PAGEDONGAN, NETRALNEWS.COM — Bagi siswa SMPN 3 Pagedongan Banjarnegara, lereng di sekitar sekolah bukan hanya bagian dari pemandangan. Kondisi tersebut menjadi persoalan nyata yang kemudian mereka pelajari melalui proyek lintas mata pelajaran. Gedung SMPN 3 Pagedongan berada di atas lereng curam dan menempati posisi lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya. Kondisi itu mendorong siswa mempelajari potensi tanah longsor melalui pendekatan ESTE MANIS (Etnostem for Humanism). Pendekatan yang diinisiasi guru tersebut menggabungkan pembelajaran beberapa mata pelajaran dan mengajak siswa belajar dari lingkungan sekitar. Prosesnya berlangsung melalui tiga siklus, yaitu Assess, Design dan Implementation. Pada tahap Assess, siswa, orang tua dan warga dilibatkan dalam asesmen awal serta diskusi. Selanjutnya guru merancang pembelajaran antarmata pelajaran sebelum diterapkan secara terpadu. Membuat Klinometer Sendiri Dalam pembelajaran IPS, siswa mengamati lingkungan kebun sekolah dan memanfaatkan kecerdasan buatan, termasuk ChatGPT, untuk menganalisis letak geologis, karakteristik tanah serta potensi bencana. Di mata pelajaran IPA, mereka mempelajari konsep pengukuran sekaligus membuat alat pengukur sudut kemiringan atau klinometer. Alat tersebut kemudian digunakan dalam pelajaran Matematika untuk mengukur kemiringan lereng sekolah. Hasil pengukuran menunjukkan kemiringan lereng berada pada kisaran 30 hingga 45 derajat. Temuan tersebut kemudian menjadi bahan pembelajaran bagi siswa untuk memahami kondisi lingkungan sekolah secara lebih konkret. Belajar Berpikir Seperti Programmer Pada pelajaran Informatika, siswa menerapkan empat pilar computational thinking untuk mencari solusi mitigasi. Mereka memecah persoalan menjadi bagian-bagian kecil melalui dekomposisi, mulai dari menentukan bahan peraga hingga merancang simulasi hujan dan memilih penahan lereng. Siswa juga melakukan pengenalan pola dengan mengamati kondisi lereng serta membandingkan tanah yang diberi penahan dan yang tidak. Selanjutnya mereka menggunakan abstraksi dan berpikir algoritmik dengan membuat model lereng dari kardus, mengisinya dengan tanah dari lingkungan sekolah, kemudian memberikan air sebagai simulasi hujan. Siswa mengamati titik awal erosi dan menguji penambahan model talud serta vegetasi buatan. Dari simulasi tersebut, siswa menyimpulkan bahwa rumput vetiver atau akar wangi dapat menjadi salah satu pilihan vegetasi untuk membantu menahan longsor. Para siswa kemudian membagikan bibit akar wangi kepada warga sekitar sekolah sebagai bagian dari aksi pencegahan bencana. Kepala SMPN 3 Pagedongan, Asri Ratna Sari, mengatakan proses pembelajaran tersebut terus dikembangkan mulai dari pemetaan aset sekolah hingga evaluasi dan perancangan ulang. “Pembelajaran tidak berhenti di dalam kelas; para siswa membagikan bibit tanaman akar wangi kepada warga sekitar sekolah sebagai aksi nyata pencegahan bencana,” ungkap Asri. Bagi siswa, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar langsung di luar ruangan. Mereka juga mendapatkan kesempatan membuat klinometer sendiri dan menghubungkan materi pelajaran dengan persoalan yang ada di lingkungan sekolah. Dari alat sederhana dan lingkungan sekitar, siswa SMPN 3 Pagedongan mencoba memahami persoalan longsor sekaligus merancang langkah mitigasinya melalui pembelajaran lintas mata pelajaran.