JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Sebanyak 50 guru yang terdiri atas pengurus dan anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah dan Bahasa Jawa SMA se-Provinsi Jawa Tengah mengikuti kunjungan dan workshop kebudayaan di Kraton Majapahit Jakarta (KMJ), Selasa-Kamis (29 September-1 Oktober 2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para guru untuk memperluas wawasan mengenai sejarah, bahasa, aksara, serta warisan kebudayaan Nusantara. Para peserta juga menggali relevansi berbagai materi tersebut dengan pembelajaran di tingkat SMA. Salah satu agenda utama kegiatan adalah workshop dan pengenalan Aksara Nusantara. Para peserta juga mendapatkan penguatan pemahaman mengenai warisan kebesaran Majapahit dan gagasan penyatuan Nusantara yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa. Penggagas KMJ, Abdulah Mahmud Hendropriyono, dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya keberadaan Aksara Nusantara. “Sebelum Indonesia merdeka, aksara asli Nusantara-lah yang menyatukan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke, bukan aksara Latin,” tandas mantan Kepala BIN itu. Bukan Sekadar Mengenal Bentuk Aksara Perhatian terhadap pemajuan Aksara Nusantara menjadi salah satu hal yang menarik bagi para guru dalam kunjungan tersebut. Para peserta mendapatkan perspektif bahwa aksara tidak semata-mata merupakan perangkat untuk menuliskan bahasa. Aksara juga menjadi bagian dari perjalanan peradaban yang merekam pengetahuan, gagasan, tradisi, dan memori kolektif masyarakat Nusantara. Karena itu, upaya mengenalkan dan mengembangkan kembali Aksara Nusantara dinilai memiliki arti penting bagi pendidikan. Generasi muda tidak hanya diajak mengenal bentuk aksara, tetapi juga memahami bahwa di balik setiap aksara terdapat perjalanan panjang kebudayaan dan intelektualitas masyarakat Nusantara. Bagi guru Bahasa Jawa, hal tersebut memiliki relevansi yang kuat. Aksara Jawa sebagai salah satu bagian dari kekayaan aksara Nusantara dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas sebagai bagian dari tradisi literasi dan kebudayaan masyarakat Nusantara. Sementara bagi guru sejarah, pengenalan aksara membuka perspektif mengenai pentingnya sumber-sumber tertulis dalam memahami perjalanan masyarakat pada masa lalu. Dengan demikian, sejarah, bahasa, dan aksara dapat dipertemukan dalam pembelajaran yang lebih kontekstual, integratif, dan bermakna. Abdul Mu’ti Hadir di Tengah Para Guru Kegiatan pada Rabu (30/9/2026) turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Kehadiran Mendikdasmen memberikan makna tersendiri bagi para guru yang tengah mengikuti kegiatan, khususnya dalam melihat keterkaitan antara pendidikan, kebudayaan, sejarah, dan pembangunan karakter generasi muda. “Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menempatkan peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan serta penguatan budaya sebagai bagian penting dalam penguatan layanan pendidikan,” ujar Sekum PP Muhammadiyah itu. Melihat Sejarah dari Sisi Berbeda Selain workshop Aksara Nusantara, para peserta juga memperoleh pengalaman melihat berbagai koleksi dan ilustrasi artefak yang merepresentasikan kebesaran peradaban Majapahit. Berbagai representasi tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Sejarah tidak hanya hadir dalam bentuk teks di buku pelajaran, tetapi juga dapat dihadirkan melalui visualisasi, artefak, simbol, aksara, dan ruang kebudayaan. Ketua MGMP Sejarah SMA Provinsi Jawa Tengah, Rinto Budi Santosa, menyampaikan apresiasi terhadap upaya Kraton Majapahit Jakarta dalam menghadirkan kembali representasi kebesaran Majapahit. “Kami sangat berkesan melihat bagaimana Kraton Majapahit Jakarta berupaya menghadirkan kembali representasi kebesaran Majapahit melalui berbagai koleksi dan ilustrasi artefak. Bagi kami para guru sejarah, hal ini sangat penting karena sejarah menjadi lebih hidup, lebih visual, dan lebih dekat dengan pengalaman belajar peserta didik,” ujar guru sejarah SMAN 1 Sapuran Wonosobo itu. Menurut Rinto, warisan Majapahit tidak cukup hanya dipahami sebagai kejayaan sebuah kerajaan pada masa lampau. Warisan tersebut juga dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memahami perjalanan masyarakat Nusantara, keberagaman, interaksi antardaerah, serta gagasan tentang persatuan yang berkembang dalam sejarah. Harapan agar Generasi Muda Tak Jauh dari Akar Budaya Ketua MGMP Bahasa Jawa SMA Provinsi Jawa Tengah, Triana Kanthiwati, memberikan perhatian khusus terhadap gagasan KMJ dalam mendorong pemajuan Aksara Nusantara. “Aksara bukan sekadar alat untuk menulis. Di dalam aksara terdapat jejak peradaban, pengetahuan, nilai, dan memori kolektif masyarakat. Karena itu, ketika Aksara Nusantara kembali diperkenalkan dan dikembangkan, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali bagian penting dari identitas kebudayaan bangsa,” ujar Kepala SMAN 1 Watumalang itu. Menurutnya, upaya tersebut memiliki arti penting bagi dunia pendidikan karena sekolah merupakan salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan kembali kekayaan bahasa dan aksara kepada generasi muda. Ia berharap gagasan pemajuan Aksara Nusantara dapat terus berkembang melalui kolaborasi antara lembaga kebudayaan, pemerintah, komunitas, akademisi, dan dunia pendidikan. “Jangan sampai generasi muda mengenal budaya dunia, tetapi justru semakin jauh dari akar kebudayaannya sendiri. Mengenalkan aksara berarti mengajak anak-anak kita mengenal kembali siapa mereka dan dari peradaban seperti apa mereka berasal,” pungkasnya.