SURABAYA, NETRALNEWS.COM — Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mahasiswa memanfaatkan AI untuk mencari ide tugas, membuat rangkuman, mencari materi, hingga memahami pembahasan yang sulit. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat infrastruktur fisik berupa data center yang membutuhkan energi dan sistem pendingin agar dapat terus beroperasi. Data center merupakan fasilitas yang menampung ribuan hingga jutaan server untuk menjalankan berbagai layanan digital, termasuk layanan AI. Ketika server bekerja melakukan proses komputasi dalam jumlah besar, perangkat menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan. Pada sistem tertentu, air digunakan untuk membantu menjaga suhu perangkat tetap stabil. CNBC Indonesia melaporkan bahwa perkembangan AI meningkatkan kebutuhan air untuk pendinginan data center. World Economic Forum memperkirakan konsumsi air yang berkaitan dengan AI dapat mencapai sekitar 1,7 triliun galon secara global. Besarnya kebutuhan tersebut membuat penggunaan air menjadi salah satu persoalan lingkungan yang mulai diperhatikan seiring pesatnya pembangunan data center. (CNBC Indonesia) Satu Hari, Berapa Banyak Prompt AI dari Mahasiswa? Bagi pengguna, proses tersebut tentu tidak terlihat. Mahasiswa hanya perlu membuka layanan AI dan memberikan prompt sesuai kebutuhan. Dalam sehari, penggunaan AI bisa dilakukan berkali-kali. Pengalaman penggunaan AI, sering dilakukan oleh salah satu mahasiswa yaitu Emil (18) terkait seberapa sering memberikan prompt pada AI dalam sehari. “Sering banget, biasanya aku cari buat referensi tugas, mencari materi, dan bertanya ke AI tentang pembahasan materi. Dalam sehari mungkin aku bisa mengirim prompt ke AI sebanyak 5 kali.” Ungkap Emil saat di wawancarai Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI sudah menjadi bagian dari aktivitas perkuliahan. Semakin banyak pengguna memberikan prompt, semakin besar pula kebutuhan terhadap server dan data center yang menjalankan layanan tersebut. Meski satu prompt tidak dapat langsung dihitung sebagai sejumlah liter air tertentu. Tetapi, penggunaan AI dalam jumlah besar tetap membutuhkan sumber daya untuk menjalankan data center. Ketika Data Center Berdekatan dengan Permukiman Penggunaan air menjadi persoalan yang lebih kompleks ketika data center berada di wilayah yang juga digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air. Salah satu kasus terjadi di Newton County, Georgia, Amerika Serikat. Keluarga Jeff dan Beverly Morris, yang tinggal sekitar 300 meter dari data center Meta, mengeluhkan masalah pada sumur air mereka setelah pembangunan fasilitas tersebut dimulai. Pada September 2026, keluarga tersebut mengajukan gugatan terhadap Meta. Mereka menuduh pembangunan data center berkaitan dengan gangguan pada sumber air mereka. Namun, tuduhan tersebut masih dalam proses hukum dan belum terbukti. Meta membantah bahwa data center menjadi penyebab masalah tersebut. Perusahaan menyatakan fasilitas Stanton Springs tidak menggunakan air tanah dalam operasionalnya dan air diperoleh melalui kerja sama dengan Newton County Water and Sewerage Authority. Meta juga menyebut hasil kajiannya menunjukkan pembangunan maupun pengoperasian data center kemungkinan bukan penyebab masalah air yang dialami keluarga tersebut. Kasus tersebut menunjukkan bahwa penggunaan air oleh data center perlu diperhatikan, terutama ketika fasilitas dibangun di dekat permukiman. Untuk mengetahui dampaknya, diperlukan data dan kajian lingkungan yang jelas. Tantangan Perkembangan AI Perusahaan teknologi mulai mengembangkan sistem pendinginan yang lebih hemat air. Meta, misalnya, menyatakan bahwa beberapa data centernya menggunakan udara luar untuk membantu proses pendinginan serta mendaur ulang air dalam sistem tertentu. Perusahaan juga mengembangkan desain data center AI dengan sistem closed-loop liquid cooling dan dry cooler untuk mengurangi kebutuhan air. Bagi mahasiswa, penggunaan AI memang memberikan banyak kemudahan dalam kegiatan perkuliahan. Namun, di balik setiap prompt terdapat infrastruktur yang membutuhkan listrik, server, sistem pendingin, dan sumber daya lainnya. Karena itu, perkembangan AI tidak hanya perlu dilihat dari kecanggihannya, tetapi juga dari bagaimana teknologi tersebut menggunakan sumber daya dan memberikan dampak terhadap lingkungan. Perkembangan AI di masa depan akan semakin besar. Tantangannya adalah bagaimana teknologi tersebut dapat terus berkembang dengan penggunaan energi dan air yang lebih efisien.