JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Mengenali diri bukan sekadar memahami kelebihan dan kekurangan, tetapi juga menyadari tanggung jawab atas setiap pilihan dan tindakan. Pesan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Counselling Fest SMK Ma’arif NU 02 Kemiri, Purworejo, yang mengajak peserta didik mengenali diri, mengembangkan potensi, serta membangun komitmen untuk menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Mengusung tema “Know Your Self, Grow Your Self, Be Your Self,” Counselling Fest berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu (29–30 September 2026), di Ruang TSM SMK Ma’arif NU 02 Kemiri. Kegiatan yang diselenggarakan Guru Koordinator Bimbingan dan Konseling (BK) SMK Ma’arif NU 02 Kemiri tersebut bekerja sama dengan mahasiswa PLP IAI An-Nawawi Purworejo. Kegiatan dikemas dalam bentuk seminar dengan menghadirkan Kuni Khasanah dan Julianti Puspitasari sebagai narasumber. Namun, kegiatan tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi dan motivasi. Salah satu rangkaian yang menjadi perhatian adalah pembubuhan cap jempol oleh peserta didik sebagai simbol komitmen untuk menaati aturan dan tata tertib sekolah. Cap jempol tersebut menjadi simbol sederhana yang mengandung pesan tentang tanggung jawab. Setelah memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mengenali dan mengembangkan diri, siswa diajak menunjukkan komitmen melalui kesediaan mematuhi aturan yang telah ditetapkan sekolah. Komitmen tersebut mencakup kesediaan menjalankan tata tertib dengan penuh kesadaran, menjaga kedisiplinan, menghormati guru dan sesama siswa, serta ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan kondusif. Dengan demikian, pesan “Know Your Self, Grow Your Self, Be Your Self” tidak hanya dimaknai sebagai ajakan untuk mengenali potensi pribadi. Menjadi diri sendiri juga berarti memahami bahwa setiap kebebasan selalu disertai tanggung jawab. Koordinator BK SMK Ma’arif NU 02 Kemiri, Kuni Khasanah, mengatakan Counselling Fest menjadi ruang bagi siswa untuk lebih mengenal diri sekaligus memahami pentingnya tanggung jawab dalam kehidupan di sekolah. “Melalui Counselling Fest ini, kami ingin memberikan ruang kepada peserta didik untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini, siswa tidak hanya mengetahui kelebihan yang dimiliki, tetapi juga memiliki kemauan untuk terus berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya. Menurut Kuni, proses mengenali diri perlu diikuti kemampuan mengendalikan diri dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Karena itu, komitmen terhadap tata tertib sekolah menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Cap jempol yang dibubuhkan siswa menjadi penanda bahwa mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak mengambil sikap. Komitmen tersebut diharapkan menjadi pengingat untuk menerapkan nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Layanan bimbingan dan konseling juga tidak hanya hadir ketika siswa menghadapi permasalahan. BK memiliki peran dalam membantu peserta didik mengenali potensi, membangun kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan sosial, membentuk karakter, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Dalam konteks tersebut, tata tertib sekolah menjadi bagian dari proses pendidikan. Aturan tidak hanya dipandang sebagai kumpulan larangan, tetapi juga sebagai pedoman bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan mendukung perkembangan peserta didik. Kepala SMK Ma’arif NU 02 Kemiri, Wasiman, menyambut baik pelaksanaan Counselling Fest. Menurutnya, pendidikan perlu memperhatikan perkembangan peserta didik secara menyeluruh, termasuk aspek karakter dan kedisiplinan. “Kami mengapresiasi kegiatan Counselling Fest yang dilaksanakan oleh Guru Koordinator Bimbingan Konseling bersama mahasiswa PLP IAI An-Nawawi Purworejo. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk perhatian sekolah terhadap perkembangan peserta didik. Kami berharap siswa dapat mengambil manfaat dari kegiatan ini, semakin mengenal dirinya, semakin percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya,” ungkapnya. Selain memperoleh materi mengenai pengembangan diri, peserta didik diajak memahami bahwa proses menjadi pribadi yang lebih baik membutuhkan konsistensi. Mengenali kelebihan merupakan langkah awal, sedangkan mengembangkan potensi membutuhkan kemauan untuk belajar, berlatih, menerima masukan, dan memperbaiki kekurangan. Hal serupa berlaku dalam membangun kedisiplinan. Komitmen untuk menaati tata tertib tidak hanya dilakukan ketika berada di bawah pengawasan guru, tetapi diharapkan tumbuh menjadi kesadaran pribadi. Dalam kegiatan tersebut, siswa juga memperoleh pemahaman bahwa setiap orang memiliki karakter, pengalaman, kemampuan, dan potensi yang berbeda. Karena itu, siswa tidak perlu menjadikan orang lain sebagai ukuran utama dalam menentukan nilai dirinya. Salah satu peserta, Naila, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya mengenali kelebihan dan kekurangan diri. “Kegiatan ini memberikan kami wawasan bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kami menjadi lebih termotivasi untuk mengenali diri sendiri dan berusaha mengembangkan kemampuan yang kami miliki. Pesan yang kami dapatkan adalah bahwa kami harus percaya pada diri sendiri dan terus berusaha menjadi lebih baik,” tuturnya. Sementara itu, keterlibatan mahasiswa PLP IAI An-Nawawi Purworejo memberikan pengalaman tersendiri dalam pelaksanaan program pengembangan peserta didik. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang didapat selama perkuliahan sekaligus memahami dinamika peserta didik di lingkungan sekolah. Kolaborasi antara mahasiswa dan sekolah menunjukkan bahwa proses pendidikan dapat melibatkan berbagai pihak. Guru BK, guru, mahasiswa, narasumber, dan peserta didik memiliki peran dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pertumbuhan siswa. Bagi SMK Ma’arif NU 02 Kemiri, Counselling Fest menjadi salah satu momentum untuk memperkuat peran BK dalam mendampingi peserta didik. Pengembangan potensi dan pembentukan karakter berjalan beriringan dengan penanaman nilai kedisiplinan dan tanggung jawab. Cap jempol yang dibubuhkan siswa pun menjadi simbol dari proses tersebut. Mengenali diri, mengembangkan diri, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri menjadi tiga hal yang saling berkaitan. Pada akhirnya, Counselling Fest bukan sekadar kegiatan seminar. Di dalamnya terdapat pesan bahwa setiap peserta didik memiliki potensi untuk berkembang, tetapi proses tersebut membutuhkan kesadaran, keberanian, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Melalui semangat “Know Your Self, Grow Your Self, Be Your Self,” siswa SMK Ma’arif NU 02 Kemiri diajak mengenali diri, mengembangkan kemampuan, menjadi pribadi yang percaya diri, sekaligus berkomitmen menaati tata tertib sekolah sebagai bagian dari proses membangun karakter yang bertanggung jawab. Dengan demikian, cap jempol bukan sekadar tanda di atas kertas, melainkan simbol komitmen siswa untuk bersama-sama menjaga kedisiplinan, ketertiban, dan budaya positif di lingkungan SMK Ma’arif NU 02 Kemiri.