JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Budaya patriaki telah ada sejak zaman kuno yang ditemukan di banyak masyarakat di seluruh dunia. Budaya patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki memiliki peran dominan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti struktur sosial, ekonomi, politik, dan keluarga. Dalam hal ini, laki-laki dianggap sebagai otoritas utama dalam pengambil keputusan sementara perempuan ditempatkan dalam peran subordinat atau mendukung. Hal ini sering kali diabadikan melalui norma-norma sosial, hukum, dan praktik-praktik budaya yang menguntungkan laki-laki dan menghambat perempuan. Di era digital saat ini, media memiliki peran yang berpengaruh sangat besar dalam membentuk persepsi masyarakat. Media massa seperti televisi, film, iklan dan media sosial seringkali menjadi cerminan bagi budaya dan nilai-nilai masyarakat. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana representasi gender dalam media berkontribusi terhadap pelestarian norma-norma patriarki. 1. Objek Perempuan Iklan dan tayangan media sering kali menampilan Perempuan sebagai objek, terutama dalam konteks seksual. Hal ini tidak hanya merendahkan martabat Perempuan tetapi juga memperkuat pandangan bahwa nilai Perempuan terletak pada penampilan fisiknya semata. Dalam hal ini, salah satu cara media dapat memperkuat budaya patriarki. 2. Kekerasan Terhadap Perempuan Tayangan media sering menunjukkan kekerasan terhadap perempuan seperti hal yang biasa atau bahkan romantis. Contohnya, adegan kekerasan dalam hubungan romantis sering ditampilkan sebagai hal yang biasa terjadi dalam sebuah hubungan, sehingga membuat penonton berpikir bahwa kekerasan dalam hubungan adalah hal yang wajar. 3. Peran Keluarga Tradisional Media sering menampilkan keluarga menggunakan peran tradisional dengan laki-laki sebagai pencari nafkah utama dan perempuan sebagai pengurus rumah tangga. Gambaran ini menegaskan bahwa tempat wanita ada di rumah hanya untuk mengurus rumah dan anak-anak. 4. Kurangnya Representasi Perempuan dalam Posisi Kekuasaan Dalam banyak film dan acara televisi, perempuan jarang digambarkan dalam posisi memiliki kekuasaan atau sebagai pemimpin.Kurangnya representasi ini dapat mencerminkan dan memperkuat pandangan bahwa perempuan tidak cocok atau tidak mampu untuk memegang peran kepemimpinan. 5. Dampak Tayangan Media Pada Persepsi Masyarakat Gambaran yang terus-menerus tentang peran gender ditayangkan oleh media memiliki memiliki dampak besar pada persepsi masyarakat. Anak-anak dan remaja yang tumbuh dengan menonton tayangan-tayangan tersebut mungkin menginternalisasi stereotip ini sebagai norma yang harus diikuti. Akibatnya, banyak dari mereka yang tumbuh dengan pemahaman bahwa pria harus menjadi pencari nafkah utama dan wanita harus bertanggung jawab atas urusan rumah tangga. Hal ini, bisa mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anak-anak muda, memperkuat stereotip gender, dan memperlambat kemajuan menuju kesetaraan gender. 6. Upaya Mengubah Perseps Tentu, tidak semua harapan itu hilang. Ada banyak diantaranya berinsiatif dalam berupaya untuk mengubah persepsi ini dari berbagai kelompok masyarakat yang memperjuangkan kesetaraan gender. Mereka mendorong representasi menjadi lebih beragam dan seimbang dalam tayangan media. Terlihat beberapa tayanan media sudah mulai menunjukkan atau menampilkan laki-laki dan Perempuan memiliki peran yang berbeda dari stereotip tradisional. Hal ini, menunjukkan bahwa siapapun baik laki-laki atau Perempuan bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Kesimpulan Media memiliki pengaruh besar dan peran penting dalam membentuk pandangan masyarakat mengenai gender. Penting bagi kita untuk mengkritisi dan menyadari bagaimana tayangan media yang dapat melanggengkan budaya patriarki. Dengan meningkatkan kesadaran dan mendukung representasi yang lebih adil dan setara, kita dapat bekerja sama dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan bebas dari norma-norma patriarki. Hai, saya Sarah Azizah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Saya mahasiswa semester 7 yang sedang memenuhi tugas pembuatan artikel populer ini dari mata kuliah Komunikasi Gender dengan dosen pengampu Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si.