KARANGANYAR, NETRALNEWS.COM – Keluarga besar Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Karanganyar menggelar acara silaturahmi dan pengajian bersama dalam rangka memperingati Hari Raya Iduladha, Jumat (29/5/2026), di Gedung Golkar Karanganyar. Momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus merefleksikan nilai-nilai keagamaan dan doktrin kepartaian. Ketua Dewan Pembina DPPD Partai Golkar Karanganyar sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, Juliyatmono, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa Iduladha merupakan momentum penting untuk mengingatkan kembali hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ia menegaskan bahwa nilai religiusitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tubuh Partai Golkar. "Doktrin Partai Golkar itu salah satu butir yang harus dipahami bersama, kami warga Partai Golongan Karya adalah insan yang percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Implementasinya harus betul-betul dikomunikasikan dengan bagus, salah satunya lewat Hari Raya Kurban ini," ujar Juliyatmono. Dalam penyampaiannya, Juliyatmono mengulas kembali kisah kepatuhan Nabi Ibrahim AS saat diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan luar biasa tersebut kemudian diganti oleh Allah dengan kenikmatan yang lebih besar, yakni penyembelihan hewan kurban yang dagingnya dapat didistribusikan dan dinikmati oleh masyarakat luas. Secara hakiki, ia menekankan bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan sebuah simbol untuk mengikis sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Pertama, kurban berarti menyembelih kesombongan, yaitu sebuah upaya untuk menghilangkan rasa paling benar dan tinggi hati. Kedua, kurban juga bermakna menyembelih kekuasaan dan kekayaan yang bertujuan untuk memangkas ego yang bersumber dari jabatan atau materi. Ketiga, ibadah ini mengajarkan untuk menyembelih nafsu, yakni mengendalikan hawa nafsu duniawi untuk kemudian didistribusikan bagi kemaslahatan dan kepentingan masyarakat bersama. Filosofi ini sejalan dengan filosofi pohon beringin yang senantiasa memberi kesejukan dan air kehidupan bagi sekitarnya. Juliyatmono juga mengaitkan esensi Iduladha dengan lambang Partai Golkar, yaitu Pohon Beringin. Menurutnya, pohon beringin adalah pohon yang rindang dan harus dimaknai sebagai tempat berteduh yang aman bagi siapa saja. Ia berharap kehadiran kader-kader Golkar di tengah masyarakat dapat membawa dampak yang serupa dengan filosofi pohon tersebut. "Siapa saja yang menjumpai kader Golkar itu merasa nyaman, sejuk, damai. Berbangsa ini tidak boleh gaduh, berbangsa ini tidak boleh berisik. Setenang pohon beringin yang tidak pernah bersuara, tetapi memberikan kontribusi," tuturnya. Lebih lanjut, ia memaparkan kontribusi nyata dari pohon beringin, mulai dari memproduksi oksigen hingga kemampuan menyerap dan menyediakan cadangan air yang melimpah di dalam tanah. Sembari memberikan analogi sejarah perkembangan Kota Makkah yang hidup karena adanya air zamzam, ia berharap Golkar juga mampu menjadi sumber kehidupan dan kebaikan bagi masyarakat. Mengenai posisi politik Partai Golkar yang selama ini dikenal jarang mengambil posisi sebagai oposisi, Juliyatmono menegaskan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan DNA dan doktrin dasar partai, yaitu kekaryaan. Ia menjelaskan bahwa Partai Golkar didesain untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata di dalam jajaran pemerintahan demi membangun bangsa. "Golkar kan doktrinnya kekaryaan. Artinya terus memberikan karya, berkontribusi untuk ikut mengambil bagian di pemerintahan. Tradisinya tidak bisa Golkar berada di luar (pemerintahan), tidak bisa. Karena DNA-nya bukan itu. DNA-nya adalah kekaryaan; memberikan karya, prestasi, dan kontribusi kepada Presiden," pungkasnya.