MALANG RAYA, NETRALNEWS.COM - Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris Bahasa Indonesia Universitas Al-Qolam Malang menggelar Seminar Batik bertema "Menggali Filosofi dan Keindahan Batik Nusantara" di Kantor MWC NU Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jumat (2/10/2026). Seminar yang bertepatan dengan Hari Batik Nasional ini diikuti mahasiswa lintas jurusan. Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBI), Dr. M. Kholik, M.Pd. Ketua HMPS TBI Abdul Basith turut hadir. Ketua pelaksana, Muhammad Fathuna Muhibbur Ro'uf, diwakili oleh Sohib. Seminar menghadirkan dua narasumber: Afiyanti, S.IP., M.PA., dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang, dan praktisi batik dari Gancar Gondanglegi, Ibu Sumiati. Dalam materinya, Afiyanti mengajak peserta membaca batik secara kritis. Ia menjelaskan batik sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, mulai dari kelahiran, pernikahan, dan kematian hingga ritual dan pakaian sehari-hari. Ia juga menyinggung sejarah batik, termasuk pengakuan UNESCO pada 2009 sebagai Warisan Budaya Takbenda dan penetapan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. Ia menegaskan bahwa asal-usul teknik batik masih diperdebatkan. Afiyanti menyebut makna motif batik bersifat kontekstual. Ia mencontohkan Parang, Kawung, Truntum, dan Semen dari tradisi keraton, serta batik pesisir Pekalongan yang menyerap pengaruh Arab, India, Eropa, Tiongkok, dan Jepang. Ia juga menyoroti sisi produksi batik yang kerap luput dari perhatian, yakni limbah dan pencemaran sungai. Menggunakan Pekalongan sebagai studi kasus, ia memaparkan temuan kajian yang menyebut instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal belum sepenuhnya menurunkan pencemar sesuai baku mutu. Ia menilai penanganan limbah batik membutuhkan tata kelola jejaring yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, pengrajin, akademisi, dan masyarakat terdampak. Menurut dia, setiap aktor tidak memiliki kemampuan yang sama untuk memengaruhi keputusan. "Melestarikan batik bukan hanya melestarikan motif," ujar Afiyanti menutup paparannya. Menurutnya, pelestarian juga berarti merawat pengetahuan, manusia yang menghidupinya, lingkungan tempat batik diproduksi, dan struktur sosial yang menentukan siapa yang dapat berbicara tentang masa depannya. Sementara itu, Ibu Sumiati memaparkan proses pembuatan batik, mulai dari tahap persiapan hingga menjadi karya batik, sesuai rencana kegiatan panitia. Panitia menyebut seminar ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian batik, serta mendorong kreativitas dan inovasi agar batik tetap relevan di tengah perkembangan zaman.