YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang guru sejarah yang pintar bahkan jenius, tetapi karena kendala komunikasinya yang kurang efektif maka informasi sepenting apapun yang dijelaskan oleh guru tersebut tidak akan sampai pada pemahaman di peserta didik, ibarat debu di tangan yang tertiup angin, menghilang begitu saja. Oleh sebab itu kajian tentang kemampuan seni berkomunikasi bagi guru, terutama guru sejarah menjadi hal yang sangat penting. Pelajaran sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang harus mampu membangkitkan rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan para peserta didik sebagai generasi penerus bangsa melalui pengembangan nilai-nilai dimensi profil pelajar pancasila (beriman-bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri) di kurikulum merdeka. Sementara itu diakui atau tidak, diterima atau tidak, belajar sejarah dari dulu (sekitar tahun 1980-an) hingga sekarang menurut peserta didik belajar sejarah merupakan belajar yang paling membosankan. Apalagi jika hanya menghafal angka tahun, tempat, peristiwa terjadi, nama tokoh sejarah, dan sebagainya. Bagaimana kuncinya agar guru sejarah dalam menyampaikan materi mudah dimengerti siswa dan tidak membosankan? Seni berkomunikasi adalah kuncinya. Mengapa harus seni komunikasi? Seni berkomunikasi dalam pembelajaran mempunyai sifat edukatif untuk mencapai tujuan pendidikan, karena suksesnya sebuah proses belajar mengajar salah satunya sangat bergantung pada komunikasi antara guru dan peserta didik. Keterampilan dalam seni berkomunikasi adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan pesan kepada lawan bicaranya. Bila dikaitkan dengan proses belajar mengajar, maknanya akan lebih luas, bukan sekadar transmisi pesan tapi juga melibatkan pemahaman bersama saat komunikasi berlangsung. Seberapa pintar guru dan pentingnya materi yang dikaji, akan sangat disayangkan jika tidak ditopang oleh keterampilan seni berkomunikasi guru dalam suatu proses pembelajaran. Oleh sebab itu kemampuan seni komunikasi mutlak harus dikuasai oleh tenaga pendidik, mulai dari kemampuan mensugesti dengan kata-kata positif, menjelaskan materi dengan artikulasi dan intonasi bahasa yang tepat, ditopang dengan media yang mampu membantu keterbacaan tulisan sehingga materi lebih mudah dipahami. Guru sejarah yang dirindukan atau tidak membosankan harus mampu mengembangkan keterampilan seni berkomunikasi, yang diantaranya: mampu menggunakan bahasa sugesti, artikulasi dan intonasinya jelas, sistematis dalam menjelaskan, tulisan yang bagus, adanya eye contact, adanya komunikasi dua arah, menggunakan dialog dan monolog, mengajar secara ekspresif dan ilustratif serta diselingi joke/ humor dalam pembelajaran. Seni berkomunikasi sebagai kunci agar peserta didik dalam belajar sejarah tidak membosankan ini ditulis oleh saudara Usep dalam buku Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe. Kelebihan tulisan ini saudara Usep memberikan contoh-contoh real cara mensugesti, cara komunikasi dua arah yang benar, cara mengajar yang ekspresif dan sebagainya. Saudara sebagai guru sejarah rasanya belum pas jika belum membaca buku yang disunting Lilik Suharmaji tersebut. Buku ini dapat diperoleh di AGSI Yogyakarta.