPK St. Petrus Bidau, satu-satunya sekolah dasar di Desa Iyaro distrik Sukikai Selatan Kabupaten Dogiyai tersebut. 1. Terisolasi oleh letak Geografi Hambatan utama adalah letak geografis yang sangat terisolasi dari ibu kota Kabupaten Dogiyai. Sebab untuk mencapai ke Desa Iyaro Distrik Sukikai Selatan melalui jalur darat, warga,serta para guru dan tenaga kesehatan musti harus berjalan kaki hingga satu minggu penuh, dengan rute menembus hutan belantara, menyeberangi sungai, dan mendaki pegunungan terjal. Namun alternatif lain adalah jalur kombinasi udara dan laut, yakni menempuh perjalanan dari Dogiyai ke Timika terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan berlayar menggunakan speedboat selama 7 hingga 8 jam membelah lautan,untuk mencapai di Desa Iyaro Distrik Sukikai Selatan. Distrik Sukikai Selatan ini mencakup beberapa Desa diataranya Desa Iyaro dan Desa Iyaro ini terdiri dari lima wilayah permukiman,atau Dusun yakni Dusun Dawi, Bidau, Digiyou, Wotai, dan Iyaro sebagai pusat kampung. Jarak antar dusun pun mencapai satu hari perjalanan kaki. Akibatnya, banyak siswa dari Dusun Wotai, Digiyou, dan Dawi tidak dapat menghadiri kegiatan belajar mengajar di SD YPPK St. Petrus Bidau secara rutin. Tidak hanya mereka anak sekolah tapi kami para tenaga guru juga menjadi hambatan bagi aktivitas belajar mengajar anak anak di sekolah, karena ketika para guru-guru keluar daerah untuk berlibur bila bulan Juni atau Desember tiba,Pasti kembali sangat lama dikarenakan kehambatan transportasi untuk balik Ke tempat tugas. 2. Gedung Hampir Roboh,hingga kini hampir Kembali ke Lantai Tanah Kondisi sarana prasarana berada pada tahap membahayakan. Tiga bangunan gedung sekolah di SD YPPK St. Petrus Bidau tercatat dalam kondisi hampir roboh. Atap bocor, kayu lapuk, dan lantai yang mulai jebol. Seperti terlihat dalam foto bukti lapangan, kegiatan belajar masih dipaksakan berlangsung di bawah atap yang berlubang. Tanpa intervensi pembangunan baru, dalam dua tahun ke depan kegiatan pembelajaran dikhawatirkan harus kembali dilakukan di atas lantai tanah. 3.Akses Internet dan Sinyal masih Terbatas. Tantangan lain adalah ketiadaan akses telekomunikasi. Belum tersedianya jaringan seluler maupun WiFi di Desa Iyaro Distrik Sukikai Selatan maka kami para warga, tenaga kesehatan, hingga guru harus berjalan kaki selama dua jam menuju wilayah Mimika Barat Jauh hanya untuk mendapatkan sinyal.Sebap kondisi blank spot tidak hanya menghambat komunikasi, tetapi juga pelaporan data pendidikan dan akses informasi pembelajaran. 4.Kekurangan Tenaga Pengajar/( Guru) Dari sisi sumber daya manusia, beban pendidikan bertumpu pada satu sosok: Lukas Nokuwo. Beliau Sebagai satu-satunya pengajar yang bertahan sejak beliau diangkat menjadi Guru Honor, Lukas Nokuwo harus merangkap mengajar tiga tingkatan kelas mulai dari hari Senin hingga Jumat. Ia bukan lulusan sarjana pendidikan, namun mengambil peran karena panggilan pengabdian.Tak hanya itu, Pada hari Sabtu ia juga mengabdi sebagai Pewarta di Gereja St. Agustina Bidau. Tiga Rekomendasi Mendesak Oleh Penulis Kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai Melihat kondisi yang berlarut, tenaga pengajar dari Program MAPEGA 3T menyampaikan tiga rekomendasi konkret kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai dan Pengelola Program MAPEGA 3T Provinsi Papua Tengah: 1. Pembangunan Sekolah Berpola Asrama: Pembangunan gedung baru 5 ruang kelas yang dilengkapi fasilitas asrama di SD YPPK St. Petrus Bidau. Asrama dinilai menjadi solusi strategis agar anak-anak dari Dusun Wotai, Digiyou, Iyaro, dan Dawi dapat tinggal dan belajar tanpa terhalang jarak ekstrem. 2. Penambahan Tenaga Pengajar minimal 3 Penempatan tenaga pendidik minimal 3 tenaga pengajar baru untuk mengurai beban dan meningkatkan kualitas pembelajaran di SD YPPK St.Petrus Bidau demi megapai Indonesia Emas. 3. Pengadaan Speedboat Sekolah Penyediaan 1 unit speedboat operasional khusus sekolah untuk mobilitas siswa antar dusun dan distribusi logistik pendidikan di wilayah pesisir. Pemenuhan tiga kebutuhan dasar ini menjadi kunci agar hak atas pendidikan yang layak bagi anak-anak di pelosok di Desa Iyaro Distrik Sukikai Selatan dapat terpenuhi secara berkelanjutan, sesuai amanat UUD 1945 yang kita junjung tingih. (Oleh: Gergorius Nokuwo,S.Pd Tenaga Guru, MAPEGA 3T tahun ajaran 2025/2026)