JAKARTA - Minggu pagi, 1 Februari 2026, dunia perkebunan Indonesia berduka atas berpulangnya Soedjai Kartasasmita, “Sang Begawan Perkebunan Indonesia”, pada usia 99 tahun. Jejak pengabdiannya membentang panjang sejak era pasca-kolonial hingga dekade 2020-an, menandai dedikasi seumur hidup untuk membangun kembali perkebunan nasional. Lahir pada 1926 di Cilacap, Jawa Tengah, ia termasuk generasi teknokrat awal republik yang mengisi kekosongan manajemen setelah Belanda hengkang. Soedjai bekerja tekun dari balik layar pada masa nasionalisasi 1950-an, lalu dipercaya memimpin Perkebunan Marjandi di Sumatra Utara pada 1957 untuk merevitalisasi produksi. Patriotismenya teruji sejak masa perjuangan, dianugerahi Bintang Gerilya pada 17 Agustus 1958, dan semangat itu ia bawa ke lapangan, membenahi manajemen dan infrastruktur di berbagai PNP (Perusahaan Negara Perkebunan). Pendiam namun teguh, Soedjai memilih hasil nyata ketimbang sorotan, kemudian lebih sering turun ke kebun daripada ke balik meja, meninggalkan warisan keteladanan yang terus mengilhami pembangunan perkebunan Indonesia. Pelopor Inti–Plasma di Perkebunan Nasional Memasuki dekade 1960-an, nama Soedjai Kartasasmita kian menonjol sebagai sosok pemimpin perkebunan yang berpandangan jauh ke depan. Kepercayaan negara kepadanya mencapai puncak ketika ia diangkat sebagai Direktur Utama PNP VI pada 1968. Selama lebih dari satu dasawarsa memimpin perusahaan perkebunan negara yang beroperasi di berbagai wilayah Sumatra, Soedjai tidak sekadar mengelola aset, tetapi menanamkan visi besar tentang bagaimana perkebunan seharusnya tumbuh, tidak eksklusif melainkan berbagi manfaat dengan masyarakat sekitar. Dari kepemimpinannya di PNP VI itulah lahir gagasan kemitraan inti–plasma. Soedjai meyakini bahwa perkebunan besar tidak boleh berjalan sendiri, melainkan harus menjadi lokomotif yang menarik pekebun rakyat untuk maju bersama. Gagasan ini kemudian diwujudkan secara konkret pada 1980 melalui proyek percontohan di Ophir, Sumatra Barat. Dalam skema tersebut, petani lokal dibina sebagai plasma, sementara perusahaan inti menyediakan teknologi, pembiayaan, dan kepastian pasar. Hasilnya bukan hanya lonjakan produktivitas, tetapi juga perubahan nyata dalam kesejahteraan ribuan keluarga petani. Keberhasilan proyek Ophir menjadikan model inti–plasma diadopsi secara nasional dan kelak menjadi fondasi utama pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat. Banyak kalangan industri menilai skema ini sebagai salah satu warisan terbesar Soedjai, karena membuka akses ekonomi jangka panjang bagi ratusan ribu petani kecil. Lebih dari sekadar konsep teknis, inti–plasma mencerminkan pandangan sosial Soedjai bahwa pembangunan perkebunan harus inklusif dan berkeadilan agar berkelanjutan. Kontribusi Soedjai tidak berhenti di sawit. Pada akhir 1970-an hingga 1980-an, ketika produksi gula nasional merosot, ia dipercaya memimpin Program Rehabilitasi Pabrik Gula. Di bawah komandonya, 42 pabrik gula tua di Jawa direvitalisasi, teknologinya diperbarui, kapasitasnya ditingkatkan, dan manajemennya dibenahi. Bersamaan dengan itu, ia mendorong pembangunan sembilan pabrik gula baru di berbagai daerah di luar Jawa. Langkah besar ini memperkuat fondasi industri gula nasional dan menjadi salah satu faktor yang membawa Indonesia mencapai swasembada gula pada era 1980-an. Visi strategis Soedjai juga tercermin dalam keberaniannya mendorong hilirisasi kelapa sawit jauh sebelum istilah tersebut populer. Pada 1977, ia menggagas pembangunan pabrik minyak goreng sawit pertama di Indonesia sebagai jawaban atas kelangkaan minyak berbahan kelapa. Tak lama kemudian, ia pula yang meletakkan dasar pendirian pabrik pengolahan sawit domestik pertama, mengakhiri ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Dari gula hingga sawit, Soedjai menunjukkan konsistensi strategi jangka panjang, membangun industri perkebunan yang mandiri, bernilai tambah, dan berpihak pada kepentingan nasional. Diplomat Perkebunan di Kancah Global Sosok Soedjai bukan hanya dihormati di dalam negeri, melainkan juga disegani di forum internasional. Menyadari pentingnya ilmu pengetahuan, ia menempuh pendidikan perkebunan hingga manajemen ke mancanegara, dari Prancis hingga Jepang. Jejaring global yang ia bangun dimanfaatkan untuk membuka pintu kolaborasi internasional di sektor perkebunan. Di bawah inisiatifnya, banyak program joint research, pertukaran teknologi, dan pelatihan tenaga ahli perkebunan digelar antara Indonesia dan negara lain. Generasi muda perkebunan Indonesia mendapat manfaat dari berbagai program pelatihan yang ia fasilitasi, meningkatkan kapasitas SDM perkebunan nasional agar mampu bersaing di era modern. Di kancah gula dunia, nama Soedjai juga harum. Ia aktif di International Society of Sugar Cane Technologists (ISSCT), sebuah perkumpulan teknolog gula tebu se-dunia. Atas dedikasinya, Soedjai dianugerahi gelar Life-Long Honorary Member oleh ISSCT. Selain gula, Soedjai terlibat aktif dalam forum-forum kelapa sawit internasional, menjembatani diskusi antara Indonesia dan negara konsumen sawit. Menariknya, di tengah kesibukannya sebagai teknokrat, Soedjai tetap bersahaja dan humanis. Bahkan ia punya sisi seni yang kental. Sejak 1991 ia memimpin Jakarta Photographers Society, komunitas fotografer Ibu Kota. Melalui lensa kameranya, ia kerap mengabadikan panorama perkebunan dan kehidupan para pekebun, seolah mencari keindahan manusia dan alam dalam setiap jepretan. Sikapnya yang ramah dan pembelajaran seumur hidup inilah yang membuatnya disenangi banyak kalangan, dari buruh kebun hingga kolega internasional. Warisan Begawan Perkebunan Hingga usia senja, Soedjai Kartasasmita tak pernah benar-benar meninggalkan dunia perkebunan. Menjelang satu abad usianya, ia masih aktif mengemban amanah sebagai Ketua Umum Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatra (BKS-PPS). Di kalangan pelaku industri, ia kerap dijuluki “kamus hidup perkebunan Indonesia”, sosok rujukan yang menyimpan ingatan panjang tentang sejarah, kebijakan, hingga dinamika teknis perkebunan lintas zaman. Ketika banyak orang seusianya telah lama beristirahat, Soedjai justru tetap hadir memberi pandangan, nasihat, dan arah bagi generasi penerus. Salah satu warisan paling nyata yang ia tinggalkan adalah Museum Perkebunan Indonesia di Medan. Berdiri di bekas gedung AVROS dan diresmikan pada 10 Desember 2016, museum ini digagas dan dirintis langsung oleh Soedjai sebagai monumen hidup perjuangan dan inovasi sektor perkebunan. Melalui ruang-ruang pameran tersebut, ia ingin menanamkan kesadaran bahwa di balik gula, kopi, atau minyak sawit yang dikonsumsi sehari-hari, tersimpan sejarah panjang kerja keras, ilmu pengetahuan, dan pengabdian. Museum itu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, sekaligus sarana edukasi publik tentang arti strategis perkebunan bagi bangsa. Warisan Soedjai juga hidup dalam perubahan nyata di lapangan. Skema kemitraan inti–plasma yang ia rintis telah mengangkat taraf hidup ribuan keluarga petani, membuka akses pendidikan bagi generasi muda desa, dan membentuk struktur ekonomi pedesaan yang lebih kokoh. Visi hilirisasi yang ia dorong sejak 1970-an kini menjelma menjadi tulang punggung ekspor nonmigas Indonesia, sementara gagasannya tentang pemanfaatan limbah sawit sebagai energi terbarukan menunjukkan betapa ia jauh mendahului zamannya. Dengan konsistensi pada kemandirian, keberlanjutan, dan keberpihakan social serta keteladanan dalam kesederhanaan dan integritas, Soedjai Kartasasmita meninggalkan suluh pemikiran dan karya yang terus menerangi jalan pembangunan perkebunan Indonesia yang berkelanjutan, berkeadilan, dan berdaya saing.