JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Masjid pertama kali dibangun telah hadir bersamaan dengan penyebaran Islam di Nusantara. Tetapi masih banyak menjadi perdebatan tentang siapa Masjid yang pertama dan tertua di Indonesia, tetapi jika berdasarkan masuknya Islam di Nusantara, Masjid tertua di Indonesia berada di Kerajaan Samudra Pasai yang merupakan Kerajaan Islam Pertama di Nusantara. Ketika Islam mulai dan berkembang di Indonesia, khususnya Jawa, arsitektur Islam diperkenalkan oleh para wali. Para wali disini mempunyai tugas untuk dapat dakwah dalam mengajarkan agama Islam dan menghormati budaya yang sudah berkembang sebelum adanya Islam di Nusantara. Sehingga, para wali sangat dihormati dan dapat diterima dengan baik di kalangan masyarakat juga arsitektur Islam masih diperlihatkan dengan budaya yang lama. Memasuki dekade 1960-an, mulai muncul gaya arsitektur masjid yang baru di Indonesia yang salah satunya dipelopori oleh Achmad Noe’man. Salah satu karyanya adalah masjid Salman di Institut Teknologi Bandung yang dibangun pada tahun 1964. Disini ia berkeinginan untuk dapat merombak pola lama dalam bentuk dan visual lainnya dari masjid yang seperti sebelumnya. Dalam hal ini, seperti hal-nya masjid Turen yang menggunakan perpaduan unsur budaya luar untuk pembangunan masjid ini. Tetapi yang membedakan dari yang lain adalah Masjid Turen dibangun oleh orang awam yang dengan kata lain tidak memiliki kemampuan dalam bidang arsitektur dan berdasarkan hasil istikharah saja. Masjid Tiban atau disapa akrab dengan Masjid Turen dibangun oleh salah satu ulama desa Sananrejo yang bernama Kyai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam. Beliau lahir di Malang pada 14 Ramadhan 1362 Hijriyah dari pasangan Kyai Shaleh dan Hajjah Amanatul Fadhliyah di desa Sananrejo. Sejak kecil, beliau belajar mengaji di Ayahnya sendiri yang pernah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Kabupaten Jombang. Masjid Turen sebenarnya merupakan Masjid yang mempunyai Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang dinamai berdasarkan hasil istikharah dan tidak dikarang sendiri. Nama pondok nya biasa disingkat dengan Pondok Bi Ba’a Fadlrah yang diterjemahkan sebagai lautan madunya. Dalam hal ini mengandung harapan untuk agar setiap orang yang memasuki pondok tidak saja mendapatkan Rahmat, tetapi keutamaan nya bisa dapat lebih dari itu yang diibaratkan seperti intisari atau madu. Pembangunan Masjid Turen dibangun 47 tahun yang lalu dan masih bersifat semi permanen sampai tahun 1992. Lalu Pembangunan dimulai lagi tahun 1999 sampai sekarang. Masjid Turen banyak dikenal oleh Masyarakat khususnya Malang raya dengan mitosnya beranggapan bahwa Pembangunan masjid dilakukan oleh bantuan jin dengan kurun waktu semalam. Hal ini dipercaya karena Masyarakat tidak pernah melihat adanya aktivitas keluar masuknya alat berat untuk membangun masjid ini dan batu-batu yang digunakan dalam Pembangunan masjid ini pun dipercaya berasal dari tempat yang jauh dan sulit dijangkau oleh manusia biasa. Ketika pernyataan ini dikonfirmasikan kepada para santri dan jamaah, pernyataan tersebut salah, karena masjid ini merupakan milik komplek pondok pesantren yang dikerjakan oleh para santri dan jamaah disekitar. Pembangunan Masjid Turen dibangun sendiri oleh para santri dari pondok pesantren itu sendiri dan tidak menggunakan alat berat yang dikarenakan jalan masuk yang sempit sehingga menghalangi alat berat tidak dapat membantu pembangunan. Disamping hal itu, Romo Kyai Ahmad berkata jika siapapun yang ingin membersihkan hati baik berupa tenaga, harta maupun pemikiran dapat dilakukan melalui Pembangunan pondok ini. Jadi, mereka yang hanya mempunyai tenaga lah dapat mengambil kesempatan besar untuk beramal. Pembangunan dari Masjid Turen ini kurang lebih dibantu oleh 100 orang santri dan jamaah yang sangat memakanwaktu lama hingga bertahun-tahun. Pembangunan Masjid Turen yang dipimpin oleh Romo Kyai Ahmad membuahkan hasil yang sangat sempurna dan bagus, dengan berdirinya Masjid ini banyak masuk para santri juga santriwati dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu. Masjid ini merupakan bentuk dari simbol inklusivitas yang diharapkan dapat mempererat hubungan antar umat beragama dan meningkatkan rasa toleransi juga kebersamaan Pada saat ini, Masjid Turen terus dikembangkan untuk pembangunannya dari waktu ke waktu. Pembangunannya semakin diperluas untuk dapat mengakomodasi banyaknya jamaah yang datang untuk berkunjung dan beribadah, terutama pada saat tertentu, seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Pembangunan berkelanjutan ini juga menambahkan berbagai fasilitas untuk dapat memberikan kenyamanan pada jamaah. Representasi Budaya Timur Tengah Masjid Turen dibangun dengan konsep yang sangat modern dan megah dengan menggabungkan elemen budaya dari arsitektur Islam klasik yang berasal dari Timur Tengah yang diadaptasi. Beberapa fitur yang bisa dilihat dari pengaruh budaya Timur Tengah adalah bentuk kubah besar, mihrab, serta dekorasi yang membentuk pola Timur Tengah. Representasi budaya Timur Tengah tidak hanya dari segi visual, tetapi juga dikaitkan dengan makna simbolis dan spiritual yang dalam. Simbolis ini juga merupakan menciptakan hubungan erat antara umat Islam di Indonesia dengan umat Islam global yang berpusat di Timur Tengah. Akulturasi ini lah yang dapat memperkuat rasa kebanggaan umat Islam di Indonesia atas warisan dari budaya Islam, khususnya dari Timur Tengah. Desain dan Arsitektur pada Masjid Turen memiliki ketertarikan sendiri dalam gaya ornamen seperti dari Timur Tengah. Gaya Timur Tengah ini memiliki pengaruh besar dalam pembangunan Masjid ini. Sebagai contoh penerapan dari desain Timur Tengah, terdapat beberapa elemen yang sangat mencolok dan menarik wisatawan untuk berkunjung dengan contoh sebagai berikut. Kubah Masjid Turen adalah salah satu bentuk elemen arsitektur dari budaya Timur Tengah yang telah diakulturasikan dengan budaya di Indonesia yang membuat kubah ini mencolok dan menarik perhatian wisatawan. Di Timur Tengah, kubah sudah lama menjadi ciri khas dalam desain dari sebuah masjid yang bertujuan tidak hanya untuk memperindah bangunan, tetapi juga memiliki makna spiritual mendalam yang melambangkan gambaran dari langit atau alam semesta sebagai pengingat umat Islam tentang kebesaran Allah. Di Masjid Turen, Kubah besar ini tidak sepenuhnya didominasi konsep dari Timur Tengah, tetapi ada budaya lain yang mempengaruhinya, seperti ornamen lokal dengan menyesuaikan dari kondisi lingkungan. Kubah ini dibuat dari logam dan kaca yang dibuat melengkung besar agar terlihat megah dari kejauhan, selain itu juga memberikan gambaran yang menunjukkan kemajuan teknologi dalam arsitektur Islam. Gerbang masuk Masjid Turen memiliki keunikan yang ada pada portal yang sangat indah dan dihiasi pola geometris yang sangat rumit. Portal ini terinspirasi dari gaya arsitektur Islam Timur Tengah seperti masjid-masjid yang berada di Mesir, Turki dan Iran. Hiasan geometris ini berbentuk motif dari bintang, lingkaran dan segitiga yang sejatinya adalah ciri khas dari arsitektur Islam. Portal pada masjid ini menekankan pada keindahan dan keanggunan yang diatur membentuk detail ornamen yang indah untuk memberikan makna yang mendalam. Pada ornamen gaya khas Timur tengah ini, yang paling menonjol adalah Obelisk yang merupakan bentuk inspirasi dari gaya arsitektur mesir kuno dan biasanya digunakan sebagai simbol dari kekuasaan dan keagungan. Pada arsitektur Islam, obelisk biasanya digunakan sebagai lambang dari kebenaran dan keadilan yang dikarenakan bentuknya tegak lurus. Di dalam Masjid Turen ini, obelisk disimbolkan sebagai keagungan Allah dan sebagai penanda masuk kedalam area masjid. Elemen-elemen ini lah yang turut memperkuat rasa kebanggaan khususnya umat Islam di Indonesia terhadap kekayaan warisan budaya Islam. Keberadaan Masjid ini menggambarkan bahwa keberagaman Indonesia memiliki penghubung yang dapat menyatukan umat muslim di seluruh dunia, khususnya pusat di Timur Tengah. Dengan arsitektur yang menggabungkan elemen dari Timur Tengah, Masjid Turen telah menunjukkan bagaimana Islam ini dapat berkembang secara lokal dengan tetap menjaga nilai dasarnya yang bersifat universal. Akulturasi budaya China terlihat dari beberapa elemen arsitektur dan ornamen yang mengkombinasikan gaya dari budaya Tionghoa, seperti penggunaan warna emas dan merah. Masjid turen ini tentunya sangat mencerminkan perpaduan antara budaya Tionghoa dan Islam yang merupakan bentuk dari interaksi juga pertukaran budaya antara orang Muslim dan Tionghoa yang ada di Malang. Berikut adalah contoh akulturasi budaya China di Masjid Turen antara lain: Penggunaan warna emas dan merah khas arsitektur Tionghoa Pada gerbang masuk Masjid Turen terdapat satu bangunan yang menarik perhatian karena dari segi arsitektur nya yang menggabungkan elemen Islam dan Tionghoa. Terdapat ornamen geometris rumit yang merupakan ciri khas dari seni Islam, tetapi dipadukan juga dengan elemen dari Tionghoa seperti motif bunga, yang melambangkan simbol keberuntungan. Bangunan ini juga memiliki warna emas yang sering digunakan oleh Masyarakat Tionghoa sebagai lambing dari kemewahan dan keagungan. Motif Naga dan Bunga Teratai Kedua motif ini seringkali dijumpai pada desain arsitektur Tionghoa. Masjid Turen memiliki kedua motif tersebut yang mencerminkan akulturasi dari budaya dari Islam dan Tionghoa yang ada di Indonesia. Simbol Naga mencerminkan sebagai sumber dari kekuatan, keberanian dan keberuntungan dalam budaya Tionghoa, simbol ini banyak digunakan dalam desain dan arsitektur sebagai penunjuk dari status dan kekuasaan. Dalam konteks masjid, simbol dari naga dihapkan untuk bisa melindungi tempat ibadah. Simbol bunga Teratai mencerminkan tentang kesucian, kemurnian, dan pencerahan. Penggunaan kedua motif ini menunjukkan usaha untuk dapat menciptakan harmoni dalam dua tradisi yang berbeda yang diintegrasikan di masjid Turen. Usaha ini tidak hanya untuk memperkaya keindahan dari bangunan, tetapi juga membuat ruang berisikan nilai dan keyakinan dari kedua komunitas terlepas dari latar belakang budaya atau agama mereka. Akulturasi budaya Tionghoa pada masjid Turen merupakan bukti dari bagaimana harmoni budaya dapat tercipta dari nilai seni, arsitektur dan spiritualitas. Masjid Turen bukan hanya sebatas dari tempat ibadah saja, tetapi juga lambing dari keberagaman multicultural di Indonesia. Melalui elemen Tionghoa yang disatukan dengan Islam ini, mengajarkan kepada kita semua untuk pentingnya saling menghormati keberagaman budaya di dalam masyarakat. Selanjutnya, Budaya dari arsitektur dan seni India dapat dilihat dari elemen-elemen masjid seperti pola desain, bagian bangunan dan penggunaan warna yang merujuk pada gaya estetika arsitektur Kerajaan Mughal di India. Kehadiran dari elemen-elemen ini yang menunjukkan bahwa Islam di Indonesia tidak berkembang secara lokal saja, tetapi banyak sekali dipengaruhi dari budaya luar seperti India yang memiliki Sejarah seni dan arsitektur Islam. Selain itu, interaksi dari kedua budaya inilah yang turut berkontribursi untuk memperkaya keindahan dari arsitektur dan seni pada masjid Turen. Budaya dari India bisa kita lihat di contoh sebagai berikut. Kubah dan Menara masjid Turen Selain terinspirasi dari arsitektur Timur Tengah, masjid Turen ini juga mengadaptasi budaya India ke dalam arsitektur bentuk kubah dan menara masjid. Kubah yang berbentuk bulat dan dikelilingi menara kecil bisa saja terinspirasi dari kerajaan Islam Mughal India. Gaya ini mengingatkan juga pada bangunan ikonik di India yang dibangun oleh Kerajaan Mughal yaitu Taj Mahal, yang menggunakan kubah sebagai elemen sentral untuk melambangkan sebagai kemegahan dari sebuah bangunan. Kubah pada masjid Turen ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda structural saja tetapi memiliki makna yang mendalam di spiritual untuk melambangkan hubungan manusia dan tuhan. Menara di masjid ini juga mendukung untuk menciptakan identitas bangunan dan menjadi visual yang dapat menarik perhatian. Kubah dan Menara di masjid Turen ini menjadi elemen yang ikonik dan ditonjolkan untuk lambang dari kebesaran dan kemegahan dari bangunan ini. Dinding pagar dan Langgam arsitektur Gaya arsitektur yang digunakan di masjid Turen ini juga memiliki perpaduan yang bagus diantara elemen arsitektur India dan Islam. Misalnya, penggunaan pada lengkungan yang halus di setiap bangunan dan diberikan ornament rumit yang detail untuk bisa menciptakan suasana yang megah dan menenangkan. Lengkungan ini banyak sekali ditemui di bangunan India dan Timur Tengah dan biasanya digunakan untuk celah bangunan. Ukiran floral juga turut menghiasi keindahan dari masjid Turen, seperti, ukiran bunga mawar yang memberikan dukungan dari segi struktural, visual dan artistic. Bunga mawar biasanya dikenal sebagai lambing keindahan, cinta dan romantical. Sebenarnya bunga mawar ini memiliki beragam makna dan bervariasi, seperti di India, bunga mawar melambangkan kesucian dan kemurnian serta digunakan dalam persembahan kepada dewa-dewi pada kepercayaan hindu. Dalam Islam, bunga mawar memiliki makna spiritualitas yang dilambangkan sebagai keindahan dari surgawi. Bunga ini diartikan untuk bisa melambangkan keindahan masjid dari segi floral. Sentuhan warna dari India Meskipun hanya sedikit, tetapi ada kesamaan antara masjid di India dengan masjid Turen yaitu palet warna yang menggunakan warna bata merah dan marmer putih. Kedua warna itu banyak ditemui pada bagian dalam masjid dan mimbar masjid yang berwarna merah bata keemasan. Dalam Islam, warna merah bata melambangkan kekuatan dan ketahanan dalam menjalani kehidupan beragama yang multicultural. Selain itu, merah bata juga merupakan penanda waktu sholat maghrib yang ditandai dengan warna langit kemerahan. Berbeda dari budaya India, yang melambangkan warna merah sebagai warna keberuntungan dan kebahagiaan. Warna emas dalam Islam menunjukkan tentang penghormatan dan estetika dalam ibadah yang diasosiasikan sebagai cahaya dan kebaikan. Dalam budaya india, warna emas juga bermakna positif yang melambangkan kemakmuran dan keberuntungan. Akulturasi india di masjid Turen terlihat jelas melalui penggunaan warna yang tidak hanya memperindah bangunan, tetapi memiliki makna spiritualitas yang sangat dalam dari segi agama. Bentuk dari bangunan ini juga berkontribusi besar dalam bagaimana kebudayaan antara India dan Islam dapat diintegrasikan untuk bisa bersinggungan dan memperkaya keindahan arsitektur masjid Turen. Akulturasi budaya Jawa dan Islam sangat banyak ditemui dimanapun, khususnya di wilayah masjid Turen yang bisa dilihat melalui berbagai manifestasi yang kaya dan beragam. Masjid Turen tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga merupakan pusat dari interaksi antara budaya Jawa dengan ajaran di agama Islam. Akulturasi ini menciptakan sebuah ruang sosial yang menggabungkan nilai Islam dengan kearifan lokal di Jawa khususnya dari segi arsitektur seni dan tradisi keagamaan. Keunikan inilah yang menjadi cerminan tentang bagaimana Masyarakat Jawa yang mengintegrasikan dua budaya dengan latar belakang yang berbeda menjadi kesatuan dan menjadi identitas tersendiri. Akulturasi dua budaya ini bisa kita lihat dengan sebagai berikut. Ukiran dan Ornamen Masjid Turen Motif dan desain ukiran ornament jawa pada masjid Turen menciptakan perpaduan antara estetika tradisional jawa dan kaligrafi Islam. Pada bagian arsitektur masjid, terutama di eksterior dan interior banyak ditemukan elemen ukiran adaptasi dari jawa yang mengandung makna yang mendalam. Dalam gambar diatas, motif flora diadaptasi untuk melambangkan kehidupan kesuburan. Dalam budaya Jawa. disimbolkan sebagai kehidupan yang terus berlanjut dan dalam Islam diartikan sebagai keindahan ciptaan tuhan. Pada ukiran diatas, disertai tulisan kaligrafi yang diintegrasikan dengan elemen budaya lokal. Kontribusi hidangan tradisional Dalam hal ini, hidangan tradisional Jawa juga turut berkontribusi dalam perayaan dan tradisi Islam. Banyak sekali hidangan tradisional yang memiliki hubungan erat dalam tradisi Islam dan tentunya memiliki makna yang mendalam. Hidangan-hidangan ini sudah menjadi tradisi tersendiri untuk disuguhkan kepada pelaku tradisi untuk bisa mendapat keberkahan. Beberapa contoh dari hidangan tradisional jawa dalam tradisi Islam adalah sebagai berikut. Jenang Suro sesuai dengan namanya, jenang ini disuguhkan pada hari pertama di bulan Suro yang bertepatan pada 1 Muharram dalam kalender Islam. Jenang ini sudah ada sejak Sultan Agung berkuasa dan merupakan refleksi Masyarakat Jawa untuk wujud dari berkah dan rezeki yang diberikan Allah SWT. Jenang ini menjadi simbol rasa Syukur kepada Allah SWT untuk keberkahan dan rezeki. Makna dari jenang Suro ini juga terletak pada angka tujuh, yang tercermin dari penggunaan tujuh jenis kacang, seperti kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang mede, dan beberapa kacang lainnya. Angka tujuh ini melambangkan tujuh hari dalam seminggu, sehingga menyantap jenang suro diharapkan menjadi doa agar selalu diberikan berkah dan kelancaran dalam kehidupan setiap harinya. Jenang Sengkolo ini biasanya disajikan pada saat tahun baru Islam. Hidangan tradisional Jawa yang terbuat dari beras ketan, santan, dan gula merah atau gula aren. Jenang sengkolo memiliki makna khusus dalam budaya Jawa, yaitu sebagai simbol menolak bala dan menghindarkan diri dari kesialan. Jenang sengkolo biasanya disajikan dalam berbagai perayaan, seperti tahun baru Islam, Sengkolo memiliki makna sebagai simbol dari perubahan, tantangan dan perjalanan hidup yang harus dijalani. Dalam konteks tersebut, dengan ini diharapkan pada tahun baru Islam untuk bisa merubah dirinya menjadi lebih baik lagi dan lebih taat kepada Allah SWT. Nasi Tumpeng, baik dalam tradisi Jawa maupun Islam, memiliki makna simbolis yang mendalam sebagai bentuk rasa syukur, doa, dan kebersamaan. Dalam tradisi Jawa, nasi tumpeng dengan bentuk kerucut melambangkan Gunung Meru, simbol hubungan manusia dengan Tuhan, serta keberagaman dan keseimbangan hidup. Tumpeng sering disajikan dalam acara selametan atau perayaan penting sebagai wujud terima kasih atas nikmat yang diberikan Tuhan. Sementara dalam tradisi Islam, nasi tumpeng juga digunakan dalam acara seperti akikah dan pernikahan sebagai ungkapan syukur kepada Allah, disertai doa untuk keselamatan dan berkah. Selain itu, nasi tumpeng dalam Islam mencerminkan semangat berbagi dan kebersamaan, di mana lauk-pauk yang mengelilinginya dibagikan kepada keluarga dan tetangga sebagai bentuk solidaritas. Kedua tradisi ini menekankan pentingnya doa, harapan, dan kebersamaan dalam setiap aspek kehidupan. Akulturasi budaya Jawa dan Islam yang terdapat di masjid Turen menggambarkan keharmonisan antara dua tradisi yang berbeda latar belakang tetapi saling memperkaya dan menguatkan. Dari manifestasi budaya yang beragam, seperti ukiran dan ornament masjid, hidangan tradisional seperti Jenang Suro, Jenang Sengkolo, dan Nasi Tumpeng, serta Tradisi Nikah Massal, masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah saja, tetapi juga ruang sosial yang memadukan nilai agama Islam dan Kearifan lokal. Akulturasi ini menciptakan identitas khas yang mengedepankan kebersamaan, solidaritas, dan rasa Syukur serta menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa mengintegrasikan aspek budaya dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari mereka. Melalui tradisi-tradisi ini, Masjid Turen menjadi simbol nyata dari perpaduan yang harmonis antara Islam dan budaya Jawa, serta mempererat hubungan antarwarga dengan nilai-nilai yang penuh makna.