PROBOLINGGO, NETRALNEWS.COM- Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 menandakan periodisasi baru dalam sejarah Indonesia. Karakteristik bangsa Indonesia pascakemerdekaan meliputi perumusan alat kelengkapan negara, tantangan sebagai negara baru, dan eksistensi Indonesia sebagai negara merdeka di mata dunia. Terdapat beberapa ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang dihadapi bangsa Indonesia pada awal-awal kemerdekaan. Di antara empat hal itu, gangguan menjadi salah satu hal menarik untuk dibahas. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, gangguan adalah suatu hal penyebab ketidaklancaran. Konteks sejarah Indonesia awal kemerdekaan mengindikasikan gangguan ialah penyebab ketidaklancaran stabilitas politik Indonesia dan terhambatnya pembangunan. Gangguan sendiri dapat datang dari dalam negeri atau luar negeri. Gangguan dari dalam negeri dapat berupa masifnya paham radikalisme, terorisme, pemberontakan, dan separatisme. Lain dengan gangguan eksternal yang meliputi perang, sabotase, intervensi, agresi, dan spionase. Berbagai jenis gangguan yang disebutkan sebelumnya pernah dan tengah dihadapi bangsa Indonesia. Agresi militer oleh Belanda menjadi salah satu gangguan politik yang pernah dialami oleh Bangsa Indonesia yang berasal dari pihak eksternal atau luar negeri. Tentu, motif utama agresi militer oleh Belanda tidak lain untuk menguasai kembali wilayah bekas jajahan. Sejarah mencatat Belanda melancarkan Agresi di beberapa kota di Indonesia, termasuk Kota Probolinggo. Menyikapi hal tersebut, rakyat Probolinggo tidak tinggal diam. Tentu dalam melakukan perlawanan, rakyat Probolinggo memiliki strategi tersendiri. Kemudian, seperti apa kondisi pasca kemerdekaan di Indonesia terutama di Kota Probolinggo? Probolinggo Kota Probolinggo menjadi salah satu di antara 9 kota di Jawa Timur. Merujuk pada keterangan Bappeda Provinsi Jawa Timur, letak astronomis Kota Probolinggo berada di 7º43'41'-7º49'04' Lintang Selatan dan 113°10' - 113°15' Bujur Timur. Mengenai toponimi Probolinggo, Probolinggo berasal dari kata Praba yang berarti sinar dan lingga yang berarti kejantanan atau kekuatan (Sapto dalam Novianti, 2021). Perlu diketahui bahwa sebelumnya Probolinggo dikenal dengan nama Banger. Tidak hanya itu, pada masa klasik Probolinggo tercatat pernah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit, Blambangan, dan Mataram Islam. Meskipun hanya kota kecil, Kota Probolinggo menduduki peran strategis sejak masa penjajahan Belanda karena memiliki daya dukung maksimal pada sektor perkebunan dan pertanian (Sapto, 2012). Proporsi penduduk Kota Probolinggo pada masa pendudukan Belanda terdiri dari bumiputera, orang Eropa, orang Cina, dan pendatang dari daerah lain. Lebih lanjut, Kota Probolinggo menjadi salah satu kota penting karena terletak di Pantai Utara Jawa bekas proyek Jalan Pos Anyer-Panarukan. Probolinggo di Era Kemerdekaan Saat usia kemerdekaan Indonesia belum memasuki satu dekade, muncul gangguan yang berasal dari luar negeri. Gangguan yang dimaksud ialah agresi militer Belanda. Agresi militer merupakan wujud ambisi Belanda dalam menguasai kembali wilayah Indonesia. Jelas, tujuan utama agresi adalah mengganggu kedaulatan Indonesia serta menguasai kembali daerah potensial terutama di bidang ekonomi (Novianti, 2021). Agresi Militer Belanda terjadi sebanyak dua kali. Meskipun demikian, antara Agresi Militer I dan II memiliki motif yang hampir sama. Agresi militer menyebabkan berbagai perlawanan muncul guna mempertahankan kemerdekaan di seluruh wilayah Indonesia. Agresi militer yang dilakukan oleh Belanda menyasar berbagai kota-kota di Indonesia, termasuk Kota Probolinggo. Kota Probolinggo menjadi salah satu sasaran agresi karena terdapat bekas perkebunan dan pabrik gula milik Belanda. Belanda masuk ke Kota Probolinggo dimulai dari pendaratan di Pantai Pasir Putih, Kabupaten Situbondo. Tepat pada 20 Juli 1947 pukul 16.00 pasukan Belanda telah memasuki Kota Kraksaan (Ibukota Kabupaten Probolinggo) dengan membawa 8 buah tank. Iring-iringan pasukan Belanda kemudian bergerak ke arah barat hingga sampai di Kota Probolinggo. Tak dapat dihindari, kedatangan Belanda di Kota Probolinggo menimbulkan kontak senjata antara pribumi dan Belanda. Mengetahui hal tersebut, Mayor Abdurrasjid yang notabene pemimpin militer di Kota Probolinggo memerintahkan satu peleton pasukan militer untuk menghadang kedatangan pasukan Belanda di sekitar Bukit Bentar, Kecamatan Dringu (Noviyanti, 2021). Tidak sampai di Bukit Bentar, rakyat Probolinggo kemudian bertemu dengan pasukan Belanda di sekitar Dringu dan pertempuran terjadi. Secara kasat mata, alutsista perang yang digunakan Belanda jauh lebih canggih dibanding dengan masyarakat Probolinggo. Faktor kecanggihan senjata menjadi salah satu penyebab kalahnya masyarakat Probolinggo dalam pertempuran tersebut. Pertahanan telah semaksimal mungkin dikerahkan, namun akhirnya pada 21 Juli 1947 menjelang magrib wilayah Probolinggo telah berada dalam penguasaan pasukan Belanda. Meski wilayah Probolinggo telah dikuasai oleh Belanda, namun semangat juang rakyat Probolinggo semakin berkobar. Tekad untuk merebut kembali wilayah mereka menjadi semakin bulat. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan susah payah oleh para pendahulu sedapat mungkin dipertahankan sebagai wujud terima kasih dan penghormatan. Daftar Rujukan Hafizah, N.A. (2019). Perang Gerilya di Mojokerto Tahun 1947-1949. Skripsi (Online). Malang: Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang. Indonesiana. (2017). Moehammad Saleh. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mkn/moehammad-saleh/. Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. (2016). Arti Kata Ganggu. https://kbbi.web.id/ganggu. Kuntowijoyo. (2005). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka. Kompasiana. (2014). Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menghargai Jasa Pahlawannya. https://www.kompasiana.com/kdavid/54f71155a333116d5a8b4f15/bangsa-yang-besar-adalah-bangsa-yang-menghargai-jasa-pahlawannya. Novianti, U. H. (2021). Perlawanan Rakyat Probolinggo dalam Menumpas Agresi Militer Belanda 1947-1949. Historiography: Journal of Indonesian History and Education, 1(1), 104-120. Safitry, M. (2020). Kisah Karantina Paris of the East: Wabah Pes di Malang, 1910-1916. Jurnal Sejarah, 3(1), 116-120. Sapto, A. (2012). Kota Probolinggo Pada Masa Menjelang Dan Awal Revolusi. LITERASI: Indonesian Journal of Humanities, 2(1), 36-48. Sukmana, W. J. (2021). Metode Penelitian Sejarah. Seri Publikasi Pembelajaran, 1(2), 1-4. Tanyid, M. (2018). Kualitas Pemimpin Sebagai Pendidik Dalam Menghadapi Konflik. BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, 1(1), 124-137. Wardah, E. S. (2014). Metode Penelitian Sejarah. Jurnal Tsaqofah, 12(02), 163-175. Wibowo, S. A. (2021). Paparan, Profil, Sejarah, dan Koleksi Museum Dokter Mohamad Saleh Kota Probolinggo. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mkn/wp-content/uploads/sites/61/2021/03/PAPARAN-MUSEUM-DOKTER-MOHAMAD-SALEH-1.pdf