JEMBER, NETRALNEWS.COM - Sepak bola adalah olahraga yang memiliki daya tarik global. Tidak ada bentuk budaya populer lain yang dapat menimbulkan gairah kebersamaan dalam perjalanan sejarah olahraga dunia kecuali sepak bola. Daya tarik lintas budaya sepak bola meluas dari Eropa dan Amerika Selatan ke Australia, Afrika, Asia bahkan Amerika Serikat. Sepak bola berhasil mengkonstruksikan bentuk identitas tertentu melalui praktik dan interpretasi atas permainan (Guilianotti, 2006). Sepak bola adalah wadah di mana orang dari berbagai latar-belakang etnis bertemu. Terkadang pertandingan sepak bola berakhir dengan pertengkaran antar orang yang berbeda latar belakang dan suporter. Walaupun demikian, sepak bola tetap menjadi meeting point yang mendapat perhatian oleh masyarakat (Colombijn, 2010: xix-xx). Hal ini secara tidak langsung membentuk rasa cinta terhadap wilayahnya melalui klub-klub sepakbola yang dibentuk. Berawal dari fenomena ini Bung Karno memanfaatkan semangat sepakbola ini menjadi semangat “nasionalisme sepakbola”. Sukarno memandang bahwa olahragawan adalah wakil-wakil bangsa dan negara dalam ajang pertandingan dan perlombaan. Setelah Indonesia dikeluarkan dari keanggotaan Komite Olimpiade Internasional, Sukarno semakin jelas mendeklarasikan olahraga tidak bisa terpisah dengan politik. Olimpiade Internasional pernah menyatakan bahwa “sports are sports, do not mix sport with politics” akan tetapi mereka melarang negara komunis (RRC, Vietnam) untuk mengikuti olimpiade, hal ini yang kemudian dikecam keras oleh Bung Karno. Sepak bola yang secara resmi didanai oleh negara Indonesia merupakan wakil untuk mengharumkan nama sebuah bangsa dan negara Indonesia dalam pertandingan internasional. Secara langsung, sepak bola memiliki misi diplomatik untuk membudayakan seperti apa sepak bola Indonesia dan promosi Indonesia secara resmi yang selalu mendapat dukungan negara. Indonesia mengikutsertakan tim nasional sepak bola di asian games untuk pertama kalinya dengan membentuk tim nasional yang pertama setelah era kemerdekaan. PSSI membentuk Timnas untuk Asian Games I New Delhi melalui keputusan kongres PSSI 1950 di Semarang. Indonesia mulai mengikuti kejuaraan-kejuaraan sepakbola seperti Asian Games, di era Bung Karno ini sepakbola kita mulai diperbincangkan oleh komentator di Singapura, Laos, Hongkong dan Birma. Saat demokrasi terpimpin banyak kebijakan yang diambil berdasarkan kepribadian Bung Karno dan dari angkatan bersenjata. Pada tanggal 17 Agustus 1959, semua perjuangan bangsa di segala aspek kehidupan sosial diharuskan dan bahkan wajib untuk mengikuti anjuran Manipol dan jiwa USDEK antara lain Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Nasional. Untuk membakar semangat nasionalisme dan membangun karakter bangsa, Sukarno sering sekali mengatakan “don’t leave history”. Sepak bola dan Manipol di era Sukarno memiliki hubungan yang saling melengkapi dalam satu tujuan. Manipol yang bertemakan revolusi sebagai tema tunggal dapat memberikan jalan untuk menempatkan sepak bola sebagai salah satu alat untuk mewujudkan hal itu karena sepak bola juga merupakan perjuangan tentang nilai-nilai. Itu juga masuk dalam wilayah olahraga dan sepak bola. Sukarno yang ahli dalam propaganda dan agitasi hendak menjadikan sepak bola sebagai salah satu alat untuk membentuk suatu karakter bangsa dalam proses national building. Prestasi sepak bola ketika era Sukarno pun dapat dibanggakan oleh negara dan rakyat Indonesia. Semangat sosialisme yang dipandang sebagai suatu cara untuk memperjuangkan harga diri dari penindasan masuk pula dalam sepak bola. Sejak saat itu penunjang olahraga seperti fasilitas latihan digenjot pembangunannya oleh Bung Karno demi menyongsong kemajuan sepakbola, Gelora Bung Karno mulai di bangun pada 8 Februari 1960 dan selesai pada Juli 1962, pada waktunya untuk menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Asia. Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Rusia (saat itu Uni Soviet). Semenjak pelaksanaan Asian Games ini, bangsa Indonesia semakin harum karena pelanggaran yang sukses dan berhasil menjadi juara umum. Bung Karno mengatakan bahwa atlet-atlet itu sebagai pembela negara dan membantu menyongsong eksistensi bangsa Indonesia sehingga semakin dikenal kemudian menimbulkan kebanggaan dari rakyatnya maka nilai-nilai inilah yang dimanfaatkan Bung Karno untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Penulis: Mochammad Akbar Hakim Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Jember