JAKARTA - Pesawat baru mendarat malam sebelumnya, dan Rifqi belum bisa menebak apakah tubuhnya lelah atau hanya bingung melihat matahari terbit dari arah yang salah. Dua hari lagi ia harus mempresentasikan makalahnya di konferensi pengajaran bahasa asing di Buenos Aires, tapi pagi ini ia justru bersiap menumpang mobil temannya menuju sebuah tempat bernama Ecovilla Gaia. “Ini bukan taman wisata,” kata Nisa, teman kuliah yang kini bekerja di perusahaan logistik Argentina. Ia menyetir cepat, rambutnya diikat kencang seperti rencana kerja mingguan. “Katanya mereka hidup tanpa listrik negara, tanpa supermarket, tanpa jam kantor. Kamu yakin mau ke sana?” “Yakin,” jawab Rifqi, menatap jalan yang memanjang di antara ladang hijau. “Aku guru bahasa, Nisa. Kadang aku harus belajar bahasa lain—termasuk bahasa bumi.” Dua jam kemudian mereka tiba di Navarro. Angin musim semi membawa aroma tanah basah dan jerami. Di depan mereka, papan kayu bertuliskan Bienvenidos a la Escuela Viva tampak sederhana tapi hangat. Seorang perempuan berambut pendek, mengenakan pakaian dari kain alami, menunggu di sana. “¡Hola! Saya María,” katanya dalam bahasa Inggris yang lincah. “Selamat datang di Gaia. Kami sedang hari kerja kebun, tapi tenang, tak ada yang akan memaksa kalian mencangkul.” Di belakangnya muncul seorang pemuda kurus dengan kacamata bulat. “Saya Diego,” katanya malu-malu. “Mahasiswa baru di sini. Saya masih sering gagap dan salah bedakan daun mint dan basil.” Rifqi menyalami mereka. “Kalau saya, membedakan Messi dan Maradona saja kadang masih salah.” Diego tertawa, María menepuk bahu Rifqi. “Nah, kamu cocok di sini. Di Gaia, yang penting bukan tahu segalanya, tapi mau menumbuhkan sesuatu.” Mereka berjalan melewati jalan setapak berpasir menuju area kebun. Rumah-rumah kecil dari tanah liat berdiri berjarak di antara pohon, dindingnya dihiasi mosaik kaca warna-warni. Di kejauhan, dua orang memainkan gitar dan cajón, menyanyikan lagu lama Argentina tentang musim panen. “Setiap hari kerja dimulai dengan lagu,” kata María. “Agar tangan tahu bahwa yang mereka lakukan punya irama.” Rifqi menatap heran. “Jadi kalian bernyanyi sebelum bekerja?” “Ya. Kamu di Indonesia tidak?” “Kalau di sekolah, kami bernyanyi kalau listrik padam dan guru belum datang.” Tawa kecil pecah. Diego menunduk, kacamata hampir jatuh, dan Nisa mulai tampak lebih rileks daripada satu jam lalu. Di kebun, María menunjukkan tanaman yang tumbuh rapat: selada, tomat, cabai, lavender. Tak ada batas kaku antar petak. “Kami menanam seperti cara alam menulis puisi,” katanya. “Campur, biar saling melindungi.” Rifqi jongkok memegang tanah, mencium aromanya. “Di tempat saya, tanah seperti ini sudah jadi lahan parkir.” María menatapnya lembut. “Tanah tidak marah, tapi dia ingat.” Kalimat itu menggantung di udara seperti mantra kutukan yang berbisik mengancam dalam diam. Mereka makan siang di Casa Comunal, ruang besar beratap jerami dengan meja kayu panjang. Di dinding tergantung lukisan tangan anak-anak tentang siklus air dan langit. Seorang anak perempuan meniup suling bambu kecil sambil menunggu ibunya menghidangkan sup labu. Diego menuangkan air hasil penyaringan ke gelas logam mereka. “Air di sini sudah berkelana tiga kali sebelum sampai di meja,” katanya. Rifqi menatap gelasnya. “Air peziarah.” María menimpali, “Air hujan yang kami tampung di atap, air dapur yang disaring tanaman, dan air kebun yang kembali memberi makan tanaman lain. Kami hanya memastikan setiap tetes punya kesempatan hidup lagi.” Rifqi terdiam. Di kepalanya, gerak air itu seperti bola di kaki Messi—bergulir mengikuti energi ujung kaki yang membimbingnya, tak pernah terburu, tak pernah tersesat. María menatap dinding yang dipenuhi lukisan tangan anak-anak, lalu berkata pelan, “Kalian tahu, dulu tempat ini hanya padang rumput kosong. Dua puluh lima tahun lalu, beberapa orang datang dari Buenos Aires—arsitek, guru, dan petani—mereka ingin mencari cara hidup yang tidak tergantung pada pasar. Mereka bilang: kalau hutan bisa hidup mandiri, kenapa manusia tidak bisa?” Ia tersenyum, menatap keluar jendela ke arah kebun yang hijau. “Maka mereka mulai membangun rumah dari tanah, belajar dari cara nenek moyang di pedesaan. Mereka menanam pohon, menampung air hujan, dan saling ajar—begitulah Ecovilla Gaia lahir. Kami menyebutnya bukan proyek, tapi benih yang terus tumbuh.” Diego menambahkan, “Ada yang datang dan pergi, tapi rumah-rumah ini tetap berdiri. Setiap generasi menambah satu lapisan: dinding, pohon, atau lagu baru.” Rifqi menatap Maria lama. “Berarti Gaia bukan sekadar tempat tinggal, ya?” María tersenyum. “Tidak. Gaia adalah percakapan panjang antara manusia dan bumi, yang tak pernah benar-benar selesai.” Sore menjelang, mereka diajak melihat bengkel bioconstrucción. Beberapa orang sedang mengaduk tanah, jerami, dan air di dalam wadah besar. Rifqi memperhatikan Diego menepuk campuran itu dengan tangan. “Ini untuk rumah baru,” kata Diego. “Rumah yang menumbuhkan sejuk, bukan meminjam dari mesin pendingin.” Rifqi ikut mencelupkan tangannya. “Rasanya seperti adonan roti.” “Persis,” jawab María. “Kami memang sedang memanggang rumah.” Tawa kecil meletup. Kali ini tanpa dipaksa. Senja turun pelan. Mereka duduk di taman kecil menghadap padang. Seseorang menyalakan lilin, dan beberapa penduduk mulai memetik gitar. Lagu pelan tentang hujan dan kesabaran mengisi udara. María menatap langit barat. “Setiap bulan kami membuat lingkaran seperti ini. Kami membaca puisi, berbagi makanan, dan mengingat musim.” Diego menimpali, “Kami tidak punya gereja, tapi kami punya kebun. Di sinilah kami berdoa dengan tangan.” Rifqi memandang lilin-lilin kecil yang bergetar tertiup angin. “Di tempat saya, upacara seperti ini sudah jarang. Orang lebih sering berkumpul untuk Wi-Fi gratis.” María tertawa. “Ah, di sini kami juga punya sinyal. Tapi lebih sering kami dengar jangkrik.” Nisa, yang biasanya sibuk memeriksa jam, menatap api kecil itu lama. “Aku lupa rasanya sore yang tidak menegangkan,” katanya lirih. María menyentuh bahunya. “Sore tidak pernah salah. Hanya manusia yang terburu-buru meninggalkannya.” Dalam perjalanan pulang, mobil mereka melaju perlahan di jalan tanah. Angin membawa aroma tanah dan kayu bakar. “María seperti puisi berjalan,” kata Rifqi. Nisa tersenyum tipis. “Dan kamu seperti murid yang baru sadar belum mengerjakan PR kehidupan.” Rifqi tertawa. “Mungkin nanti aku ajak murid-muridku bikin kebun sekolah. Biar mereka tahu bahwa kata menanam tak selalu berarti ujian prakarya.” Beberapa jam kemudian, di kamar hotel Buenos Aires yang dingin dan sunyi, Rifqi membuka buku catatannya dan menulis satu kalimat pendek untuk dibacakan di konferensi nanti: “Bahasa yang paling sabar di dunia adalah tanah — dia terus mendengarkan bahkan ketika kita tak lagi bicara padanya.”