JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Cepatnya hari-hari berlalu sangat dirasakan dalam penyelengaraan Bulan Indonesia di Hamburg yang sudah berlangsung sejak 8 Mai, kini sudah lebih dari setengah bulan berjalan dan seperti rencananya akan berlangsung hingga sau bulan penuh. Cuaca menghangat dan kehangatan di Bulan Indonesia juga bertambah menyemangati diplomasi budaya yang dilakukan berkat kerjasama diaspora Indonesia yang rutin. Selain aktivitas mingguan rutin seperti Walking Tour Rute Jejak Indonesia di Hamburg, Flea Market untuk Festival Jam Karet serta Workshop Bahasa Indonesia bagi Wisatawan, minggu ketiga dibuka dengan workshop membuat Kopi Talua, khas Minangkabau serta perkenalan dengan aneka racikan Jamu. Pada 20 Mai ada obrolan santai dengan Karen Stadtländer, perempuan Jerman yang berprofesi sebagai penerjemah tersumpah untuk Bahasa Indonesia- Jerman, pembicaraan seputar profesinya serta fungsi kecerdasan buatan kinin dan masa depan. Fungsi manusia masih diperlukan secanggih apa pun mesin penerjemahan. Di hari berikutnya, juga bersama seorang perempuan Jerman, Elke Ostheimer, obrolan santai mengangkat tema Flores, di mana ia sejak lama selalu berkunjung dengan program anak asuh yang ia ikuti dari sebulan NGO Internasional. Dari sana ia berkenalan dan memiliki koleksi tenun IKAT asal wilayah Flores. Beranjak ke akhir pekan, Sabtu 23 Mai, Bulan Indonesia dipenuhi beberapa kegiatan dengan berbagai tema. Mimi Schlüter, perempuan Minang yang tinggal di Braunschweig, mengajak pengunjung untuk berkenalan dengan Sumatra Barat. Melengkapi presentasi dan diskusi, diaspora Indonesia Dapur Sekar menyiapkan nasi Padang yang bisa dinikmati peminat. Sesi selanjutnya bertajuk Darma Siswa, dibawakan oleh Alisia Arnold, gadis Jerman Indonesia, yang pernah mengikuti program beasiswa yang diluncurkan oleh pemerintah Indonesia. Ia menghimbau hadirin untuk menyampaikan berita baik, karena hingga 15 Juni nanti pendaftaran masih dibuka untuk program 2026, dimana tahun 2025 pernah ditiadakan. Senja musim panas di akhir pekan minggu lalu masih terang hingga pukul 21 malam, hadirin di Bulan Indonesia menikmati presentasi pulau Lombok oleh Yuni Töpfer, berdampingan dengan putrinya Claudia Töpfer. Perempuan Lombok yang cinta tanah kelahirannya berdialog dengan presentasi khas, menceritakan tentang pulau Lombok dengan sangat otentik. Penyelengaraan Bulan Indonesia yang dimotori oleh Dyah Narang-Huth sebagai CEO IKAT Agentur, wiraswasta layanan budaya dan Bahasa Indonesia ini menggandeng DIG Hamburg e.V., yang adalah perhimpunan persahabatan Jerman Indonesia, yang sudah berdiri sejak tahun 1980. Matahari Hairstyling yang juga anggota perhimpunan inipun bergandengan dengan penyediaan tempat selama sebulan. Kerjasama ini mempunyai ambisi positif, yaitu menyediakan ruang kebersamaan untuk berekspresi dan promosi baik sebagai komunitas, organisas, mau pun profesional bagi diaspora Indonesia. Konsep penyelenggaraan „Bulan Indonesia“ bisa dinamai „Kulturladen“ atau „Toko Budaya“. Seumpama toko, etalase Bulan Indonesia selama 30 hari bisa dilihat menggelar aktivitas budaya, jumpa informatif, pameran serta workshop-workshop. Hal-hal positif yang akan lekat dalam ingatan warga, bahwa ada „ Wajah Indonesia“ di wilayah tinggal mereka, setidaknya untuk sebulan.