BANDUNG, NETRALNEWS.COM - Cara konsumen mencari informasi di internet mulai berubah seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Jika sebelumnya pengguna mengandalkan mesin pencari untuk menemukan sejumlah tautan, kini pertanyaan dapat disampaikan langsung kepada sistem AI dan dijawab dalam bentuk rangkuman. Perubahan pola pencarian tersebut turut mendorong lahirnya Generative Engine Optimization (GEO), pendekatan yang berkaitan dengan kemunculan dan penggunaan informasi mengenai suatu perusahaan atau merek dalam jawaban yang dihasilkan sistem AI. GEO berkaitan dengan bagaimana informasi mengenai suatu perusahaan dapat ditemukan, disebut, dijelaskan, atau dikutip oleh sistem seperti ChatGPT, Gemini, Google AI Overviews, Google AI Mode, Perplexity, Copilot, Claude, dan Grok. Dalam Search Engine Optimization (SEO), perhatian umumnya diarahkan pada posisi halaman situs dalam hasil pencarian. Sementara GEO, apakah suatu perusahaan muncul ketika pengguna mengajukan pertanyaan tertentu kepada sistem AI. Pakar AI Visibility yang juga Founder Arfadia Digital Indonesia Tessar Napitupulu turut memberikan pendapat atas fenomena itu. Menurutnya, perubahan tersebut juga terlihat dari cara konsumen di Indonesia menyampaikan pertanyaan kepada AI. "Pembeli di Indonesia bertanya ke AI dengan bahasa dan istilah mereka sendiri. Agensi yang tidak memahami istilah itu akan mengoptimasi pertanyaan yang tidak pernah diketik siapa pun," kata Tessar kepada wartawan, Rabu (30/9/2026). Dia menyebut kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan perusahaan besar. Pabrik, perguruan tinggi, klinik, hingga penyedia jasa di daerah juga dapat menghadapi perubahan pola pencarian ketika calon pelanggan menggunakan AI untuk memperoleh informasi. Salah satu persoalan yang muncul, lanjut Tessar, adalah konsistensi informasi. Nama perusahaan, alamat, produk, sertifikasi, dan layanan perlu memiliki keterangan yang selaras di situs resmi maupun sumber lain yang tersedia secara daring. "AI tidak menerima begitu saja apa yang Anda tulis tentang diri sendiri. Ia mencari konfirmasi dari media, direktori, dan riset yang tidak Anda kendalikan," tutur Tessar yang mulai mengenalkan GEO sebagai layanan di Indonesia sejak 2023. Lebih jauh, Tessar yang telah memimpin Arfadia sejak 2008 itu mengatakan ada strategi yang bisa dilakukan menghadapi era AI saat ini. Langkah pertama, sambung dia, biasanya bukan menambah konten melainkan merapikan hal yang sudah ada. "Nama perusahaan, alamat, daftar produk, sertifikasi, dan struktur layanan perlu konsisten di situs, di direktori, dan di profil pihak ketiga, karena mesin AI memastikan dulu keberadaan sebuah perusahaan sebelum menyebutnya," ujarnya. Langkah kedua, disampaikan Anggota Forbes Agency Council itu, bagaimana menjawab pertanyaan yang benar-benar diketik pembeli bukan istilah internal perusahaan. "Langkah ketiga, memastikan informasi penting seperti kapasitas, harga, jadwal, atau syarat layanan tersedia di halaman biasa, bukan hanya di dokumen yang harus diunduh atau di halaman yang meminta pengisian formulir," kata Tessar. Tessar yang masuk daftar Top 10 Leaders in Advertising Services in Indonesia versi CEO Insights Asia itu juga mengenalkan kerangka pengukuran GEO yang disebut RoGEO atau Return on Generative Engine Optimization untuk menghitung frekuensi sitasi, kedalaman referensi, dan atribusi pendapatan. Metodologi tersebut diterbitkan secara terbuka. Tiga laporan riset yang berkaitan dengan kajian tersebut tercatat di Zenodo dengan DOI 10.5281/zenodo.21095254, 10.5281/zenodo.21100366, dan 10.5281/zenodo.21100877. Sejumlah data studi kasus yang telah ditangani pihaknya turut dibeberkan Tessar. Hasilnya, menunjukkan bagaimana kemunculan sebuah brand dalam jawaban AI dapat dihitung. Garuda Yamato Steel, misalnya, disebut tercatat muncul dalam 680 respons AI di enam platform pada bulan ke-20. Sebanyak 269 respons berasal dari Google AI Overviews, sedangkan 97 kata kunci menempatkan situs perusahaan tersebut di posisi pertama pada AI Overview. Data lain berasal dari Toffin Indonesia yang disebut mencatat 334 sitasi AI terverifikasi selama 12 bulan. Rinciannya terdiri atas 219 sitasi di Google AI Overviews, 67 di ChatGPT, 39 di Perplexity, dan 9 di Copilot. Dalam data tersebut tidak terdapat sitasi dari Gemini. Sementara LB LIA, lembaga bahasa Inggris yang sudah lama dikenal secara offline, disebut memperoleh 169 sitasi Google AI Overview selama enam bulan, setelah sebelumnya berada pada angka nol. "Sitasi AI memiliki jeda crawl sekitar dua hingga tiga bulan. Perubahan yang dapat diukur umumnya mulai terlihat sekitar bulan ketiga, sedangkan frekuensi yang lebih konsisten dapat terbentuk dalam rentang empat hingga delapan bulan," ungkap Tessar. Makanya, kata Tessar, ketika ada yang butuh layanan pihaknya menjamin kenaikan dari angka awal dalam enam bulan, yaitu frekuensi sitasi pada panel pertanyaan yang disepakati di awal kontrak untuk GEO, dan peringkat kata kunci yang disepakati untuk SEO. "Kalau belum naik, pekerjaan dilanjutkan tanpa biaya tambahan sampai naik, tanpa janji posisi tertentu, jumlah prospek, atau pendapatan," tutur Founder dan CEO Arfadia Digital Indonesia itu. "Keterbukaan seperti itu bagian dari pekerjaannya. Di kategori yang masih baru, yang paling mudah dijual justru janji, dan yang paling sulit dibuktikan adalah caranya mengukur," kata Tessar menandaskan.