DEPOK - Institut SEBI Depok kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi unggul melalui rangkaian kegiatan PROPEKA (Program Pengenalan Kampus) yang digelar pada Senin, 28 September 2026. Bertempat di Aula SEBI, Kampus Institut SEBI, Depok, hari pertama PROPEKA diisi dengan agenda Studium Generale yang mengangkat tema besar "Dari Rasa Ingin, Menjadi Tahu Karya". Acara ini menghadirkan Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc., Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) yang juga dikenal sebagai pembuat konten. Bertindak sebagai moderator, Pak Kostaman, yang membawakan diskusi berlangsung hangat dan inspiratif. Filosofi di Balik Kehadiran di Kampus Membuka paparannya, Prof. Zulys mengajak para mahasiswa baru untuk membayangkan makna kehadiran mereka di kampus. Menurutnya, tanpa filosofi yang jelas, kuliah akan terasa membosankan. Pertanyaan penting bukan sekadar "Saya mau jadi apa?", melainkan "Setelah lulus dari sini, saya ingin menjadi orang seperti apa?" Ia menekankan bahwa kuliah bukan hanya soal mengejar IPK. “IPK itu hanya dipakai untuk melamar pekerjaan. Jangan hanya menjadi pencari kerja, tapi jadilah impact maker,” tegasnya. Mahasiswa diajak untuk mampu menjawab permasalahan umat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Membangun Kapasitas Diri Seperti Smartphone Prof Zulys menganalogikan kecerdasan manusia dengan smartphone. Sebuah ponsel menjadi canggih karena aplikasi yang diinstal di dalamnya. Demikian pula kepribadian dan kapasitas kita terbentuk dari apa yang kita “instal” selama masa kuliah. "Jangan hanya mengisi diri dengan aplikasi rebahan. Ada banyak tawaran produktif yang bisa bermanfaat." Boleh saja memilih hiburan berkualitas, karena sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an: "Wa mal-hayatud-dunya illa la'ibuw wa lahw" yang artinya: "Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau." Hidup ini seperti permainan. Kita kuliah, belajar, menjadi dosen, dan sebagainya, semuanya bagaikan permainan. Namun demikian, seorang muslim diajarkan untuk tetap memilih permainan yang berkualitas, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Istimewa dan Berbeda: Menjadi Versi Terbaik Diri Setiap manusia Allah ciptakan dengan keunikannya masing-masing. Tidak ada yang sama bertahan. “Jangan jadikan diri kita kecil, padahal Allah menciptakan manusia dengan sangat istimewa. Kita diciptakan untuk menjadi versi terbaik diri kita,” pesan Prof Zulys. Ia mengingatkan agar peserta didik tidak membatasi kemampuan diri dengan pikiran sendiri, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. SEBI diposisikan sebagai kawah candradimuka, tempat menggali potensi, kreativitas, dan tempat berproses untuk berkembang. Prof Zulys juga memberikan perumpamaan antara intan dan arang. Keduanya berasal dari bahan bakar fosil, namun terbentuk melalui tekanan yang jauh lebih tinggi dan proses jutaan tahun. “Kepribadian dan kemuliaan yang tinggi tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses pembentukan yang keras dan panjang,” jelasnya. Penyakit Busuk Otak Waspadai Di era digital, Prof. Zulys juga mengingatkan kita tentang bahaya penyakit busuk otak—kondisi ketika otak terlalu banyak mengonsumsi konten yang melemahkan sehingga menurunkan kapasitas berpikir. “Kalau kita sudah terkena brain rot, itu bisa merusak otak dan menurunkan kapasitas berpikir seseorang,” tandasnya. Dalam sesi inti, Prof. Zulys membagikan lima bekal utama untuk menjadi impact maker. Pertama, rasa ingin tahu atau rasa ingin tahu yang tinggi—sebab orang besar bukanlah yang paling banyak tahu, melainkan yang tidak pernah berhenti bertanya dan berani berpikir di luar kebiasaan. Kedua, berpikir ilmiah—jangan mudah percaya pada mitos dan hoaks, jangan sampai jempol kita bergerak lebih cepat daripada otak kita. Ketiga, berani gagal—bagi seorang peneliti, kegagalan adalah ilmu yang berharga agar tidak mengulangi kesalahan yang sama; cara tercepat untuk gagal adalah dengan menempuh cara instan untuk sukses, karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar instan, namun yang terpenting adalah jangan sampai gagal dalam menjaga integritas. Keempat, keresahan—rasa gelisah terhadap apa yang harus diperbaiki justru menjadi bahan bakar yang menghidupkan langkah kita. Kelima, menjadi pemecah masalah—tidak perlu menunggu diri merasa hebat untuk mulai berkarya. Studium Generale hari pertama PROPEKA ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru Institut SEBI untuk membangun pola pikir ilmiah, kreatif, dan berdampak. Dengan semangat “Dari Rasa Ingin Tahu, Menjadi Karya”, diharapkan lahir generasi impact maker yang tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga memberi manfaat luas bagi umat dan masyarakat.