JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Budayawan Betawi, Mathar Ibnu Kamal mengapresiasi langkah Pemprov DKI Jakarta dalam mengabadikan nama tokoh betawi sebagai nama jalan. Bahkan dirinya mengatakan sejak tahun 2012, bersama Ridwan Saidi telah mengusulkan hal tersebut ke Pemprov DKI Jakarta. Ketua Forum Kajian Betawi itu mengingatkan, dalam pemberian sebuah jalan, pemerintah daerah (Pemda) harus terlebih dahulu melakukan representasi terhadap nilai ketokohan seorang tokoh betawi dikawasan tersebut. Dirinya pun mengkritik adanya beberapa pemberian nama yang menurutnya tidak pas atau sesuai. Seperti pemberian nama Jalan Bang Pitung di Kebayoran Lama. Akan lebih tepat, nama Pitung diabadikan sebagai nama jalan, pengganti Jalan Panjang, Jakarta Barat. "Kita sama Babe Saidi (Ridwan Saidi) pernah mengusulkan melalui sebuah diskusi, mengabadikan nama Pitung untuk mengganti nama untuk Jalan Panjang," kata Mathar saat ngobrol santai dengan netralnews.com, Minggu (19/6/2022) kemarin. "Itu jalan panjangnya segitu, dari ujung sampe ujung ga ada namanya. Ya panjang gitu aja, makanya pernah kita usulkan menjadi Jalan Pitung," sambungnya. Tak hanya itu, pria yang akrab disapa Bang Mathar ini juga menanggapi adanya Jalan Haji Bokir ditetapkan sebagai nama jalan di Kecamatan Kramat Jati dan nama Mpok Nori diabadikan dalam pelang nama jalan yang terpasang di Kecamatan Cipayung, menggantikan Jalan Raya Bambu Apus. Menurut Mathar, tidak ada urgensinya pemberian nama kedua tokoh seniman tersebut. Padahal kata Mathar, masih banyak pahlawan-pahlawan betawi yang lebih layak untuk dijadikan nama jalan didaerah itu. "Maaf, kalau buat nama Mpok Nori atau J Bokir kurang pas saya rasa. Bukan ga boleh, mereka kan seniman. Tapi utamakan nama pejuang atau pahlawan betawi duhulu. Kan banyak nama pahlawan betawi dari daerah itu," tuturnya. Dirinya pun mengatakan, nama jalan dengan mengambil seniman, khususnya seniman musik, harusnya diperluas. Jika dimaksud dengan seniman musik melayu Betawi, ada yang sangat pantas, yakni Abdul Chalik. Abdul Chalik adalah pimpinan Orkes Melayu Bukit Seguntang yang berasal dari Pecenongan. Sebuah karya ciptanya, yakni HALIMUN MALAM, dinyanyikan dan dipopulerkan oleh 9 penyanyi, baik Indonesia maupun Malaysia. Bahkan ditambah 3 penyanyi melayu modern. Artinya, Abdul Chalik mengharumkan nama Indonesia, dia tokoh musik hebat dari Betawi, ini merujuk pada pendapat Ridwan Saidi. Selain itu, Mathar mencontohkan pengabadian nama Entong Gendut sebagai jalan dikawasan Kramat Jati atau Condet. Menurutnya pemberian nama tersebut udah cocok, mengingat Entong Gendut merupakan jagoan atau pahlawan yang terkenal di daerah Condet, Jakarta Timur. Dirinya pun mengusulkan Nama Jalan I Gusti Ngurah Rai sebaiknya dipindah dari Klender. Jalan itu diganti dengan nama Mualim Darip, seorang pejuang revolusi asli orang Betawi. Sebelumnya Pemprov DKI Jakarta mengambil kebijakan mengganti beberapa nama jalan dengan nama tokoh betawi. Seperti nama Nuri Surinuri alias Mpok Nori hingga Muhammad Bokir alias Haji Bokir, diabadikan oleh Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) sebagai nama jalan di wilayah tersebut. Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Timur Benhard Hutajulu mengatakan, Jalan Haji Bokir bin Djiun kini menggantikan nama Jalan Raya Pondok Gede yang berada di Kecamatan Kramatjati. "Jalan Raya Pondok Gede segmen Kelurahan Pinang Ranti, Kelurahan Dukuh, Kelurahan Kramatjati, diganti nama menjadi Jalan H Bokir bin Djiun," kata Benhard. Papan nama Jalan Haji Bokir bin Djiun sudah terpasang dari simpang Jalan Raya Bogor atau pertigaan Hek hingga persimpangan lampu merah Tamini Square.Sementara, papan nama Jalan Mpok Nori juga telah terpasang menggantikan plang nama Jalan Raya Bambu Apus, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung. Tak Hanya itu, Pemprov DKI juga mengabadikan nama tokoh legenda Jakarta, Si Pitung menjadi nama jalan. Jalan Raya Kebayoran Lama di Jakarta Selatan ganti nama menjadi Jalan Bang Pitung.