AGAM, NETRALNEWS.COM - Pias kacang berbahan kacang tanah lokal menjadi salah satu produk olahan yang dikembangkan oleh UMKM di Nagari Dalko, Kabupaten Agam. Produk tersebut menjalani penyesuaian formulasi pada akhir Januari 2026 melalui pendampingan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler I Universitas Andalas, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan konsistensi hasil olahan berbasis potensi pertanian setempat. Produk pias kacang tersebut diproduksi oleh UMKM Dapur Buk Tis, usaha rumahan milik Tisnawati yang telah beroperasi sejak akhir 2024. Pias kacang dikembangkan sebagai alternatif oleh-oleh khas Nagari Dalko dengan memanfaatkan kacang tanah lokal yang melimpah di wilayah tersebut dan nagari sekitarnya. Dalam proses produksi sebelumnya, pias kacang menggunakan gula pasir sebagai pemanis, yang membuat rasa produk cenderung terlalu manis. Sementara itu, kendala utama produksi terletak pada tekstur adonan yang cepat mengeras setelah dimasak, sehingga menghambat proses pembentukan dan membatasi kapasitas produksi. Pendampingan mahasiswa KKN UNAND difokuskan pada reformulasi adonan pias kacang. Proses reformulasi dilaksanakan pada 28 Januari 2026 di Posko KKN Reguler I Universitas Andalas, Jorong Arikia, setelah melalui diskusi dan perencanaan bersama pelaku UMKM selama kurang lebih dua minggu. Penanggung jawab kegiatan, Fairuz Asila, menjelaskan bahwa pemilihan pias kacang sebagai produk yang didampingi didasarkan pada hasil survei potensi sumber daya alam yang dilakukan mahasiswa bersama masyarakat di sekitar posko KKN. Menurutnya, sebagian besar hasil pertanian, khususnya padi, masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga memiliki nilai tambah yang terbatas. “Kami melihat kacang tanah memiliki potensi yang lebih memungkinkan untuk dikembangkan sebagai produk olahan karena bahan bakunya melimpah dan berkelanjutan. Selain itu, sudah ada pelaku UMKM yang memiliki visi untuk memasarkan produk olahan kacang ke luar Nagari Dalko,” ujar Fairuz. Melalui pendampingan tersebut, dilakukan penyesuaian formulasi dengan mengganti penggunaan gula pasir menjadi gula aren serta menyesuaikan teknik pengolahan adonan. Reformulasi dilakukan melalui satu kali produksi dengan dua loyang sebagai bahan uji coba untuk menghasilkan tekstur adonan yang lebih lentur dan rasa yang lebih seimbang. Tisnawati menyebutkan bahwa hasil reformulasi membuat pias kacang menjadi lebih mudah dibentuk dan memiliki tampilan yang lebih rapi. “Dulu adonannya cepat keras setelah dimasak, jadi susah dibentuk dan produksi jadi terhambat. Sekarang lebih lunak dan rasanya juga lebih pas,” katanya. Selain pembenahan formulasi produk, mahasiswa KKN UNAND juga melakukan pendampingan pada aspek penguatan identitas usaha melalui pembuatan logo dan spanduk UMKM. Pendampingan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan kapasitas usaha, dari penjualan eceran menuju pemasaran yang lebih luas. Saat ini, produksi pias kacang masih menyesuaikan permintaan pasar dengan penggunaan bahan baku sekitar lima kilogram kacang pada periode produksi tertentu. Pemasaran produk masih terbatas di wilayah Nagari Dalko, meskipun pesanan dari luar nagari mulai berdatangan. Ke depan, pias kacang diharapkan dapat dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan nagari berbasis potensi lokal kacang tanah.