JAKARTA - Setiap hari kita mungkin menggunakan AI tanpa pernah memikirkan apa yang terjadi di balik layar. Tinggal mengetik pertanyaan, beberapa detik kemudian jawaban muncul. Namun, di balik kemudahan itu, ada server yang bekerja, listrik yang digunakan, dan sistem pendingin yang dibutuhkan agar semuanya tetap berjalan. Salah satu sumber daya yang ikut dibutuhkan adalah air. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) merupakan teknologi yang memungkinkan komputer melakukan berbagai tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti memahami bahasa, mengenali pola, memberikan rekomendasi, hingga membantu mengambil keputusan. Saat ini, AI sudah digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membantu mengerjakan tugas, membuat gambar, menerjemahkan teks, sampai sekadar mencari ide. Namun, AI sebenarnya tidak bekerja begitu saja di dalam layar HP atau laptop. Ketika kita memberikan perintah kepada AI, permintaan tersebut diproses oleh komputer atau server yang berada di pusat data atau data center. Server-server tersebut memiliki kemampuan komputasi yang besar agar bisa memproses banyak permintaan dari pengguna. Server yang bekerja terus-menerus menghasilkan panas. Karena itu, data center membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil. Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah sistem pendinginan yang memanfaatkan air. Artinya, bukan AI yang secara langsung “minum” air. Air digunakan sebagai bagian dari fasilitas yang menjalankan sistem AI. Besarnya penggunaan air juga tidak selalu sama karena bergantung pada teknologi pendinginan, lokasi data center, kondisi lingkungan, dan cara sistem tersebut dikelola. Semakin besar kebutuhan komputasi, semakin penting pula sistem pendinginan yang mampu menjaga server tetap bekerja dengan baik. Benarkah Satu Pertanyaan AI Menghabiskan 500 Ml Air? Pembahasan mengenai penggunaan air oleh AI sempat ramai karena muncul angka sekitar 500 ml air untuk penggunaan AI. Angka tersebut memang memiliki dasar penelitian, tetapi sering kali dipahami secara keliru. Penelitian yang membahas penggunaan air GPT-3 memperkirakan sekitar 500 ml air untuk 10–50 respons berukuran sedang. Perkiraan tersebut juga dapat berubah tergantung lokasi dan waktu ketika komputasi dilakukan. Di sisi lain, CEO OpenAI Sam Altman pernah menyebut bahwa rata-rata satu kueri ChatGPT menggunakan sekitar 0,000085 galon air atau sekitar seperlima belas sendok teh. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan air AI tidak bisa disederhanakan menjadi “satu pertanyaan sama dengan satu botol air”. Jumlahnya dapat berbeda tergantung teknologi, model AI, lokasi data center, serta cara perhitungannya. Jadi, ketika melihat klaim bahwa setiap pertanyaan kepada AI pasti menghabiskan 500 ml air, sebaiknya jangan langsung menerimanya sebagai angka pasti. Pembahasan mengenai kebutuhan air untuk AI bukan hanya terjadi di luar negeri. Indonesia juga sedang menghadapi persoalan tersebut melalui pembangunan data center AI di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. BDx Data Centers memulai pembangunan AI Campus 2 atau CGK4 pada September 2026. Fasilitas tersebut dirancang dengan kapasitas pengembangan hingga 640 megawatt (MW), sementara tahap awalnya memiliki kapasitas 120 MW. (BDx Data Centers) Besarnya proyek tersebut membuat kebutuhan air ikut menjadi perhatian. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan kepada pemerintah Jawa Barat, kebutuhan air pada tahap awal disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari. Jika fasilitas berkembang hingga kebutuhan maksimal, angkanya dapat mencapai sekitar 33.000 meter kubik atau 33 juta liter per hari. Besarnya kebutuhan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai ketersediaan air dan penggunaannya, terutama agar tidak mengganggu kebutuhan lain seperti pertanian, air baku, dan kebutuhan masyarakat. Pada 1 Oktober 2026, pembangunan proyek tersebut dipastikan dihentikan sementara oleh pemerintah daerah sampai persyaratan yang diperlukan terpenuhi. Pemerintah Jawa Barat juga menyebut persoalan perizinan, termasuk PBG dan AMDAL, masih menjadi bagian dari proses yang harus diselesaikan. (detikcom) AI memang memberikan banyak kemudahan. Namun, di balik teknologi yang terlihat sederhana bagi pengguna, ada kebutuhan terhadap server, listrik, sistem pendingin, dan berbagai sumber daya lainnya. Penggunaan air untuk data center juga tidak otomatis berarti AI menjadi sesuatu yang buruk. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kebutuhan tersebut dikelola, terutama ketika data center beroperasi dalam skala besar. Semakin banyak AI digunakan, semakin penting pula memastikan teknologi yang mendukungnya dapat berjalan secara efisien dan tidak mengabaikan ketersediaan sumber daya di sekitarnya. AI mungkin hanya terlihat seperti kotak percakapan di layar, tetapi proses di baliknya jauh lebih besar. Setiap pertanyaan yang kita kirim membutuhkan sistem komputasi yang bekerja di balik layar, dan sistem tersebut membutuhkan energi serta pendinginan agar tetap berjalan. Karena itu, pembahasan mengenai AI tidak lagi hanya soal seberapa pintar teknologinya. Ada pula pertanyaan tentang bagaimana teknologi tersebut menggunakan sumber daya seperti air. Perkembangan AI tentu akan terus berjalan, tetapi penggunaan sumber daya di baliknya juga perlu diperhatikan agar kemajuan teknologi tetap berjalan beriringan dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat.