JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tren digital detox mulai berkembang di kalangan generasi muda di sejumlah kota besar Indonesia sepanjang 2026. Pola hidup ini dilakukan dengan membatasi penggunaan media sosial dan perangkat digital untuk mengurangi stres serta meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari. Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya aktivitas komunitas offline seperti olahraga bersama, diskusi buku, hingga kegiatan alam terbuka yang banyak diikuti remaja dan mahasiswa di Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar dalam beberapa bulan terakhir. Psikolog pendidikan dari Universitas Hasanuddin, Nanda Prasetyo, mengatakan penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang, terutama pada usia remaja dan dewasa muda. “Paparan informasi yang terus-menerus membuat seseorang lebih mudah lelah secara mental dan sulit beristirahat,” ujarnya dalam seminar kesehatan mental di Makassar, Kamis (15/5/2026). Digital detox dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membatasi waktu penggunaan ponsel, menonaktifkan notifikasi media sosial, hingga menetapkan hari tanpa internet dalam satu minggu. Beberapa anak muda juga mulai mengganti waktu bermain gawai dengan aktivitas produktif seperti membaca, memasak, atau berolahraga. Mahasiswa asal Makassar, Rahmawati (20), mengaku mulai menerapkan digital detox sejak awal tahun setelah merasa sulit fokus saat belajar akibat terlalu sering membuka media sosial. “Sekarang penggunaan aplikasi dibatasi beberapa jam saja setiap hari supaya lebih fokus dan tidak gampang capek,” katanya. Selain kesehatan mental, tren digital detox juga dinilai membantu memperbaiki kualitas tidur dan hubungan sosial secara langsung. Sejumlah komunitas bahkan mulai mengadakan acara tanpa gawai untuk mendorong interaksi tatap muka antaranggota. Pengamat budaya digital, Andri Kurniawan, menilai fenomena tersebut menjadi tanda meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keseimbangan antara kehidupan digital dan aktivitas nyata. Menurutnya, penggunaan teknologi tetap penting, namun perlu dikendalikan agar tidak memengaruhi produktivitas dan kondisi psikologis seseorang. “Teknologi membantu aktivitas sehari-hari, tetapi penggunaannya harus tetap sehat dan terukur,” ujarnya. Tren digital detox diperkirakan terus berkembang seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental dan pola hidup seimbang di era digital.